TUTUP

Penggerebekan Gameloft Jogja: Apa yang Harus Dilakukan Agar Insiden Ini Tidak Terulang?

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari insiden ini

Awal minggu ini, dunia maya dikejutkan dengan sebuah kabar yang mengandung banyak komentar, debat dan diskusi. Yup, apalagi kalau bukan kantor perwakilan Gameloft di Jogja yang tiba-tiba saja digerebek oleh aparat kepolisian berpakaian preman tepat di hari Senin, 10 November 2014 lalu. Alasannya, kantor Gameloft tersebut diduga merupakan salah satu tempat judi online yang saat ini tengah marak di kota Gudeg tersebut. Penggerebekan tersebut akhirnya tidak membuahkan hasil, karena memang Gameloft bukan tempat judi seperti yang diduga oleh aparat. Aparat kepolisian sendiri sudah mengkonfirmasikan, bahwa yang mereka lakukan ini hanya sebagai bentuk antisipasi saja. "Langkah ini sebenarnya kami lakukan sebagai bentuk antisipasi. Setelah mendapat penjelasan dari penanggungjawab perusahaan, polisi langsung pulang," ungkap Kapolsekta Wirobrajan, Kompol Aryuniwati seperti dikutip dari pernyataannya di Tribunnews. Setali tiga uang dengan para polisi, pihak Gameloft pun sudah memaafkan tindakan tersebut dan masalah ini sudah diselesaikan dengan baik. "Iya memang sempat ada insiden itu, tapi ini hanya kesalahpahaman yang besar. Polisi hanya kurang mengetahui siapa dan apa itu Gameloft," ungkap Putra Dia, HRM Gameloft Indonesia. Insiden ini pun juga mendapat perhatian dari Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti. Bahkan pasca insiden tersebut, Haryadi sudah mengundang beberapa perwakilan Gameloft ke balai kota untuk menanyakan perihal insiden tersebut. Di luar analisis kami sebelumnya mengenai apakah Gameloft Jogja digerebek polisi (baca: Apakah Gameloft Jogja Pantas Digerebek Polisi?), tentu ada hikmah yang bisa kita petik dari insiden ini agar tidak terulang lagi di masa yang akan datang. Dari pihak polisi misalnya, mereka tentu tidak melakukan penggerebekan (atau yang mereka sebut dengan "langkah antisipasi") ini jika tidak ada informasi yang mereka dapat dari masyarakat. Memang, sudah menjadi kewajiban aparat polisi untuk menindak lanjuti laporan semacam ini dengan mendatangi objek yang dilaporkan. Namun, sudah seharusnya mereka lebih jeli untuk menerima informasi tersebut, dengan mencari informasi-informasi pendukung lainnya sebelum melakukan aksi penggerebekan. Tidak hanya mengambil dari satu sumber saja, langsung melakukan tindakan yang tentunya merugikan ini. Kedua masalah penggerebekan yang dilakukan. Sempat dilaporkan bahwa ada seorang oknum polisi yang langsung memukul satpam ketika sedang melakukan penggerebekan. Hal ini seharusnya tidak boleh dilakukan, karena terkesan polisi sudah main hakim sendiri. Menurut pengakuan polisi, satpam tersebut menghalang-halangi saat akan melakukan penggerebekan, dan logika dari polisi mungkin berpikir bahwa ada sesuatu "ilegal" yang disembunyikan. Padahal, dikutip dari salah satu sumber, satpam tersebut menghalang-halangi polisi yang akan masuk karena tidak membawa surat penggeledahan, dan mereka akan memasuki ruang prototype game yang sangat rahasia. Lagi-lagi, ada salah informasi dan komunikasi di sini. Satpam langsung memperbolehkan aparat masuk setelah datang beberapa anggota lagi yang membawa surat penggeledahan. Nah, jika semua sesuai aturan seperti ini, tentu tidak harus ada tindak kekerasan yang sangat disayangkan tersebut bukan? Ketiga dari pihak Gameloft-nya sendiri. Kita tidak tahu, bagaimana persepsi orang lain terhadap apa yang kita lakukan tanpa kita memberikan sosialisasi terlebih dahulu kepada mereka. Dan mungkin saja, ini yang menjadi pemicu utama masyarakat yang memberikan laporan kepada pihak polisi tersebut. Masyarakat yang mungkin masih awam hanya melihat, ada game-game buatan Gameloft yang memiliki visual judi, dan ada kantor Gameloft yang ada di Jogjakarta, akhirnya mereka pun melaporkan kantor tersebut. Mereka mungkin tidak tahu, studio Gameloft tersebar di seluruh dunia, dan studio mana yang membuat game-game yang mereka anggap memiliki unsur judi tersebut. Mereka tidak tahu, aktivitas apa yang dilakukan oleh studio Gameloft Jogja selama ini, sehingga akhirnya memicu mereka melaporkannya dan terjadi insiden ini. Kantor Gameloft yang adai di Wirobrajan, Jogjakarta[/caption] Pihak Gameloft-lah di sini yang seharusnya bisa lebih aktif memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar mengenai apa yang mereka kerjakan dan apa yang tidak. Sehingga ke depannya tidak ada lagi masyarakat yang resah, melaporkan dugaan judi atau tindakan-tindakan ilegal lain di kantor mereka. Lagi-lagi, informasi dan juga pengetahuan tentang industri game perlu lebih disosialisasikan lagi kepada masyarakat sekitar, dalam hal ini Gameloft-lah yang seharusnya bertanggung jawab untuk sosialisasi. Yang tidak kalah penting juga, apa yang diproduksi, dikembangkan, atau dilakukan oleh Gameloft dalam aktivitasnya harus selalu sesuai dengan kultur masyarakat sekitar agar tidak mengundang rasa curiga. Dan juga, harus sesuai dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, karena mereka beraktivitas di Indonesia. Harus kembali mengingat pepatah, "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Oh iya, bukan hanya untuk Gameloft Jogja saja, tetapi siapapun developer Indonesia yang beraktivitas alangkah baiknya untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar tempat beraktivitas. Tujuannya selain agar masyarakat tahu aktivitas apa yang kamu lakukan, juga agar tidak terjadi kesalah pahaman lagi di kemudian hari. Jika beberapa hal di atas bisa berjalan dengan baik, tentunya insiden "salah paham" dan "langkah antisipasi" yang merugikan banyak pihak ini tentu bisa kita hindari agar tidak terulang lagi di kemudian hari...