Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
8 Karakter dengan Penyajian Terbaik di Street Fighter (2026)! Dhalsim?
Dhalsim Street Fighter. (Dok. Paramount Pictures, Capcom/Street Fighter)
  • Dhalsim dinilai sebagai karakter dengan penyajian paling berhasil karena tetap eksentrik, berwibawa, dan autentik sebagai petarung.

  • Ken, Ryu, Chun-Li, serta Balrog menonjol melalui konflik, identitas, atau aksi yang kuat meski sebagian mendapat waktu tampil terbatas.

  • E. Honda, Gouken, dan Sagat meninggalkan kesan lewat kemunculan singkat, sementara potensi mereka dinilai masih bisa dikembangkan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dhalsim, Ryu, Ken, Chun-Li, dan petarung lain muncul di film Street Fighter. Mereka dimainkan oleh beberapa aktor dan punya cara bertarung yang berbeda. Dhalsim dianggap paling menarik karena terlihat kuat dan tetap seperti dirinya. Beberapa karakter hanya muncul sebentar, jadi masih ada harapan mereka mendapat waktu lebih banyak nanti.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Film ini tetap mampu menghadirkan beberapa karakter Street Fighter dengan identitas yang kuat di tengah keputusan kreatif yang dinilai kurang tepat. Dhalsim, Ken, Ryu, Chun-Li, Balrog, Sagat, Gouken, dan E. Honda memiliki daya tarik masing-masing, sehingga kemunculan singkat pun dapat meninggalkan kesan serta membuka ruang pengembangan lebih lanjut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

SPOILER ALERT!!

Ada sejumlah karakter yang penyajiannya, jujur saja, terasa aneh di film Street Fighter (2026). Hal inilah yang membuat perasaan saya terhadap film ini begitu campur aduk.

Sebab, di tengah berbagai keputusan kreatif yang terasa kurang tepat, ada pula karakter-karakter yang justru berhasil disajikan dengan sangat menarik. Bahkan, beberapa di antaranya membuat saya berharap film ini memberi mereka lebih banyak waktu untuk bersinar.

Lantas, siapa saja karakter dengan penyajian terbaik di Street Fighter (2026)? Berikut daftar pilihan saya!

8. E. Honda

E. Honda (Dok. Paramount Pictures, Capcom/Street Fighter)

Hirooki Goto, salah satu pegulat profesional ternama dari Jepang, mendapat kesempatan memerankan E. Honda.

Sebelum menonton filmnya, saya sudah sempat melihat materi promosi yang menampilkan pertarungan Ryu melawan Honda di pemandian. Namun, cuplikan tersebut belum sepenuhnya memperlihatkan sisi Honda yang tenang, sekaligus memancarkan aura seorang pesumo berpengalaman.

Meski hanya mendapat waktu tampil yang sangat singkat, Hirooki Goto berhasil membuat saya ingin melihat lebih banyak aksi petarung sumo yang satu ini.

Honda punya potensi untuk menjadi salah satu karakter yang paling menyenangkan untuk disaksikan ketika beraksi. Sayangnya, film ini belum memberi kita cukup waktu untuk menikmati potensinya.

7. Chun-Li

Chun-Li. (Dok. Paramount Pictures, Capcom/Street Fighter)

Untuk memerankan Chun-Li, Callina Liang menjalani persiapan fisik yang cukup intens. Dilansir dari Empire Magazine, ukuran pahanya bertambah sekitar 6,5 sentimeter atau 2,5 inci selama proses persiapan tersebut.

Liang juga menjalani fase peningkatan massa tubuh (bulking) dengan mengonsumsi 12 butir telur setiap hari dan memaksakan diri makan setiap dua jam.

Perjuangan tersebut terasa membuahkan hasil. Chun-Li menjadi salah satu karakter yang menonjol dalam film ini, baik dari segi penampilan maupun kehadirannya di layar.

Namun, ada satu hal yang cukup mengejutkan saya: Chun-Li ternyata tidak mendapat banyak kesempatan untuk bertarung. Padahal, Chun-Li adalah salah satu petarung paling ikonik dalam sejarah Street Fighter!

Untungnya, satu pertarungan yang ia dapatkan, yakni duel dua lawan satu melawan Vega dan Juli, cukup memuaskan untuk memperlihatkan kemampuan bertarungnya.

Chun-Li berhasil meninggalkan kesan kuat. Saya hanya berharap film ini memberinya lebih banyak kesempatan untuk menunjukkan mengapa ia layak menyandang gelar salah satu petarung terkuat dalam seri ini.

