Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Hal Menarik yang Terungkap Soal Gameplay Stranger Than Heaven!
Screenshot Stranger Than Heaven. (Dok. RGG Studio, SEGA/Stranger Than Heaven)
  • Stranger Than Heaven menampilkan perjalanan Makoto melintasi lima kota dan era berbeda, menggambarkan transformasi Jepang dari masa industrial awal hingga kebangkitan modern pascaperang.
  • Sistem pertarungan menghadirkan aksi jalanan brutal dan realistis, dengan mekanik serangan tangan bebas serta penggunaan berbagai senjata yang menciptakan nuansa yakuza klasik penuh intensitas.
  • Aspek show business menjadi elemen utama cerita, di mana Makoto mengeksplorasi dunia hiburan dan musik bersama kolaborasi artis global untuk membangun karier panggungnya di berbagai era.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ada sejumlah hal menarik yang terungkap soal gameplay Stranger Than Heaven.

Dan semakin banyak detailnya muncul, semakin terasa kalau game terbaru Ryu Ga Gotoku Studio ini akan sangat berbeda dibanding seri Like a Dragon yang biasa mereka garap.

Apa saja yang menarik?

Mari kita bedah!

1. Lima Kota, Lima Era

Screenshot Stranger Than Heaven. (Dok. RGG Studio, SEGA/Stranger Than Heaven)

Era 1915 — Kokura, Fukuoka

Makoto memulai perjalanannya di Kokura, Fukuoka.

Wilayah ini dikenal sebagai rumah bagi salah satu pabrik baja terbesar di dunia pada masanya, dipenuhi para pekerja keras dan atmosfer industrial yang kasar.

Era 1929 — Kure, Hiroshima

Latar berpindah ke Kure, Hiroshima.

Di sana berdiri salah satu galangan kapal angkatan laut terbesar Jepang, namun kota ini juga disebut berada di bawah pengaruh kuat kejahatan terorganisir.

Era 1943 — Osaka Minami

Selanjutnya cerita bergerak ke Minami, Osaka.

Distrik hiburan terbesar di Jepang barat itu menjadi panggung cerita di tengah meningkatnya ketegangan global akibat perang.

Era 1951 — Atami, Shizuoka

Setelah perang usai, cerita membawa pemain ke Atami, Shizuoka.

Wilayah ini berkembang sebagai pusat aktivitas pascaperang sekaligus destinasi wisata yang mulai populer di Jepang.

Era 1965 — Shinjuku, Tokyo

Era terakhir membawa Makoto ke Shinjuku, Tokyo.

Distrik hiburan yang hingga kini masih ikonik itu digambarkan sebagai kota penuh kekacauan, energi, dan perubahan sosial besar.

Yang menarik dari pilihan latar dan periode waktunya adalah pemain akan menyaksikan langsung transformasi Jepang dari era industrial awal, masa perang, hingga kebangkitan modern Jepang pascaperang.

Karena itulah atmosfer Stranger Than Heaven terasa sangat berbeda dibanding Like a Dragon modern.

Kalau seri Yakuza/Like a Dragon sebelumnya identik dengan Kamurocho neon penuh bisnis dan intrik modern, game ini justru terasa seperti drama kriminal historis yang menelusuri kelahiran dunia yakuza itu sendiri.

2. Gameplay Combat yang Brutal

Screenshot Stranger Than Heaven. (Dok. RGG Studio, SEGA/Stranger Than Heaven)

Combat juga tampaknya menjadi sorotan utama.

Berikut kutipan dari rilis pers resminya:

“Rasakan era di mana bertahan hidup adalah segalanya. Sistem pertarungan menghadirkan kebrutalan pertarungan jalanan yang mentah dan brutal di serangkaian era yang penuh gejolak. Bermainlah sebagai Makoto, kendalikan sepenuhnya lengan kanan dan kirinya untuk beralih dengan mulus antara serangan dan pertahanan.

Rangkaikan pukulan cepat menjadi serangan yang menghancurkan, lemparkan musuh dengan serangan yang diisi daya, lalu serbu mereka untuk menjatuhkan mereka ke tanah, lanjutkan dengan rentetan serangan saat mereka rentan.

Tangkap serangan musuh dengan satu tangan dan balas serangan secara instan, baca gerakan mereka untuk menciptakan celah yang menentukan.

Gunakan dan tingkatkan berbagai macam senjata—pisau, palu, pedang, dan banyak lagi—saat Anda menghadapi para petarung tangguh di setiap era.”

Dari berbagai trailer dan materi promosi, pertarungan jalanan brutal memang sudah sangat disorot.

Namun yang menarik, combat Stranger Than Heaven terasa lebih “liar” dan mentah.

Aura yang muncul justru lebih dekat ke film-film yakuza klasik Jepang era 70-an: cepat, brutal, improvisasional, dan penuh desperation. Setidaknya menurut perspektif saya.

3. Show Business Jadi Bagian Penting Cerita

Screenshot Stranger Than Heaven. (Dok. RGG Studio, SEGA/Stranger Than Heaven)

Yang satu ini mungkin cukup mengejutkan.

Musik tampaknya akan menjadi bagian sangat penting dari Stranger Than Heaven.

Bayangkan saja:

  • Snoop Dogg

  • Satoshi Fujihara

  • Ado

  • Tori Kelly

bahkan dikonfirmasi berkolaborasi untuk lagu tema STRANGER THAN HEAVEN.

Dan menariknya lagi, mereka semua juga memiliki karakter yang mereka suarakan di game.

Soal aspek showbiz ini, deskripsi resminya berbunyi:

“Mentor yang mengajari Makoto cara bertahan hidup di Jepang mengenali bakat musiknya, mendorongnya tidak hanya ke atas panggung, tetapi juga ke dunia hiburan sebagai seorang pemain sandiwara.

Untuk menggelar pertunjukan spektakuler yang luar biasa, Makoto mengikuti desas-desus di jalanan untuk mencari penyanyi dan musisi berbakat.

Kemudian ia pergi ke kota, mengambil inspirasi dari suara sapu, kereta api, dengkuran, binatang, dan bahkan perkelahian besar-besaran untuk menciptakan lagu-lagu orisinal.

Ia menghidupkan setiap pertunjukan dengan menyusun daftar lagu, mengumpulkan band, dan menugaskan para pemain, sambil menyempurnakan produksi dengan elemen-elemen seperti pencahayaan.

Bawa pertunjukan ini ke berbagai tempat, raih hati penonton di seluruh negeri, dan saksikan kesuksesan Makoto.”

Kalau melihat penjelasan itu, musik tampaknya bukan sekadar mini-game seperti karaoke di Like a Dragon.

Show business justru terasa seperti salah satu fondasi utama perjalanan Makoto Daito.

Dan ini cukup masuk akal untuk setting Jepang era 1940-1960-an, ketika jazz club, cabaret, lounge singer, hingga distrik hiburan memang tergolong kuat.

Editorial Team