Stranger Than Heaven. Dok. SEGA Ryu Ga Gotoku Studio
Demo TGS tentu hanya memberikan potongan kecil dari pengalaman Stranger Than Heaven. Namun, justru dari potongan tersebut saya merasa ada banyak hal yang ingin diketahui lebih jauh mengenai kehidupan Daito.
Game ini bukan hanya tentang berkelahi. Kehidupan Daito juga berkaitan dengan eksplorasi, makanan, hiburan, dan aktivitas lain yang dapat memengaruhi perkembangan karakter di setiap era. Sistem tersebut membuat perjalanan Daito terasa seperti sesuatu yang berlangsung dalam jangka panjang, bukan sekadar rangkaian pertarungan dari satu lokasi ke lokasi berikutnya.
Ada pula elemen showbiz yang menjadi salah satu bagian unik dari game ini. Daito tidak hanya harus bertahan hidup melalui kekerasan, tetapi juga menggunakan kemampuan sebagai seorang showman untuk membangun kehidupannya. Kontras antara sisi brutal dan sisi pertunjukan inilah yang menurut saya membuat Stranger Than Heaven terasa cukup berbeda dari game RGG Studio lainnya.
Setelah mencoba langsung di Tokyo Game Show 2026, saya merasa Stranger Than Heaven punya identitas yang cukup kuat untuk berdiri sendiri. Combat-nya memang membutuhkan adaptasi, terutama kalau sudah terbiasa dengan pola pertarungan game Like a Dragon, tetapi justru itu yang membuat pengalaman bermainnya terasa baru.
Demo singkat ini tentu belum cukup untuk mengetahui bagaimana lima era tersebut akan terhubung dalam cerita penuh atau seberapa dalam seluruh sistem kehidupannya ketika dimainkan berjam-jam. Namun, setelah meninggalkan booth SEGA/ATLUS di TGS 2026, saya justru merasa penasaran dengan satu hal, seperti apa perjalanan Daito ketika seluruh lima dekade kehidupannya akhirnya bisa dimainkan? Kita nantikan setelah sudah rilis.