Ada kalanya sebuah film jatuh bukan karena kurang ambisi, melainkan karena ambisinya tak pernah menemukan bentuk. The Carpenter’s Son adalah contoh paling segar. Mengambil premis besar kisah awal Yesus berdasarkan Infancy Gospel of Thomas, film ini justru terjebak dalam nada serius yang tidak pernah benar-benar selaras dengan eksekusinya. Nicolas Cage sebagai sang tukang kayu, figur ayah angkat Yesus, seolah sejak awal memaksa penonton untuk bertanya: apakah film ini serius atau parodi yang lupa bercanda?
Lotfy Nathan, sutradara yang menggabungkan horor, drama, dan fantasi, seolah ingin memberikan sudut pandang baru tentang masa kecil seorang figur religi. Namun sejak adegan kelahiran di dalam gua yang penuh jeritan hingga “bonfire bayi” yang mengerikan, film ini mengirim sinyal bahwa ia ingin provokatif tanpa benar-benar tahu arah provokasinya.
