Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Peringkat Film Street Fighter dari Terburuk hingga Terbaik!
Still cut Street Fighter (2026) (dok. Paramount Pictures Indonesia/Street Fighter)
  • Street Fighter II: The Animated Movie (1994) ditempatkan sebagai adaptasi terbaik karena mampu menyatukan aksi, karakterisasi, dan cerita secara koheren.

  • Versi live-action 2026 menjadi pilihan terbaik, berkat jurus ikonis dan hubungan Ryu-Ken, meski ceritanya terasa terlalu sibuk.

  • Film 1994 dan The Legend of Chun-Li mendapat penilaian berbeda karena penyimpangan, pilihan pemeran, serta kualitas aksi dan karakterisasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Film Street Fighter mana yang paling layak ditonton?
Vote Now
1993

Future Cops dirilis sebagai film komedi Hong Kong yang memparodikan berbagai budaya pop, termasuk Street Fighter.

1994

Street Fighter dirilis dan mengambil banyak kebebasan dari game aslinya. Street Fighter II: The Animated Movie juga hadir dengan aksi dan karakterisasi yang dianggap kuat.

2000-an

Penulis baru benar-benar menonton Street Fighter II: The Animated Movie.

2009

Street Fighter: The Legend of Chun-Li hadir dengan pendekatan yang lebih serius.

2026

Street Fighter terbaru dirilis di layar lebar dan mengambil pendekatan yang lebih dekat dengan identitas game.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Film Street Fighter mana yang paling layak ditonton?
Vote Now
  • What?
    Peringkat film Street Fighter terbaik, termasuk Future Cops, film live-action 1994 dan 2026, The Legend of Chun-Li, serta Street Fighter II: The Animated Movie.
  • Who?
    Film-film Street Fighter dan sejumlah pemeran atau karakter yang dibahas, termasuk Ryu, Ken, Chun-Li, Guile, M. Bison, serta para pemeran Future Cops.
  • Where?
    Film-film tersebut diterjemahkan ke layar lebar; Street Fighter (1994) disebut pernah dirilis di Indonesia.
  • When?
    Film yang dibahas berasal dari 1993, 1994, 2009, dan 2026. Street Fighter (2026) sudah rilis di layar lebar.
  • Why?
    Peringkat dibuat untuk menentukan film Street Fighter yang paling layak ditonton menurut penulis.
  • How?
    Film-film dibandingkan berdasarkan kedekatan dengan identitas game, aksi pertarungan, karakterisasi, cerita, dan pengalaman menonton.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Film Street Fighter mana yang paling layak ditonton?
Vote Now

Film Street Fighter sudah dibuat beberapa kali. Ada film dengan aktor sungguhan dan ada film gambar bergerak. Versi tahun 2026 punya jurus seperti Hadoken dan Shoryuken. Tetapi yang paling disukai adalah film gambar tahun 1994 karena pertarungan, tokoh, dan ceritanya terasa cocok dengan game Street Fighter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Film Street Fighter mana yang paling layak ditonton?
Vote Now

Beragam pendekatan dalam film Street Fighter memperlihatkan bahwa dunia game ini dapat diterjemahkan melalui live-action maupun animasi. Versi 2026 berhasil menghadirkan jurus ikonis di layar lebar, sementara film animasi 1994 menunjukkan kekuatan karakterisasi, koreografi, dan cerita yang selaras dengan identitas game.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Film Street Fighter mana yang paling layak ditonton?
Vote Now

Street Fighter (2026) sudah rilis di layar lebar.

Sebelum film terbaru ini hadir, sudah ada beberapa film Street Fighter menarik yang lebih dulu mencoba menerjemahkan dunia pertarungan ikonis Capcom ke layar lebar. Mulai dari film live-action yang penuh penyimpangan dari materi aslinya, sampai anime yang masih dikenang penggemar hingga sekarang.

Namun, dari semua film tersebut, mana yang menurut saya paling layak ditonton?

Ini dia peringkat film Street Fighter terbaik versi saya!

Honorable Mention: Future Cops (1993)

(Dok. Golden Harvest/Future Cops - 1993)

Saya tidak bisa memasukkan film ini ke peringkat utama karena... ini sebenarnya bukan film Street Fighter!

