TUTUP

Ketika Jurnalis Terlibat Perang Dalam Enemy Front, Lebih Pantas Disebut Spin-off Sniper: Ghost Warrior

Enemy Front bisa menjadi pilihan alternatif bagi yang doyan FPS dengan setting Perang Dunia II. Dame ini salah satu piliuhan yang baik, khususnya di sisi banyaknya event-nya yang dibuat berdasarkan kejadian nyata.

Dev. / Pub. : City Interactive / Bandai Namco Games Platform: PC Windows, PS3, X360 Release Date: 10 Juni 2014 Genre: First-person Shooter Merunut perkembangan Enemy Front, kami melihat setidaknya game ini mendapatkan empat kali tanggal rilis. Game yang mulai diumumkan 2011 lalu ini sempat dikabarkan akan dirilis akhir 2012, kemudian ditunda sampai awal 2013, beralih lagi akhir 2013, dan terakhir dipastikan 10 Juni 2014 ini. Dan meskipun tangan produsernya juga sudah beralih (serta merubah game ini menjadi FPS non-linear seperti saat ini... lebih tepatnya, sedikit non-linear), namun game FPS dengan setting Perang Dunia II ini pun akan tetap bisa menambah wawasan kalian tentang perang tersebut, karena memang banyak event-nya dibuat berdasarkan kejadian nyata. Perang Dunia II dalam game ini akan diceritakan dari penuturan Robert Hawkins, seorang jurnalis perang Amerika, yang terjebak di tengah banyak munculnya kelompok perlawanan di Eropa selama Perang Dunia II, memaksanya terlibat dan mengangkat senjata untuk selamat. Sepanjang perjalanan dia akan mendapatkan bantuan dari prajurit British Commando dan French Resistance. Keseluruhan game dipaparkan secara flashback dari sisi Hawkins, dan menampilkan banyak event sejarah yang asli, serta beberapa diantaranya menyoroti kekejaman Nazi di Eropa, hingga Perang Eropa yang melibatkan invasi Jerman ke Polandia dan Norwegia. Yang menarik dari Enemy Front, developer mencoba membuat pengalaman skenario linear tipikal FPS, dan memberi kebebasan bagi gamer mendapatkan gaya permainan yang mereka sukai. Mulai tipikal berlari dan menembak, melakukan aksi stealth dan sabotase, penembakan dari jarak jauh, hingga melakukan operasi militer yang dijalankan dengan diam-diam, dalam sebuah konsep game berbasis sand box yang bebas dan dinamis. Untuk grafisnya seharusnya juga merasa patut mendapat perhatian, karena dibangun dari engine CryEngine 3, yang pasti kita kenal kualitasnya melalui serial Crysis. Kenyataannya, ternyata kualitas grafis menjadi salah satu yang membuat kami merasa game ini kurang selain AI yang mudah. Detail terasa kurang, dan tekstur juga terlihat rendah kualitasnya. Mengenai mode permainannya, setidaknya kamu bakal mendapatkan waktu permainan 10-12 jam untuk Campaign, dan untuk Multiplayer-nya, disediakan  Deathmatch, Team Deathmatch dan Radio Transmission. Maksimal 12 pemain bisa bertarung di sana melalui 3 map. Dan ketika mode tersebut sepertinya tampil lebih halus, karena elemen seperti pesawat beterbangan dan ledakan dimana-mana seperti saat bermain campaign tidak ditemui, sangat disayangkan justru tidak digarap lebih serius. Penambahan peta mungkin akan lebih bisa diterima. Khusus untuk campaign-nya, karena memang setting Eropa di tengah Perang Dunia II, maka kalian akan banyak melawan para Nazi. Mekanis FPS-nya tidak ada yang istimewa, karena tatiknya sudah jamak ditemui dalam game lain di genre yang sama. Kemudian juga karena developernya, City Interactive menjadi pihak dibalik game shooter dengan fokus sniper, Sniper: Ghost Warrior, kita mendapatkan sistem bidikan yang sama seperti serial game sniper tersebut. Dan mungkin karena pengaruh game yang mereka sudah pengalaman mereka kerjakan, keseluruhan game ini terpaku pada aspek linear sebuah Sniper: Ghost Warrior. Memang di awal permainan City Interactive berusaha menunjukkan mereka menawarkan sesuatu yang berbeda dari sebuah kepuasan interface sniping dengan memungkinkan kita memilih sembarang misi, dan kebebasan tersebut beberapa kali disisipkan di tengah permainan untuk sedikit mengaburkan kelinearan game ini. Namun berkat AI musuh yang tidak begitu cerdas, mengulang-ulang permainan dan bertemu musuh yang sama akan membuat kita bosan karena dengan mudah menang, gerakan musuh kurang variasinya, mudah diprediksi dan diantisipasi, tidak peduli berapa kali kalian bertemu musuh yang sama di lokasi yang sama. Kami pun lebih suka berlari melalui musuh yang sama pasca tewas dan harus mengulang perjalanan yang cukup jauh. Ditambah dengan penempatan checkpoint dalam game yang kurang pas, memaksa kalian yang tewas harus mengulang perjalan dan cara yang sama untuk mengalahkan puluhan prajurit Nazi sampai pada titik kalian tewas. Bisa juga mencoba cara kami, jika merasa sudah jago. Walaupun pola menghabisi musuh dengan cara stealth yang juga mengadopsi dari Sniper cukup baik diterapkan (dan cukup brutal juga), kami rasa lebih mudah dengan muncul saja di area terbuka, pancing semua musuh keluar, dan habisi mereka karena sudah kita ketahui posisinya, atau karena mereka yang memang mendekati karakter untuk setor nyawa. Repetitif sepertinya sukses menghabisi game ini dengan cara yang halus, walaupun harus diakui, atmosfer dan cerita berbasis Perang Dunia II yang ditawarkannya tetap yang paling otentik menurut kami untuk sebuah FPS berbasis fakta sejarah tersebut yang dirilis tahun 2014 ini, bukan sekadar sejarah alternatif yang ditawarkan versi reboot Wolfenstein. [gallery columns="4" link="file" ids="155580,155579,155578,155576,155575,155574,155573"] Enemy Front - Launch Trailer [youtube id="xukj--ZJSvk"] Enemy Front - Story Trailer [youtube id="kElBTKD4Fdc"]