Duniaku.com sudah dapat kesempatan main Code Vein II duluan nih.
Gimana kesan kami soal sekuel dari game yang dulu dibilang "Soulslike tapi anime" ini?
Mari kita bahas!

Character creation yang detail dan memungkinkan variasi karakter anime
Dunia post-apokaliptik luas dengan eksplorasi yang memberikan reward penting
Banyak boss battle yang kurang memuaskan dan terasa repetitif
Duniaku.com sudah dapat kesempatan main Code Vein II duluan nih.
Gimana kesan kami soal sekuel dari game yang dulu dibilang "Soulslike tapi anime" ini?
Mari kita bahas!
Bagi kamu yang menyukai estetika anime dan ingin game yang memungkinkan membuat husbando atau waifu versimu sendiri, Code Vein II bisa dengan mudah menyita banyak waktu hanya di menu character creation.
Sistem kustomisasinya tergolong dalam, dengan banyak opsi detail yang memungkinkan pemain menciptakan beragam tipe karakter. Bahkan dari sejumlah template awal saja, sudah terasa ada yang mengingatkan pada karakter-karakter populer, tentu tanpa perlu meniru secara mentah.
Dalam pengalaman saya pribadi, karakter yang saya buat hanya perlu sedikit penyesuaian untuk berubah menjadi semacam “Undead Mikasa Ackerman”. Siluet dan auranya terasa seperti Mikasa Attack on Titan, meski dengan kulit yang lebih pucat.
Menariknya, ini adalah hasil sederhana saya yang tergolong kurang kreatif dalam urusan character creation. Jika kamu termasuk pemain yang gemar bereksperimen dan paham memaksimalkan tools yang tersedia, potensi karakter yang bisa diciptakan di Code Vein II terasa nyaris tak terbatas.
Code Vein II menghadirkan dunia post-apokaliptik yang terasa cukup luas untuk sebuah game bergaya soulslike. Ketika akses eksplorasi mulai terbuka, pemain bahkan diberikan kendaraan sepeda motor untuk mempercepat perjalanan antar area.
Eksplorasi di sini juga bukan sekadar pelengkap. Menjelajah area di luar dungeon bisa menghadiahkan berbagai item penting, mulai dari material untuk upgrade senjata, peningkatan efektivitas item penyembuh, hingga penambahan jumlah healing item yang bisa dibawa.
Saya sendiri sempat mengalami momen terjebak cukup lama pada satu boss utama. Ironisnya, setelah boss tersebut akhirnya tumbang dan saya melanjutkan eksplorasi demi menyelesaikan side quest, saya justru menemukan item yang meningkatkan kemampuan healing. Ada kemungkinan besar, andai eksplorasi dilakukan lebih teliti sebelum pertarungan tersebut, jalannya boss battle akan terasa jauh lebih ringan.
Karena itu, jika kamu merasa mentok menghadapi boss tertentu, menjelajah dunia terlebih dahulu bisa jadi bukan ide yang buruk.
Dalam game soulslike, boss adalah nyawa utama. Rasa frustrasi yang bercampur dengan penasaran, kegagalan berulang yang perlahan berubah menjadi pemahaman, lalu diakhiri katarsis ketika akhirnya menang... itulah siklus yang biasanya membuat pemain terus bertahan.
Sayangnya, di Code Vein II, cukup banyak boss battle yang gagal menghadirkan sensasi tersebut.
Salah satu masalah utamanya adalah banyaknya boss yang pada dasarnya merupakan musuh reguler (atau justru akan menjadi musuh reguler setelahnya) yang sekadar diberi health bar khusus, dibuff agar lebih tanky, lalu diposisikan sebagai boss. Di awal permainan, pendekatan ini mungkin masih terasa bisa diterima. Namun mengingat durasi Code Vein II yang bisa mencapai sekitar 40 jam (tergantung gaya bermain), repetisi ini lama-kelamaan terasa melelahkan.
