Adaptasi terbaru Wuthering Heights arahan Emerald Fennell datang bukan sebagai film klasik yang rapi dan sopan, melainkan sebagai ledakan emosi yang liar, sensual, dan tidak meminta izin pada penontonnya. Sejak pemutaran awal, film ini langsung memantik reaksi ekstrem: dipuja sebagai god-tier new classic, sekaligus dicurigai sebagai pengkhianatan terhadap roh novel Emily Brontë.
Fennell jelas tidak tertarik membuat adaptasi yang “aman”. Ia memilih membaca ulang Wuthering Heights sebagai kisah obsesi, hasrat, dan relasi toksik yang nyaris sadomasokistik. Ini bukan cerita cinta yang indah, tapi cinta yang sakit, menjerat, dan merusak siapa pun yang menyentuhnya.
Hasilnya adalah film yang terasa besar, secara visual, emosional, dan intensitas. Penonton tidak diajak mengenang klasik sastra, melainkan diceburkan ke dalam pusaran nafsu dan ketergantungan emosional yang tidak sehat, namun memikat.
