Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
(Dok.  Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)
(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)

Intinya sih...

  • Gameplay My Hero Academia: All’s Justice mengusung format 3v3 dengan mekanik power-up tim yang membuat pertarungan terasa lebih agresif.

  • Game ini tetap terasa seperti arena fighter 3D yang familiar, dengan kontrol dan struktur pertarungan yang sederhana serta karakter yang terasa relatif dangkal.

  • Dalam mode Team Up Mission, pemain dapat menjelajahi kota dan menyelesaikan misi sampingan dengan menggunakan Quirk masing-masing karakter untuk berpindah lokasi di area kota.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

My Hero Academia: All’s Justice akan segera hadir, dan kami di Duniaku.com sudah mendapat kesempatan untuk menjajalnya lebih dulu.

Sebagai game arena fighter 3D terbaru dari semesta My Hero Academia, All’s Justice membawa deretan karakter dari era Final War, fase paling brutal dan menentukan dalam kisah para hero dan villain.

Pertanyaannya, seberapa solid eksekusinya? Apakah game ini benar-benar terasa sebagai klimaks perjalanan panjang seri My Hero Academia di ranah game?

Mari kita bahas bersama.

1. Gameplay-nya seperti apa?

(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)

Secara fondasi, My Hero Academia: All’s Justice masih berdiri di jalur yang familiar bagi pemain seri One’s Justice: arena fighter 3D cepat dengan fokus kombo, mobilitas tinggi, dan aksi Quirk yang eksplosif.

Pertarungan kini mengusung format 3v3, di mana kamu tidak hanya memilih satu karakter utama, tetapi membangun komposisi tim. Pergantian karakter di tengah pertarungan terasa lebih cair, dan kerja sama antar anggota tim jadi faktor penting, baik untuk memperpanjang kombo, mengamankan posisi, maupun menyelamatkan diri dari tekanan lawan.

Mekanik power-up tim menjadi salah satu sorotan. Dalam kondisi tertentu, kamu bisa mengaktifkan mode peningkatan yang membuat ritme pertarungan berubah drastis, serangan jadi lebih cepat, damage meningkat, ada karakter yang memang terlihat memperoleh wujud baru, dan duel sering kali berubah menjadi adu momentum. Jika dieksekusi di saat yang tepat, satu momen ini bisa membalikkan keadaan sepenuhnya.

Dari segi tempo, game ini terasa lebih agresif dibanding pendahulunya.

Ada juga aspek seperti objek tertentu di arena bisa saja hancur.

2. Tapi tetap... ini sekedar arena fighter

(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)

Sayangnya, untuk basic gameplay, My Hero Academia: All’s Justice masih membawa kesan kuat: “ini pada dasarnya tetap arena fighter 3D seperti yang sudah sering kita temui.”

Ada stereotip lama di genre ini, bahwa jika kamu sudah mencoba satu arena fighter bergaya anime, maka kamu kurang lebih sudah merasakan semuanya. All’s Justice memang berusaha memberi variasi lewat roster yang masif, kemampuan Quirk yang berbeda-beda, detail arena yang bisa hancur, serta mekanik 3v3. Namun di luar itu, fondasi permainannya masih sangat familiar.

Kontrol dan struktur pertarungan terasa sederhana, dengan mekanik dasar yang minim kedalaman, lalu diperkaya oleh gimmick sebagai pemanis. Hasilnya, meski jumlah karakter di sini adalah yang terbanyak sepanjang seri game MHA, masing-masing karakter terasa relatif dangkal jika dilihat dari sudut pandang game fighting, perbedaannya lebih banyak di presentasi dan jurus spesial, bukan pada kompleksitas permainan.

Ini adalah tipe game yang sangat ramah untuk pemain kasual. Kamu bisa mabar santai, mengulang momen-momen ikonik My Hero Academia, menyusun tim husbando atau waifu favorit, menikmati cutscene sinematik, dan memamerkan jurus Plus Ultra tiap karakter (ultimate dengan damage besar dan visual bombastis yang jelas jadi highlight).

Namun setelah fase eksplorasi itu selesai, ada risiko All’s Justice terasa cepat habis. Bahkan dengan sekali bermain versus CPU atau mode 2P, pemain sudah bisa menangkap dengan jelas seperti apa pola dan ritme pertarungannya. Bagi sebagian pemain, terutama yang mencari kedalaman mekanik atau alasan jangka panjang untuk terus kembali, ini bisa menjadi titik lemah utama.

3. Eksplorasi kota di Team Up Mode

(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)

Dalam mode Team Up Mission, pemain berperan sebagai siswa Kelas 1-A U.A. yang menjalani simulasi aktivitas kepahlawanan di ruang virtual. Konsepnya sederhana: gunakan Quirk masing-masing karakter untuk menyelesaikan misi dan berpindah lokasi di area kota.

Seperti yang sempat dipromosikan di PlayStation Blog, pemain bisa “menggunakan Quirk siswa Kelas 1-A untuk melakukan gerakan parkour dan berbagai misi.” Dan untuk sekali ini, promosi tersebut bukan sekadar kalimat pemasaran.

