Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
WHE-T2-0061_proxy_High_Res_JPEG (Small).jpeg
Dok. Warner Bros. (Wuthering Heights)

Intinya sih...

  • Adaptasi film Wuthering Heights terbaru menghadirkan kisah emosional dan sensual yang tidak meminta izin pada penontonnya.

  • Film ini menekankan bahwa cinta dalam Wuthering Heights bukanlah sesuatu yang menyelamatkan, melainkan menghancurkan, dengan nuansa erotis dan simbolisme BDSM.

  • Margot Robbie dan Jacob Elordi tampil dominan sebagai Catherine Earnshaw dan Heathcliff, dengan visual yang memanjakan mata namun juga mencekam.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Adaptasi terbaru Wuthering Heights arahan Emerald Fennell datang bukan sebagai film klasik yang rapi dan sopan, melainkan sebagai ledakan emosi yang liar, sensual, dan tidak meminta izin pada penontonnya. Sejak pemutaran awal, film ini langsung memantik reaksi ekstrem: dipuja sebagai god-tier new classic, sekaligus dicurigai sebagai pengkhianatan terhadap roh novel Emily Brontë.

Fennell jelas tidak tertarik membuat adaptasi yang “aman”. Ia memilih membaca ulang Wuthering Heights sebagai kisah obsesi, hasrat, dan relasi toksik yang nyaris sadomasokistik. Ini bukan cerita cinta yang indah, tapi cinta yang sakit, menjerat, dan merusak siapa pun yang menyentuhnya.

Hasilnya adalah film yang terasa besar, secara visual, emosional, dan intensitas. Penonton tidak diajak mengenang klasik sastra, melainkan diceburkan ke dalam pusaran nafsu dan ketergantungan emosional yang tidak sehat, namun memikat.

1. Setia Secara Emosi, Bukan Secara Teks

Dok. Warner Bros. (Wuthering Heights)

Secara garis besar, kisah Cathy dan Heathcliff masih berada di jalur yang familiar. Namun Fennell menanggalkan romantisasi lama dan menggantinya dengan pendekatan yang jauh lebih mentah. Hubungan keduanya tidak lagi terasa seperti tragedi puitis, melainkan seperti kecanduan emosional yang tak bisa disembuhkan.

Film ini berani menekankan bahwa cinta dalam Wuthering Heights bukanlah sesuatu yang menyelamatkan, melainkan menghancurkan. Cathy digambarkan bukan sebagai korban pasif, melainkan sosok yang sadar akan kekuatan emosinya dan bagaimana ia memanipulasi lingkungan di sekitarnya. Heathcliff pun tampil bukan sekadar lelaki tersakiti, tetapi figur yang tumbuh menjadi mesin balas dendam.

Pilihan Fennell untuk memasukkan nuansa erotis dan simbolisme BDSM bukan sekadar gimmick. Pendekatan ini mempertegas bahwa relasi Cathy–Heathcliff dibangun di atas dominasi, ketergantungan, dan luka batin. Di sinilah film ini terasa “setia” bukan pada teks novel, melainkan pada kegilaan emosional yang sejak awal terkandung di dalamnya.

2. Romantisme yang Meluap dari Setiap Frame

Dok. Warner Bros. (Wuthering Heights)

Margot Robbie tampil sangat dominan sebagai Catherine Earnshaw. Meski menuai kontroversi soal usia karakter, Robbie justru membawa dimensi baru: Cathy yang impulsif, sensual, dan sadar akan daya tariknya. Penampilannya terasa berani dan tanpa rem, sejalan dengan visi Fennell.

Sementara itu, Jacob Elordi memerankan Heathcliff sebagai sosok penuh bara, pendiam, namun meledak-ledak secara emosional. Chemistry keduanya menjadi salah satu kekuatan utama film ini: intens, tidak nyaman, tapi sulit diabaikan.