Future Cops adalah film komedi Hong Kong yang memparodikan berbagai budaya pop, termasuk Dragon Ball dan Super Mario Bros. Namun, elemen Street Fighter-nya terasa paling menonjol, terutama karena film ini dirilis ketika Street Fighter II sedang luar biasa populer di arcade Asia.

Dan ya, komedinya benar-benar tidak tahu malu!

Film ini dibintangi banyak aktor terkenal, seperti Andy Lau, Jacky Cheung, Aaron Kwok, Dicky Cheung, dan Simon Yam. Mereka tidak ragu mengerahkan jurus-jurus khas karakter Street Fighter untuk mendukung berbagai adegan konyolnya.

Hasilnya? Sebuah film yang mungkin tidak bisa disebut sebagai adaptasi resmi Street Fighter, tetapi justru punya energi yang sangat dekat dengan kegilaan game tersebut.

Tidak heran jika bagi sebagian penggemar Street Fighter era 90-an, Future Cops terasa lebih Street Fighter daripada beberapa produksi Hollywood yang benar-benar memakai nama franchise ini!

4. Street Fighter: The Legend of Chun-Li (2009)

Street Fighter the legend of chun-li. (Dok. 20th Century Fox/Street Fighter: The Legend of Chun-Li)

Film Street Fighter (1994) mendapat kritik karena dianggap kurang mirip dengan game-nya.

Lalu hadirlah Street Fighter: The Legend of Chun-Li.

Alih-alih mengulang pendekatan film sebelumnya, film ini mencoba membawa franchise tersebut ke arah yang lebih serius. Sayangnya, lebih serius ternyata tidak otomatis berarti lebih bagus atau lebih setia pada sumbernya.

Pilihan pemerannya terasa kurang cocok untuk sejumlah karakter, sementara aksi pertarungannya juga mengecewakan. Bahkan, penyajian Spinning Bird Kick Chun-Li mungkin menjadi salah satu interpretasi terburuk jurus itu dalam format live-action.

Film ini membuat saya bertanya-tanya: sebenarnya, apa yang ingin dicapai oleh produksinya?

Sebagai film yang mengangkat salah satu karakter paling ikonis dari Street Fighter, The Legend of Chun-Li justru gagal memanfaatkan daya tarik Chun-Li maupun dunia di sekitarnya.

Setidaknya, film ini menjadi pengingat bahwa membuat adaptasi game yang lebih serius tidak cukup hanya dengan mengurangi unsur komedi. Karakter, aksi, dan identitas sumber aslinya juga harus tetap terasa.

3. Street Fighter (1994)

Street Fighter 1994. (Dok. Capcom/Street Fighter)

Ketika pertama kali menonton film ini saat dirilis di Indonesia, saya benar-benar bingung.

“Apakah saya benar-benar sedang menonton film Street Fighter? Atau ini parodi G.I. Joe yang dibintangi Jean-Claude Van Damme?”

Film ini mengambil banyak kebebasan dari game aslinya. Konflik militer menjadi pusat cerita, sementara karakter-karakternya mengalami berbagai perubahan agar sesuai dengan pendekatan film tersebut.

Namun, lucunya, seiring berjalannya waktu, saya justru semakin bisa menikmati beberapa aspek film ini.

Raúl Juliá jelas mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memerankan M. Bison, meskipun saat itu ia sedang sakit. Penampilannya memberikan karisma tersendiri kepada sang antagonis. Sementara itu, Zangief menjadi salah satu sumber komedi yang paling menghibur.

Memang, Street Fighter (1994) bukan adaptasi ideal. Nuansa cheesy dan campy-nya terasa kuat, dan banyak elemen game yang tidak diterjemahkan dengan baik.

Tetapi justru ada daya tarik tersendiri dari film ini. Kita bisa menyadari berbagai kekurangannya sambil tetap menikmati kegilaannya.

Film ini mungkin tidak selalu berhasil menjadi Street Fighter yang kita kenal dari arcade, tetapi setidaknya ia masih bisa menjadi tontonan yang menghibur.

2. Street Fighter (2026)

Still cut Street Fighter (2026) (dok. Paramount Pictures Indonesia/Street Fighter)

Setelah Street Fighter (1994) dan Street Fighter: The Legend of Chun-Li, film Street Fighter terbaru mengambil pendekatan yang jauh lebih dekat dengan identitas game-nya.

