Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Penilaian Film Gohan, Kisah Satu Anjing dengan Tiga Pemilik Berbeda
Dok. GDH (Gohan)
  • Film Gohan menampilkan kolaborasi tiga sutradara Thailand yang menghadirkan kisah seekor anjing putih melalui tiga segmen berbeda, memadukan komedi, drama realis, dan refleksi kedewasaan secara harmonis.
  • Kisahnya menyelipkan kritik sosial tentang alienasi, tekanan ekonomi, dan dampak pandemi, dengan sang anjing menjadi simbol kesetiaan serta pengingat nilai kemanusiaan di tengah kerasnya kehidupan modern.
  • Gohan menawarkan pengalaman emosional mendalam lewat perjalanan satu dekade sang anjing bersama tiga pemilik berbeda, menggambarkan pencarian kasih sayang sejati di dunia yang terus berubah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dunia sinema Thailand kembali membuktikan kepiawaiannya dalam meramu narasi yang menyentuh lewat karya terbaru berjudul Gohan. Bukan sekadar film tentang hewan peliharaan biasa, proyek ini merupakan sebuah kolaborasi ambisius yang mempertemukan tiga sutradara visioner untuk memotret perjalanan seekor anjing putih dalam mencari makna kasih sayang.

Dengan latar waktu yang membentang selama satu dekade, film ini mengajak kita menyelami bagaimana seekor makhluk setia menjadi saksi bisu atas segala perubahan, kehilangan, dan harapan yang terjadi dalam hidup manusia. Hingga akhirnya dia memiliki mimpinya sendiri.

1. Tiga Sutradara Ambisius

Dok. GDH (Gohan)

Film Gohan hadir sebagai sebuah karya ambisius yang mencoba mendefinisikan ulang subgenre film bertema hewan peliharaan. Di balik sosok anjing putih yang menggemaskan, tersembunyi sebuah narasi besar yang digawangi oleh tiga sutradara papan atas Thailand, termasuk Nattawut “Baz” Poonpiriya yang sebelumnya kita kenal lewat Bad Genius.

Struktur narasi film ini dibagi secara cerdas ke dalam tiga segmen yang masing-masing dinakhodai oleh sang sutradara. Bagian pertama yang digarap oleh Chayanop Bunprakob membawa kita pada nuansa komedi persahabatan yang ringan dan hangat antara seorang pria Jepang pensiunan dengan sang anjing.

Kehebatan film ini terletak pada kemampuannya menjaga kohesi meskipun nada penceritaan berubah drastis saat memasuki segmen kedua karya Baz Poonpiriya, yang menyulap suasana menjadi drama realis dengan elemen pengejaran yang cukup menegangkan. Penutup dari Atta Hemwadee kemudian membawa kita pada perenungan tentang masa muda dan kedewasaan, memastikan bahwa transisi antar gaya visual dan emosi ini tidak terasa canggung melainkan saling melengkapi satu sama lain.

2. Kritik Sosial di Balik Kesetiaan Seekor Hewan

Dok. GDH (Gohan)

Apa yang membuat Gohan terasa sangat segar adalah kemampuannya menyisipkan kritik tajam terhadap struktur masyarakat modern. Di sepanjang rentang waktu cerita dari tahun 2015 hingga 2025, kita melihat bagaimana karakter-karakternya berjuang menghadapi alienasi, tekanan ekonomi, hingga isolasi akibat pandemi.

Film ini memotret realitas pahit tentang bagaimana individu seringkali dianggap usang oleh sistem, namun kehadiran si anjing putih ini menjadi jangkar emosional yang mengingatkan mereka pada nilai kemanusiaan yang paling dasar. Ada keseimbangan yang luar biasa antara sisi idealis yang menghangatkan hati dengan sisi pragmatis yang dingin dari kehidupan urban saat ini.

3. Pengalaman yang Menguras Air Mata

Dok. GDH (Gohan)

Secara keseluruhan, menonton Gohan memberikan sensasi seperti meminum air dingin di tengah hari yang sangat melelahkan. Meskipun film ini tetap setia pada beberapa pola plot yang sudah akrab bagi pencinta drama, cara pengemasan dan eksekusinya terasa sangat cerdas dan tidak pernah terjebak dalam rasa putus asa yang berlebihan. Walaupun ada beberapa bagian yang terasa lambat karena kedalaman materi yang ingin disampaikan tiap sutradara, hasil akhirnya tetap menjadi sebuah karya arus utama yang sangat efisien dalam mengaduk emosi. Film ini adalah sebuah penghormatan bagi siapa saja yang pernah mencintai peliharaan mereka, sekaligus pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin asing, cinta dan kesetiaan adalah sedikit dari hal yang masih layak untuk diperjuangkan.

Sinopsis Gohan (2026)

Kisah ini dimulai dari pertemuan seekor anjing putih terlantar dengan Hiro, seorang mekanik tua, yang menandai awal perjalanan epik sang anjing selama satu dekade. Seiring waktu, ia berpindah tangan ke berbagai pemilik, mulai dari pekerja migran yang terjepit situasi hingga pasangan muda yang menghadapi kerasnya dunia pascakelulusan, sembari terus berganti nama, namun tetap membawa misi yang sama: mencari tempat sejati untuk pulang.

Melalui latar waktu 2015 hingga 2025, perjalanan si anjing menjadi potret perubahan zaman yang drastis, termasuk masa sulit pandemi dan tekanan ekonomi modern. Di setiap babak kehidupannya, ia bukan sekadar peliharaan, melainkan saksi bisu bagi para pemiliknya yang tengah berjuang melawan rasa kesepian dan kerasnya tuntutan dunia yang semakin pragmatis dan asing.

Meski penuh dengan perpisahan yang mengharukan dan situasi yang menegangkan, petualangan ini tetap berfokus pada keteguhan hati sang anjing untuk menemukan kasih sayang yang tulus. Pada akhirnya, kisah ini menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang terus berubah, hubungan emosional antara manusia dan hewan tetap menjadi jangkar yang mampu memberikan kekuatan untuk terus bertahan hidup.

Gohan
2026
4/5
Directed by Nattawut Poonpiriya, Atta Hemwadee, Chayanop Bunprakob
ProducerVanridee Pongsittisak, Nattawut Poonpiriya
WriterChayanop Bunprakob, Atta Hemwadee, Nattawut Poonpiriya, Sopana Chaowwiwatkul, Thodsapon Thiptinnakorn
Age RatingSU
GenreDrama
Duration145 Minutes
Release Date13-05-2026
Themepet, dog
Production HouseGDH 559, BASK
Where to WatchCinema XXI, CGV, Cinepolis
CastKori, Meechok, Hima, Yasushi Kitajima, Poe Mamhe Thar

Trailer Gohan (2026)

Editorial Team