Eksplorasi kota ini terasa… unik.

Menggunakan Blackwhip untuk berayun dari gedung ke gedung memberi sensasi mobilitas yang berbeda dibanding sekadar dash di arena. Rasanya sudah seperti memainkan Deku sebagai Spider-Man. Begitu pula dengan Ochako, yang bisa mengudara untuk mencapai titik-titik tinggi dengan cara yang lebih vertikal dan bebas.

Seiring progres, Team-Up Mission juga membuka karakter seperti Bakugo dan Todoroki, masing-masing dengan gaya mobilitas berbeda. Hasilnya, eksplorasi ini bukan cuma soal berpindah dari titik A ke B, tapi juga menjadi ruang kecil bagi identitas tiap karakter untuk terasa di luar pertarungan.

Menariknya, walau secara fungsi fitur ini “hanya” mempermudah mobilitas menuju lokasi misi, justru bagian inilah yang terasa paling segar. Ada sensasi menjadi hero yang sedang berpatroli di kota.

Ironisnya, pengalaman itu sering terputus begitu misi dimulai. Setelah menikmati ayunan atau lompatan di atap gedung, pemain akan masuk ke pertarungan arena 3D yang kembali ke pola familiar. Perpindahan ini terasa seperti whiplash: dari traversal yang ekspresif dan bebas, kembali ke duel tertutup dengan ritme yang sudah bisa ditebak.

4. Misi sampingan Team Up Mission Justru Menegaskan Masalah Core Gameplay

(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)

Team-Up Mission sebenarnya tidak hanya berisi pertarungan standar “hajar hero atau villain di arena.” Ada variasi objektif yang cukup beragam: melindungi warga agar tidak terkena satu serangan pun, mengalahkan musuh dalam batas waktu sangat sempit, atau menyelesaikan tantangan tanpa menerima damage.

Di atas kertas, ini ide yang bagus. Variasi objektif seperti ini seharusnya memberi napas segar dan memaksa pemain beradaptasi.

Namun dalam praktiknya, misi-misi opsional ini justru mempertegas satu hal: fondasi arena fighting-nya memang bermasalah.

Ruang antar karakter yang terasa terlalu longgar membuat serangan ke musuh generic sering kali meleset dengan canggung. Whiff yang menyedihkan ini mungkin masih bisa dimaklumi dalam duel 3v3 biasa, tapi menjadi sangat terasa ketika kamu harus menjaga NPC yang tidak boleh terkena satu pukulan pun.

Gameplay yang dibangun untuk duel dua tim terasa kurang fleksibel ketika dipaksa menghadapi skenario crowd control atau objective-based mission. Menghadapi musuh berkelompok bukan terasa menegangkan, melainkan terasa janggal, seolah sistemnya tidak benar-benar dirancang untuk situasi tersebut.

Upaya membuat Team-Up Mission lebih variatif tentu patut diapresiasi. Secara desain, ini langkah yang tepat agar mode tersebut tidak monoton.

Namun ironisnya, justru lewat misi-misi inilah kekurangan sistem pertarungan semakin terekspos. Tantangan tambahan tidak membuat gameplay terasa lebih dalam, melainkan membuat batasannya semakin terlihat.

Semakin lama menjalankan misi-misi ini, sensasinya perlahan berubah. Dari yang awalnya terasa seperti variasi menarik, menjadi rutinitas yang repetitif bukan karena objektifnya buruk, tetapi karena sistem dasarnya tidak cukup kuat untuk menopang variasi tersebut.

5. Pilihan mode

(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)

My Hero Academia: All’s Justice menghadirkan cukup banyak mode untuk dimainkan, masing-masing dengan pendekatan berbeda dalam memanfaatkan IP-nya.

Team Up Mission menjadi salah satu mode utama. Di sini pemain bisa menjelajahi kota, menyelesaikan misi sampingan, serta merekrut karakter sebagai assist untuk mempermudah progres. Mode ini juga menjadi ruang eksplorasi traversal unik tiap karakter, yang justru terasa lebih segar dibanding sekadar duel arena.

Story Mode memungkinkan pemain menikmati kembali kisah My Hero Academia, kali ini dalam format pertarungan. Fokusnya adalah Final War Arc, dimulai dari konflik melawan Himiko Toga hingga momen-momen besar seperti pertarungan melawan Dabi dan Shigaraki. Ini jelas menjadi selling point utama bagi penggemar yang ingin “mengalami ulang” klimaks cerita dalam bentuk interaktif.

Selain itu ada Archive Mode, yang menghadirkan kembali momen-momen ikonis sebelum Final War. Mode ini semacam nostalgia package, memberi kesempatan untuk memainkan ulang konflik besar dari arc sebelumnya, kadang dengan tantangan menarik.

Untuk yang ingin langsung bertarung, tersedia Network Mode sebagai multiplayer online, serta Free Battle untuk duel bebas melawan CPU atau teman secara lokal.