Kali ini, jurus-jurus ikonis seperti Hadoken, Tatsumaki Senpuukyaku, Shoryuken, dan berbagai serangan khas lainnya tidak malu-malu diperlihatkan di layar lebar.

Hasilnya adalah film yang akhirnya memahami salah satu daya tarik terbesar Street Fighter: melihat para petarung dengan gaya bertarung dan kemampuan khas mereka saling berhadapan.

Beberapa adegan pertarungannya benar-benar memukau. Hubungan Ryu dan Ken juga memberikan fondasi emosional yang menarik, terutama ketika film ini memberi ruang bagi konflik pribadi mereka.

Sayangnya, film ini masih punya sejumlah masalah. Ceritanya terasa terlalu sibuk karena berusaha menampung banyak karakter dan konflik sekaligus. Perpindahan antara drama serius dan komedi yang sangat berlebihan juga membuat nadanya terkadang tidak konsisten.

Ada bagian-bagian yang terasa seperti film Street Fighter yang selama ini ingin saya tonton, tetapi ada pula momen ketika saya berharap filmnya bisa lebih fokus.

Meski begitu, jika kita membatasi perbandingan pada film Street Fighter live-action yang dirilis di layar lebar, versi 2026 sejauh ini menjadi pilihan terbaik saya.

Film ini belum sempurna, tetapi berhasil menghadirkan dunia dan jurus-jurus Street Fighter dengan cara yang sulit dibayangkan ketika saya masih bermain game-nya pada era 90-an.

1. Street Fighter II: The Animated Movie (1994)

Street Fighter II the Animated Movie. (dok. Group TAC)

Berhubung mendapatkan akses untuk menonton anime pada era 90-an tidak semudah sekarang, saya baru benar-benar menonton Street Fighter II: The Animated Movie pada tahun 2000-an.

Dan reaksi saya saat itu sederhana: “Seharusnya ini film yang saya tonton pada 1994!”

Diproduksi oleh Group TAC, film animasi ini menghadirkan aksi yang digambar tangan dengan koreografi dan pergerakan kamera yang terasa sinematik. Pertarungannya memiliki bobot, gerakannya terasa luwes, dan karakter-karakternya benar-benar tampak seperti petarung dengan kemampuan yang berbeda.

Salah satu daya tarik terbesarnya adalah bagaimana film ini memperlakukan dunia Street Fighter dengan serius. Ceritanya lebih dewasa daripada sekadar rangkaian pertandingan, dengan konflik yang melibatkan Ryu, Ken, Chun-Li, Guile, M. Bison, dan para petarung lainnya.

Pertarungan Chun-Li melawan Vega, misalnya, masih menjadi salah satu adegan paling menarik untuk disaksikan hingga sekarang. Film ini mampu memadukan karakterisasi, koreografi, dan ketegangan dengan begitu sempurna.

Saya juga menyukai bagaimana film ini mempertahankan identitas para karakter dari game aslinya. Desain mereka tetap mudah dikenali, jurus-jurus khasnya hadir, dan motivasi mereka ditempatkan dalam cerita yang terasa selaras dengan dunia Street Fighter.

Bagi saya, inilah salah satu contoh terbaik bagaimana sebuah game pertarungan bisa diterjemahkan menjadi film yang utuh. Filmnya tidak harus menampilkan setiap karakter dengan porsi yang sama, tetapi setiap elemen yang dipilih terasa mendukung cerita dan pengalaman menontonnya.

Bahkan setelah Street Fighter (2026) dirilis, saya masih merasa Street Fighter II: The Animated Movie adalah puncak adaptasi Street Fighter di layar lebar.

Film terbaru memang lebih berani menghadirkan jurus-jurus ikonis dalam format live-action, tetapi anime tahun 1994 ini masih unggul dalam menyatukan aksi, karakterisasi, dan cerita menjadi satu pengalaman yang koheren.

Bagi saya, inilah film Street Fighter terbaik sepanjang masa.

Pilih film Street Fighter favoritmu

Film Street Fighter mana yang paling layak ditonton?

See More

Curated For You

Editorial Team

Related Article