Whistle berdiri di atas fondasi horor yang sudah sangat sering digunakan: benda terkutuk yang memicu rangkaian kematian. Ditulis oleh Owen Egerton dan disutradarai Corin Hardy, film ini tidak mencoba mendefinisikan ulang genre, melainkan berjalan lurus di jalur aman yang sudah dipetakan film-film sebelumnya.
Pendekatan ini membuat Whistle terasa langsung familiar sejak menit-menit awal. Penonton horor berpengalaman bisa menebak struktur ceritanya tanpa usaha: pembuka tragis, pengenalan remaja bermasalah, aturan kutukan, lalu kematian satu per satu. Tidak ada kejutan struktural yang berarti.
Namun, ada sisi positif dari pilihan ini. Karena tidak sibuk “menipu” penonton dengan twist berlebihan, film bergerak cepat. Eksposisi disampaikan lugas, bahkan cenderung terburu-buru, seolah Whistle tahu bahwa kekuatannya bukan pada cerita, melainkan pada bagaimana kematian itu disajikan.
Masalahnya, ketika sebuah film horor sepenuhnya bersandar pada formula, ia juga membuka diri pada kritik terbesar genre ini: terasa malas. Dan itulah kesan yang sulit dihindari sepanjang Whistle.