Ketika kamu mengerjakan side quest dan kembali bertemu boss dengan pola “kamu lagi, kamu lagi”, pertarungan opsional tersebut sering kali berubah menjadi formalitas semata. Tidak ada lagi rasa tegang menghadapi ancaman besar, apalagi karena kamu sudah benar-benar memahami moveset mereka, mengingat musuh yang sama kerap muncul sebagai musuh biasa di world map maupun dungeon. Rasa terbiasa ini datang terlalu cepat.
Mungkin ada yang bertanya, “Bukankah Elden Ring juga sering me-reuse boss untuk dungeon opsional?”
Dan ya, itu benar.
Namun dibanding Elden Ring (yang mau tidak mau jadi pembanding karena sama-sama soulslike dengan dunia relatif luas) variasi boss opsional di Code Vein II terasa lebih terbatas. Terutama karena banyak boss opsionalnya secara terang-terangan adalah versi upscaled dari musuh reguler yang akan kamu temui berkali-kali.
Lalu bagaimana dengan boss utama?
Di sisi desain, boss utama memang biasanya memiliki tampilan dan moveset yang lebih unik. Namun sensasi unik tersebut, bagi saya, tidak selalu berujung pada pengalaman yang menyenangkan.
Dalam soulslike, ada momen yang sangat khas: titik “pencerahan”, ketika setelah kalah berkali-kali kamu akhirnya memahami pola serangan musuh dan mulai bereaksi dengan presisi. Di Code Vein II, ketika momen ini tercapai, banyak boss battle justru terasa… sluggish dan kurang fluid.
Tantangan sering kali datang bukan dari desain serangan yang cerdas, melainkan dari musuh yang terasa terlalu tanky, bahkan kadang kelewat tanky, meski senjata sudah di-upgrade dan level karakter berada di angka yang terasa wajar. Akibatnya, kemenangan tidak memberi rasa katarsis, melainkan sekadar kelegaan: “Ah, akhirnya selesai juga.”
Dan untuk sebuah game soulslike, itu bukan sensasi yang ideal.
Di Code Vein II, pemain tidak pernah benar-benar sendirian. Sistem partner kembali hadir, memungkinkan kamu ditemani berbagai karakter yang bisa diganti sesuai kebutuhan. Menariknya, banyak dari partner ini bukan sekadar “NPC pendamping”, melainkan karakter dengan desain visual kuat dan penokohan yang cukup berkesan.
Dari sisi cerita, Code Vein II memperkenalkan mekanisme perjalanan waktu sebagai fondasi naratif utamanya. Bersama partner bernama Lou, pemain dapat kembali ke masa lalu untuk mengubah peristiwa tertentu dan mencegah munculnya ancaman besar yang dikenal sebagai Resurgence.
Sejak awal permainan, pendekatan ini langsung menghadirkan situasi yang menggugah rasa penasaran. Sosok yang seharusnya telah mati di masa lalu bisa kamu selamatkan, membuka kemungkinan perubahan takdir yang terasa signifikan bagi dunia dan karakternya.
Mekanisme ini menciptakan dinamika naratif yang menarik. Bayangkan jika game seperti Dark Souls memberi kesempatan untuk bertemu, mengenal, dan bahkan bertarung bersama sosok tragis seperti Artorias di masa lalu. Berinteraksi dengan mereka, mengerjakan misi dengan mereka, memahami sifat dan latar belakang mereka. Lalu ketika kembali ke masa kini, kamu tetap harus menghadapi versi mereka yang telah sepenuhnya ditelan kegelapan.
Code Vein II berani memainkan skenario semacam itu pada beberapa boss utama, menambahkan lapisan tragedi yang memperkaya pengalaman bertarung. Pertanyaannya kemudian bukan hanya soal mengalahkan mereka, tetapi juga: apakah takdir kelam itu benar-benar tak bisa diubah?
Jawabannya? Itu lebih baik kamu temukan sendiri.
Code Vein II menawarkan fleksibilitas build yang cukup luas melalui beragam pilihan senjata dan sistem skill. Pemain bisa melengkapi karakter dengan berbagai senjata utama, senjata Jail yang berfungsi menyerap Ichor dari musuh (sumber daya untuk mengaktifkan skill khusus yang disebut Formae), serta Blood Codes yang menentukan statistik dan kecenderungan gaya bermain karakter.