6. Ryu

Ryu Street Fighter. (Dok. Paramount Pictures, Capcom/Street Fighter)

Sejak awal, Andrew Koji terasa cocok untuk memerankan Ryu. Ia mampu menghadirkan sosok petarung yang pendiam, serius, dan memiliki kekuatan besar tanpa harus terus-menerus membuktikannya lewat dialog.

Ryu memang bukan karakter yang membutuhkan banyak basa-basi. Kehadirannya seharusnya cukup untuk membuat penonton memahami bahwa ia adalah seorang petarung yang telah menghabiskan hidupnya untuk mengasah kemampuan.

Dan menurut saya, Koji berhasil menangkap esensi tersebut.

Sebagai salah satu karakter sentral film, Ryu juga mendapat ruang yang cukup untuk menunjukkan hubungannya dengan Ken dan pergulatan yang membentuk dirinya sebagai petarung.

Di tengah film yang terkadang kesulitan menyeimbangkan begitu banyak karakter, Ryu terasa seperti salah satu jangkar yang menjaga cerita tetap terhubung dengan identitas Street Fighter.

5. Ken Masters

Ken Masters. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter)

Ken pada dasarnya merupakan salah satu pusat emosional film ini.

Noah Centineo berhasil membawakan Ken dalam fase kehidupan yang sangat rumit. Ia bukan lagi sekadar rival Ryu yang percaya diri, melainkan seorang petarung yang dianggap telah kehilangan "taring" olh dunia.

Ken harus bergulat dengan krisis kepercayaan diri, konflik lamanya dengan Ryu, serta pertanyaan tentang siapa dirinya ketika status dan reputasinya sebagai petarung mulai goyah.

Di sinilah penyajian Centineo terasa menarik. Ia tidak hanya memainkan Ken sebagai sosok yang penuh gaya, tetapi juga sebagai seseorang yang harus menghadapi rasa rendah diri dan menemukan kembali alasan untuk bertarung.

Perjalanan tersebut membuat Ken memiliki bobot emosional yang kuat dalam film. Ketika ia akhirnya mencapai titik pencerahan, perkembangan karakternya terasa lebih berarti karena kita telah melihat konflik yang harus ia hadapi.

Bagi saya, Ken merupakan salah satu contoh terbaik tentang bagaimana karakter Street Fighter bisa dikembangkan lebih jauh tanpa kehilangan identitas dasarnya.

4. Gouken

Video promo memperlihatkan Gouken bersama Ryu dan Ken. (Dok. Legendary Pictures, Paramount/Street Fighter)

Gouken hanya muncul sekali dalam format live-action, yakni melalui foto dirinya bersama Ryu dan Ken ketika mereka masih muda. Selebihnya, ia tampil dalam kilas balik bergaya anime.

Agak disayangkan, mengingat Gouken diperankan oleh aktor yang menurut saya sangat cocok untuk film ini: Don Lee, yang juga dikenal sebagai Ma Dong-seok.

Bahkan dalam bentuk suara saja, Don Lee mampu menghadirkan sosok Gouken yang terasa berwibawa. Ada kesan seorang guru yang kuat, matang, dan memiliki pengalaman panjang dalam dunia bela diri.

Pilihan ini terasa tepat untuk Gouken, sosok yang bukan sekadar guru bagi Ryu dan Ken, tetapi juga figur penting dalam perjalanan mereka sebagai petarung.

3. Sagat

Ini mungkin salah satu pilihan paling lucu dalam daftar saya.

Sagat tidak memiliki dialog dan hanya muncul dalam kilas balik serta adegan mid-credits. Kedua penampilannya itu pun disajikan dalam format anime, sehingga kita bahkan belum melihat pemeran live-action untuk karakter ini.

Namun, justru di situlah letak keberhasilannya.

Sagat tampil sebagai ahli Muay Thai bertubuh raksasa dengan kemampuan bertarung yang mengerikan. Ia tidak membutuhkan banyak dialog atau lelucon untuk menjelaskan siapa dirinya. Penampilan dan tindakannya sudah cukup untuk membangun kesan bahwa ia adalah petarung yang sangat berbahaya.

Mid-credits juga memperlihatkan sosok Sagat yang berlatih keras, diduga demi membalas dendam kepada Ryu.