Dari sisi visual, Wuthering Heights memanjakan mata dengan lanskap Yorkshire yang kelam dan megah. Alam bukan sekadar latar, melainkan refleksi batin para tokohnya. Tata artistik yang anarkis, kostum yang sengaja anachronistic, serta sinematografi yang agresif membuat film ini terasa seperti mimpi buruk yang indah atau sebaliknya, mimpi indah yang perlahan berubah menjadi horor emosional.

3. Klasik yang Hidup di Zaman Baru

Dok. Warner Bros. (Wuthering Heights)

Tak bisa dipungkiri, film ini akan membelah penonton. Puris sastra kemungkinan akan tersinggung oleh pendekatan visual modern, casting yang diperdebatkan, serta keberanian Fennell menonjolkan sisi seksual cerita. Namun justru di sanalah identitas film ini berdiri.

Wuthering Heights (2026) tidak meminta untuk dicintai semua orang. Ia hadir untuk dirasakan, bahkan jika itu berarti membuat penonton tidak nyaman. Ini adalah adaptasi yang percaya bahwa karya klasik tetap hidup justru ketika ditafsir ulang, diperdebatkan, dan diguncang dari zona nyamannya.

Sebagai film, ia mungkin terlalu panjang dan emosional bagi sebagian orang. Namun sebagai pengalaman sinematik, Wuthering Heights versi Emerald Fennell adalah pernyataan berani: bahwa cinta paling berbahaya bukanlah yang manis, melainkan yang membuat kita rela menghancurkan diri sendiri.

Kesimpulan singkatnya, ini bukan adaptasi untuk semua orang tapi bagi mereka yang siap menyelam ke cinta yang obsesif dan brutal, film ini akan terasa menghantui lama bahkan setelah kamu keluar dari bioskop.

Sinopsis Wuthering Heights (2026)

Di hamparan Yorkshire moors yang dingin dan tak berbelas kasih, tumbuh kisah cinta yang tidak pernah benar-benar ingin menjadi sehat. Catherine Earnshaw dan Heathcliff terikat sejak muda oleh kesepian, kemarahan, dan rasa memiliki yang melampaui logika. Apa yang awalnya terasa seperti persahabatan liar perlahan berubah menjadi obsesi—cinta yang tidak memberi ruang untuk bernapas.

Ketika pilihan hidup memaksa Catherine berada di persimpangan antara status sosial dan hasrat terdalamnya, hubungan mereka retak, namun tidak pernah benar-benar putus. Heathcliff yang terluka memilih pergi, membawa bersamanya dendam yang kelak akan kembali dalam wujud yang lebih kejam dan terencana. Cinta yang tak tersampaikan berubah menjadi luka yang diwariskan, bukan hanya kepada diri mereka sendiri, tetapi juga kepada orang-orang di sekelilingnya.

Versi Emerald Fennell menafsirkan Wuthering Heights sebagai tragedi tentang ketergantungan emosional dan gairah yang merusak. Ini bukan kisah cinta yang ingin dikenang dengan manis, melainkan cerita tentang bagaimana hasrat, kelas sosial, dan ego dapat saling mengunci—hingga cinta itu sendiri menjadi sumber kehancuran yang tak terelakkan.

“Wuthering Heights”
2026
4/5
Directed by Emerald Fennell
ProducerMargot Robbie, Emerald Fennell, Tom Ackerley, Josey McNamara
WriterEmerald Fennell
Age RatingD17+
GenreDrama, Percintaan
Duration136 Minutes
Release Date11-02-2026
Themebased on novel or book, period drama, foster child, passion and romance
Production HouseMRC, LuckyChap Entertainment, Lie Still, Warner Bros. Pictures, Domain Entertainment
Where to WatchCinema XXI, CGV, Cinemapolis
CastMargot Robbie, Jacob Elordi, Hong Chau, Alison Oliver, Shazad Latif

Trailer Wuthering Heights (2026)

Editorial Team