Senjata-senjata ini juga dapat dikustomisasi melalui sistem Formae. Umumnya, sebuah senjata sudah dilengkapi dua Formae bawaan, sementara slot lainnya bisa kamu isi sesuai kebutuhan. Memilih kombinasi Blood Code dan Formae yang tepat dapat memberi dampak signifikan, terutama saat menghadapi boss tertentu atau musuh di area spesifik.
Dalam sekitar 10 jam pertama permainan, saya pribadi cukup nyaman menggunakan pedang satu tangan dengan serangan lompat yang sangat kuat. Mengingat banyak boss berukuran besar, serangan lompat ini sangat berisiko tapi terasa efektif untuk memberi damage konsisten. Ketika saya menambahkan Formae yang memungkinkan karakter melesat cepat lalu melancarkan dua tebasan beruntun untuk menutup jarak, kemampuan tersebut bahkan sempat menjadi crutch utama di fase awal permainan.
Variasinya tidak berhenti di situ. Tersedia pula Bequeathed Formae, yakni senjata khusus dengan beragam efek, serta Defensive Formae yang membuka opsi bertahan beragam, mulai dari tameng konvensional, alat untuk melakukan parry, hingga teknik evasion unik.
Sekilas, semua ini mungkin terdengar rumit. Namun sistemnya akan jauh lebih mudah dipahami ketika kamu mencobanya langsung di dalam game. Begitu mulai menguasai kombinasi senjata, Blood Code, dan Formae, deretan musuh yang sebelumnya terasa menantang bisa dilibas dengan jauh lebih efisien.
Atau, jika kamu cukup kreatif, kamu bahkan bisa menemukan kombinasi Formae tertentu untuk nge-cheese musuh, menjatuhkan mereka dengan cara yang jauh lebih mudah dibandingkan pendekatan “standar”.
Dalam game seperti Code Vein II, eksplorasi dungeon dan perjalanan menuju boss seharusnya menjadi tulang punggung pengalaman bermain. Dungeon bukan sekadar jalur menuju pertarungan besar, tetapi ruang yang membangun tensi, ritme, dan identitas dunia.
Sayangnya, bagi saya, banyak dungeon di Code Vein II, termasuk dungeon utama, terasa hambar dari sisi penyajian, desain visual, maupun struktur level-nya. Tata ruangnya kerap terasa fungsional semata, tanpa momen yang benar-benar melekat di ingatan atau memaksa pemain untuk membaca ulang ruang dengan cara yang menarik.
Perlu digarisbawahi, ini bukan keluhan yang ditujukan pada dungeon opsional. Justru dungeon utama pun kerap gagal meninggalkan kesan kuat, sehingga proses menjelajah sering terasa seperti kewajiban yang harus dilalui sebelum bertemu boss, bukan perjalanan yang dinikmati dengan penuh rasa penasaran.
Ketika desain dungeon utama saja sudah terasa datar, dungeon opsional tentu terasa lebih hambar lagi. Alih-alih memberi kejutan atau tantangan unik, banyak di antaranya sekadar memperpanjang waktu bermain tanpa menawarkan pengalaman eksplorasi yang benar-benar berarti.
Izinkan saya sedikit rant soal elevator di Code Vein II, karena ini detail kecil yang entah kenapa justru terasa sangat mengganggu.
Sebagai pemain Dark Souls, kamu pasti familier dengan satu kebiasaan klasik. Ketika dari bonfire menuju boss kamu harus naik elevator, ada refleks yang hampir otomatis: begitu elevator sampai, sebelum masuk arena boss, kamu injak lagi pressure plate-nya supaya elevator naik… lalu kamu cepat-cepat turun.
Efeknya sederhana tapi krusial.
Kalau kamu kalah (dan di soulslike, kamu pasti sering kalah) elevator sudah siap menunggu. Tidak ada waktu terbuang. Tidak ada friksi yang tidak perlu.