Yang menarik, Sagat belum dibebani berbagai keputusan karakterisasi yang bisa membuatnya terasa berbeda dari versi game. Ia belum perlu melontarkan lelucon yang tidak sesuai dengan kepribadiannya atau terjebak dalam subplot yang mengalihkan perhatian dari identitasnya sebagai petarung.

Saat ini, Sagat terasa seperti Sagat. Dan itu sudah cukup.

Mungkin sekuelnya nanti akan memberinya lebih banyak kepribadian, dialog, dan waktu tampil. Saya tentu berharap demikian. Namun, untuk sekarang, kemunculannya yang singkat justru membuatnya terasa sangat definitif.

2. Balrog

Balrog (Dok. Paramount Pictures, Capcom/Street Fighter)

50 Cent jelas memahami bagaimana membawakan Balrog.

Balrog hadir dengan swagger seorang petinju berbahaya yang tahu betul apa yang sedang ia lakukan. Ia tidak perlu terlihat seperti petarung yang sportif atau terhormat. Sebaliknya, Balrog justru terasa paling cocok ketika ia memanfaatkan segala macam trik kotor untuk mendapatkan keuntungan.

Dan itulah yang membuat saya tersenyum ketika melihatnya beraksi.

Balrog bukan sekadar petinju yang kebetulan berada di dunia Street Fighter. Ia terasa seperti seseorang yang benar-benar memahami cara bertarung untuk menang, bahkan jika itu berarti bermain curang.

50 Cent juga memberikan karakter ini aura percaya diri yang pas. Balrog terlihat seperti petarung yang terbiasa mengintimidasi lawannya dan menghalalkan segala cara untuk menang, lalu tidak merasa perlu meminta maaf atas caranya mencapai kemenangan.

Masalahnya, seperti beberapa karakter lain dalam film ini, Balrog justru tidak mendapat cukup banyak waktu tampil.

Saya ingin melihat lebih banyak aksi dan trik kotornya. Saya ingin melihat bagaimana ia menghadapi petarung lain yang tidak bisa begitu saja diintimidasi olehnya.

Namun, dari apa yang diperlihatkan film ini, Balrog sudah berhasil membuat saya berpikir, "Yep, ini Balrog."

1. Dhalsim

Dhalsim. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter)

“He's more Dhalsim than Dhalsim, and he owns it, and he's so proud of it. He's bringing so much realness and authenticity to it.” — Kitao Sakurai

Penyajian Vidyut Jammwal sebagai Dhalsim benar-benar memikat saya.

Dhalsim merupakan karakter yang sangat mudah melenceng menjadi karikatur. Penampilannya yang eksentrik, kemampuan meregangkan tubuh secara tidak masuk akal, serta kecenderungannya menyampaikan kata-kata bijak di tengah pertarungan bisa dengan mudah membuatnya terasa seperti lelucon.

Namun, film ini berhasil menemukan keseimbangan yang tepat.

Kita bisa melihat Dhalsim menyampaikan kata-kata bijak sambil memperlihatkan kelenturan tubuhnya yang abnormal. Ia terasa seperti petarung yang memiliki pemahaman mendalam tentang pertarungan, tetapi juga mampu menggunakan kemampuan fisiknya dengan cara yang sulit ditandingi lawan.

Vidyut Jammwal tidak sekadar meniru penampilan Dhalsim dari game. Ia memberikan kesan bahwa karakter ini benar-benar memiliki disiplin, filosofi, dan kemampuan bela diri yang mendasari setiap gerakannya.

Kutipan Kitao Sakurai di atas terasa sangat tepat: Dhalsim ini bukan hanya terlihat seperti Dhalsim, tetapi juga tampil dengan keyakinan penuh terhadap identitasnya.

Bagi saya, inilah salah satu penyajian karakter Street Fighter paling berhasil dalam film live-action. Dhalsim tetap terasa eksentrik, tetapi tidak kehilangan wibawa sebagai petarung yang berbahaya.

Satu-satunya masalah? Dhalsim juga tidak mendapat cukup banyak waktu tampil.

Meski demikian, bagian akhir film memberikan petunjuk bahwa ia mungkin masih akan memainkan peran dalam perburuan Bison. Jika sekuelnya benar-benar melanjutkan arah tersebut, saya berharap kita bisa melihat lebih banyak aksi dan filosofi bertarung Dhalsim.

Karena kalau film ini sudah berhasil membuat Dhalsim terasa begitu autentik dalam waktu yang terbatas, saya ingin tahu apa yang bisa mereka lakukan ketika karakter ini benar-benar mendapat panggung utama.

Curated For You

Editorial Team

Related Article