Vision di Avengers: Infinity War (dok. Marvel Studios/Avengers: Age of Ultron)
Mungkin masalah terbesar Vision bukan semata-mata seberapa kuat dirinya, melainkan bagaimana menempatkannya dalam cerita yang harus membagi perhatian kepada banyak karakter.
Coba lihat film-film besar yang menampilkan Vision: Avengers: Age of Ultron, Captain America: Civil War, dan Avengers: Infinity War.
Ketiganya merupakan film ensemble dengan banyak superhero yang masing-masing harus mendapatkan momen untuk bersinar.
Sementara itu, Vision memiliki kombinasi kemampuan yang sangat komplet. Ia bisa terbang, menembakkan energi, menembus benda padat, dan bertahan dari serangan yang mungkin akan melumpuhkan karakter lain.
Kalau semua kemampuan tersebut digunakan secara optimal dalam setiap pertarungan, Vision berpotensi menyelesaikan sejumlah konflik dengan jauh lebih mudah. Akibatnya, penulis harus mencari alasan mengapa ia tidak langsung menggunakan kemampuan terbaiknya, entah melalui kondisi fisik, keterbatasan situasi, atau konflik personal.
Di sinilah tantangan menulis Vision terasa. Karakter yang terlalu kuat bukan berarti tidak bisa menarik, tetapi cerita harus memberinya masalah yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan menembakkan sinar energi atau menembus tembok.
Menariknya, WandaVision menunjukkan salah satu pendekatan yang berbeda. Konflik Vision di sana tidak semata-mata bergantung pada siapa yang lebih kuat dalam pertarungan. Identitas, ingatan, hubungan personal, dan pertanyaan tentang apa yang membuat seseorang tetap menjadi dirinya sendiri justru menjadi bagian penting dari ceritanya.
Vision tidak harus mengalahkan musuh yang lebih kuat untuk menjadi karakter yang menarik. Ia juga bisa menghadapi dilema yang tidak memiliki solusi sederhana melalui kekuatan fisik.
Makannya, akan menarik melihat gimana nanti Vision bakal disajikan di VisionQuest!