Dhalsim. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter)
“He's more Dhalsim than Dhalsim, and he owns it, and he's so proud of it. He's bringing so much realness and authenticity to it.” — Kitao Sakurai
Penyajian Vidyut Jammwal sebagai Dhalsim benar-benar memikat saya.
Dhalsim merupakan karakter yang sangat mudah melenceng menjadi karikatur. Penampilannya yang eksentrik, kemampuan meregangkan tubuh secara tidak masuk akal, serta kecenderungannya menyampaikan kata-kata bijak di tengah pertarungan bisa dengan mudah membuatnya terasa seperti lelucon.
Namun, film ini berhasil menemukan keseimbangan yang tepat.
Kita bisa melihat Dhalsim menyampaikan kata-kata bijak sambil memperlihatkan kelenturan tubuhnya yang abnormal. Ia terasa seperti petarung yang memiliki pemahaman mendalam tentang pertarungan, tetapi juga mampu menggunakan kemampuan fisiknya dengan cara yang sulit ditandingi lawan.
Vidyut Jammwal tidak sekadar meniru penampilan Dhalsim dari game. Ia memberikan kesan bahwa karakter ini benar-benar memiliki disiplin, filosofi, dan kemampuan bela diri yang mendasari setiap gerakannya.
Kutipan Kitao Sakurai di atas terasa sangat tepat: Dhalsim ini bukan hanya terlihat seperti Dhalsim, tetapi juga tampil dengan keyakinan penuh terhadap identitasnya.
Bagi saya, inilah salah satu penyajian karakter Street Fighter paling berhasil dalam film live-action. Dhalsim tetap terasa eksentrik, tetapi tidak kehilangan wibawa sebagai petarung yang berbahaya.
Satu-satunya masalah? Dhalsim juga tidak mendapat cukup banyak waktu tampil.
Meski demikian, bagian akhir film memberikan petunjuk bahwa ia mungkin masih akan memainkan peran dalam perburuan Bison. Jika sekuelnya benar-benar melanjutkan arah tersebut, saya berharap kita bisa melihat lebih banyak aksi dan filosofi bertarung Dhalsim.
Karena kalau film ini sudah berhasil membuat Dhalsim terasa begitu autentik dalam waktu yang terbatas, saya ingin tahu apa yang bisa mereka lakukan ketika karakter ini benar-benar mendapat panggung utama.