Lalu ada Memory Mode, yang menyajikan interaksi orisinal Kelas 1-A dalam cerita tambahan. Memang, sebagian besar kontennya terasa seperti filler. Namun tetap menyenangkan melihat dinamika santai antar siswa di luar konflik besar. Mode ini juga mendorong pemain untuk terus memainkan Team Up Mission demi membuka lebih banyak karakter dan mengakses memorinya.

Dari struktur ini saja sudah terasa jelas: All’s Justice adalah game yang dirancang terutama untuk penggemar My Hero Academia. Ia berfungsi sebagai perayaan seri, bukan sebagai reinventor genre.

6. Masalah dalam penyajian cerita

(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)

Namun ada satu catatan penting dalam penyajiannya.

Baik Story Mode maupun Archive Mode sebagian besar disampaikan dalam format slideshow dari screenshot anime, dengan hanya beberapa bagian dianimasikan menggunakan model in-game.

Yang disajikan dengan model in-game ada yang terasa cukup epik, tapi yang dari screenshot anime ya... ya slideshow bersuara.

Untuk cerita yang sudah sangat dikenal, terutama Final War Arc, presentasi seperti ini terasa kurang menggugah.

Alih-alih memberi pengalaman ulang yang lebih dramatis, formatnya kadang justru memunculkan pikiran sederhana: “Kalau begitu, mungkin lebih baik menonton ulang animenya saja.”

Bukan karena ceritanya tidak kuat, tetapi karena adaptasi visualnya terasa minim usaha untuk membuat momen tersebut benar-benar terasa baru atau lebih imersif dibanding medium aslinya.

7. Kesimpulan

(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)

Saya memberikan My Hero Academia: All’s Justice nilai 2,5 dari 5 bintang.

Masalah utamanya kembali ke fondasi. Core gameplay yang mengusung arena fighting 3D gaya anime terasa terlalu familiar, dengan tambahan fitur yang lebih menyerupai gimmick ketimbang evolusi berarti. Game ini tidak benar-benar membawa sesuatu yang baru untuk genre ini, hanya memperluasnya secara horizontal lewat roster dan mode.

Ironisnya, ketika Team-Up Mission mencoba menghadirkan variasi objektif seperti misi dengan batasan kemampuan, time limit ketat, atau kewajiban melindungi NPC, kelemahan sistem pertarungan justru semakin terlihat. Spacing yang janggal, lock-on yang kurang fleksibel dalam situasi keroyokan, dan struktur duel yang terlalu dirancang untuk 3v3 arena membuat variasi tersebut terasa seperti tekanan tambahan pada fondasi yang sudah rapuh.

Di satu titik, saya sempat berpikir: “Mungkin ini memang game yang ditujukan khusus untuk fans?”

Dan ya, untuk penggemar My Hero Academia, ada hal-hal yang bisa dinikmati. Character Memory memberi ruang melihat interaksi unik antar karakter, sesuatu yang tidak selalu hadir di cerita utama. Traversal di Team-Up Mission juga memberi sensasi kecil menjadi hero yang berpatroli di kota.

Namun di sisi lain, penyajian cerita yang sebagian besar berbentuk slideshow di Story dan Archive Mode membuat pengalaman ulang Final War terasa kurang menggigit. Sementara itu, proses membuka karakter demi mengakses konten Memory juga bisa terasa repetitif.

Akhirnya muncul pertanyaan yang cukup jujur: bahkan untuk fans sekalipun, apakah daya tariknya cukup kuat untuk bertahan lama?

Saya sebenarnya ingin menyukai game ini. Sebuah game yang memungkinkan saya memainkan karakter favorit seperti Mirko, Lady Nagant, dan Midnight secara teori sudah layak mendapat tambahan poin hanya karena bias pribadi. Tapi di luar fanservice dan momen sinematik, saya tidak bisa mengabaikan kelemahan desain yang terus terasa sepanjang permainan.

All’s Justice bukan game yang buruk. Ia adalah game yang aman (mungkin terlalu aman) di genre yang sudah lama stagnan. Bagi fans yang hanya ingin merayakan karakter favoritnya, game ini bisa cukup. Namun bagi yang mencari kedalaman, evolusi, atau alasan untuk kembali bermain dalam jangka panjang, jawabannya mungkin tidak sekuat yang diharapkan.

My Hero Academia: All's Justice
2.5/5
Rasakan klimaks pertempuran para pahlawan dan penjahat dalam My Hero Academia: All’s Justice , game arena fighter 3D terbaru yang menghadirkan karakter-karakter terkuat dari era Final War My Hero Academia!
GenreFighting
DevelopersByking Inc.
PublisherBandai Namco Entertainment Inc.
PlatformPlayStation 5, Xbox Series X/S, PC
PriceRp. 599

System Requirement My Hero Academia: All's Justice

Operating System

Windows 11

Processor

Intel i5-10600K (4.1 GHz) / AMD Ryzen 5 3600 XT (3.8 GHz)

Memory

8 GB RAM

GPU

NVIDIA GTX 1660 Ti (6 GB) / AMD Radeon RX 5600 XT (6 GB)

DirectX

Version 12

Storage

20 GB available space

Editorial Team