Masalahnya, trik kecil yang sudah seperti muscle memory ini… tidak bisa dilakukan di Code Vein II.
Di sini, pressure plate elevator baru bisa diaktifkan kembali setelah kamu benar-benar turun. Dan ketika kamu menginjaknya lagi, kamu langsung terkunci di dalam elevator yang sedang bergerak naik atau turun. Tidak ada kesempatan untuk “menyiapkan” elevator sebelum boss fight.
Artinya?
Setiap kali kamu mati melawan boss, kamu harus:
menarik tuas,
menunggu elevator datang,
masuk lagi ke elevator lalu naik/turun ke area boss.
Bukan tantangan. Bukan ketegangan. Hanya jeda yang memperpanjang rasa frustrasi.
Yang bikin saya benar-benar bingung: ini adalah fitur kecil yang sudah sangat khas soulslike, sudah teruji bertahun-tahun, dan secara teknis seharusnya sangat mudah diimplementasikan. Detail semacam ini justru penting karena ia menunjukkan apakah sebuah game benar-benar memahami ritme trial and error yang menjadi inti genre ini.
Ketika detail sekecil elevator saja terasa “tidak ramah” pada pemain, itu memperkuat kesan bahwa Code Vein II sering kali kurang peka pada aspek-aspek fundamental yang membuat soulslike terasa tajam, efisien, dan adil.
Jika kamu membaca review ini sampai sini, kamu mungkin sudah menyadari betapa uniknya Code Vein II. Ini adalah game dengan identitas yang cukup jelas, namun juga dengan kontradiksi yang sulit diabaikan.
Di satu sisi, Code Vein II menawarkan cerita yang menarik dengan deretan karakter yang memikat. Jika kamu tidak keberatan dengan penyajian narasi dan berbagai trope ala anime, ada banyak hal di sini yang bisa membuatmu penasaran untuk terus melanjutkan permainan. Sistem character creation-nya pun layak disebut sebagai salah satu yang terbaik di kelasnya.
Namun di sisi lain, game ini justru terasa kurang kuat pada aspek yang paling mendasar untuk sebuah soulslike: desain dungeon dan kualitas boss battle. Dua elemen yang seharusnya menjadi tulang punggung pengalaman, justru kerap menjadi titik terlemah.
Ironisnya, sistem Formae dan variasi senjata yang sebenarnya kaya (dan terasa menyenangkan ketika kamu menemukan kombinasi yang pas) justru ikut menonjolkan masalah tersebut. Begitu kamu menemukan Formae yang efektif untuk melukai boss dan sudah memahami pola pergerakan musuh, kemenangan sering kali berubah menjadi soal kesabaran semata: menunggu health bar musuh yang tanky perlahan terkikis, sambil berharap tidak terganggu kamera yang rewel atau terkena hitbox serangan yang terasa janggal.
Saat memainkan Code Vein II untuk keperluan review ini, saya benar-benar penasaran ke mana arah ceritanya akan dibawa dan bagaimana nasib karakter-karakter tertentu. Sayangnya, untuk sampai ke sana, saya harus melewati dungeon dan boss battle yang lebih sering menguji kesabaran dibandingkan memicu adrenalin atau rasa tegang.
Pada akhirnya, saya memberikan Code Vein II nilai 3 dari 5. Ini bukan game yang sepenuhnya buruk, dia ini memiliki sejumlah keunggulan yang nyata dan layak diapresiasi. Namun kelemahan terbesarnya justru berada di area yang seharusnya menjadi kekuatan utama sebuah game soulslike.
| Genre | Action RPG |
| Developers | Bandai Namco Studios |
| Publisher | Bandai Namco Entertainment |
| Platform | PlayStation 5, Windows, Xbox Series X/S |
| Price | Rp. 699 |
Operating System | Windows 11 |
|---|---|
Processor | Intel Core i5-9600K /AMD Ryzen 5 3600 |
Memory | 16 GB RAM |
GPU | Nvidia GeForce GTX 1660 Super / AMD Radeon RX 5700 / Intel Arc B570 |
DirectX | Version 12 |
Storage | 70 GB available space |