(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)
Saya memberikan My Hero Academia: All’s Justice nilai 2,5 dari 5 bintang.
Masalah utamanya kembali ke fondasi. Core gameplay yang mengusung arena fighting 3D gaya anime terasa terlalu familiar, dengan tambahan fitur yang lebih menyerupai gimmick ketimbang evolusi berarti. Game ini tidak benar-benar membawa sesuatu yang baru untuk genre ini, hanya memperluasnya secara horizontal lewat roster dan mode.
Ironisnya, ketika Team-Up Mission mencoba menghadirkan variasi objektif seperti misi dengan batasan kemampuan, time limit ketat, atau kewajiban melindungi NPC, kelemahan sistem pertarungan justru semakin terlihat. Spacing yang janggal, lock-on yang kurang fleksibel dalam situasi keroyokan, dan struktur duel yang terlalu dirancang untuk 3v3 arena membuat variasi tersebut terasa seperti tekanan tambahan pada fondasi yang sudah rapuh.
Di satu titik, saya sempat berpikir: “Mungkin ini memang game yang ditujukan khusus untuk fans?”
Dan ya, untuk penggemar My Hero Academia, ada hal-hal yang bisa dinikmati. Character Memory memberi ruang melihat interaksi unik antar karakter, sesuatu yang tidak selalu hadir di cerita utama. Traversal di Team-Up Mission juga memberi sensasi kecil menjadi hero yang berpatroli di kota.
Namun di sisi lain, penyajian cerita yang sebagian besar berbentuk slideshow di Story dan Archive Mode membuat pengalaman ulang Final War terasa kurang menggigit. Sementara itu, proses membuka karakter demi mengakses konten Memory juga bisa terasa repetitif.
Akhirnya muncul pertanyaan yang cukup jujur: bahkan untuk fans sekalipun, apakah daya tariknya cukup kuat untuk bertahan lama?
Saya sebenarnya ingin menyukai game ini. Sebuah game yang memungkinkan saya memainkan karakter favorit seperti Mirko, Lady Nagant, dan Midnight secara teori sudah layak mendapat tambahan poin hanya karena bias pribadi. Tapi di luar fanservice dan momen sinematik, saya tidak bisa mengabaikan kelemahan desain yang terus terasa sepanjang permainan.
All’s Justice bukan game yang buruk. Ia adalah game yang aman (mungkin terlalu aman) di genre yang sudah lama stagnan. Bagi fans yang hanya ingin merayakan karakter favoritnya, game ini bisa cukup. Namun bagi yang mencari kedalaman, evolusi, atau alasan untuk kembali bermain dalam jangka panjang, jawabannya mungkin tidak sekuat yang diharapkan.
| Genre | Fighting |
| Developers | Byking Inc. |
| Publisher | Bandai Namco Entertainment Inc. |
| Platform | PlayStation 5, Xbox Series X/S, PC |
| Price | Rp. 599 |
System Requirement My Hero Academia: All's Justice
Operating System | Windows 11 |
|---|
Processor | Intel i5-10600K (4.1 GHz) / AMD Ryzen 5 3600 XT (3.8 GHz) |
|---|
Memory | 8 GB RAM |
|---|
GPU | NVIDIA GTX 1660 Ti (6 GB) / AMD Radeon RX 5600 XT (6 GB) |
|---|
DirectX | Version 12 |
|---|
Storage | 20 GB available space |
|---|
Galeri My Hero Academia: All's Justice
(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)
(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)
(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)
(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)
(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)
(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/My Hero Academia: All's Justice)