Screenshot Stranger Than Heaven. (Dok. RGG Studio, SEGA/Stranger Than Heaven)
Era 1915 — Kokura, Fukuoka
Makoto memulai perjalanannya di Kokura, Fukuoka.
Wilayah ini dikenal sebagai rumah bagi salah satu pabrik baja terbesar di dunia pada masanya, dipenuhi para pekerja keras dan atmosfer industrial yang kasar.
Era 1929 — Kure, Hiroshima
Latar berpindah ke Kure, Hiroshima.
Di sana berdiri salah satu galangan kapal angkatan laut terbesar Jepang, namun kota ini juga disebut berada di bawah pengaruh kuat kejahatan terorganisir.
Era 1943 — Osaka Minami
Selanjutnya cerita bergerak ke Minami, Osaka.
Distrik hiburan terbesar di Jepang barat itu menjadi panggung cerita di tengah meningkatnya ketegangan global akibat perang.
Era 1951 — Atami, Shizuoka
Setelah perang usai, cerita membawa pemain ke Atami, Shizuoka.
Wilayah ini berkembang sebagai pusat aktivitas pascaperang sekaligus destinasi wisata yang mulai populer di Jepang.
Era 1965 — Shinjuku, Tokyo
Era terakhir membawa Makoto ke Shinjuku, Tokyo.
Distrik hiburan yang hingga kini masih ikonik itu digambarkan sebagai kota penuh kekacauan, energi, dan perubahan sosial besar.
Yang menarik dari pilihan latar dan periode waktunya adalah pemain akan menyaksikan langsung transformasi Jepang dari era industrial awal, masa perang, hingga kebangkitan modern Jepang pascaperang.
Karena itulah atmosfer Stranger Than Heaven terasa sangat berbeda dibanding Like a Dragon modern.
Kalau seri Yakuza/Like a Dragon sebelumnya identik dengan Kamurocho neon penuh bisnis dan intrik modern, game ini justru terasa seperti drama kriminal historis yang menelusuri kelahiran dunia yakuza itu sendiri.