TUTUP

5 Alasan Kenapa Garuda Bisa Bikin Superhero Nasional Bangkit

Walaupun film ini mempunyai kualitas yang "ehem", bisa jadi punya peran untuk bangkitkan superhero nasional. Loh kok bisa ?

Inilah sayap yang bikin film superhero nasional bangkit - #eh[/caption] Garuda merupakan film superhero nasional yang tayang pada 8 Januari 2015. Film ini disutradarai oleh X-Jo yang disebutkan memperjuangkan ide pembuatan film ini selama 10 tahun. Terlepas dari kontroversi pro dan kontra dari penayangan film ini (baca : Sudah Nonton Garuda Superhero? Nih, Pendapat Netizen Indonesia ). Karya ini patut mendapatkan apresiasi karena berhasil menarik animo dari masyarakat Indonesia. Bahkan bisa jadi Garuda menjadi lokomotif film superhero nasional generasi baru. Sebelum ada Garuda, Nusantaranger dan Volts, masyarakat Indonesia sudah mengenal banyak superhero nasional seperti Gundala atau Godam (baca : Memperingati Hari Pahlawan: Yuk Kenali 10 Superhero Klasik Indonesia Ini! ) Bahkan Gundala pernah naik ke layar lebar pada era 80an. Nah, bisa jadi, peran Garuda sekarang ini bisa menjadi tonggak bangkitnya film superhero nasional. Inilah beberapa alasan yang mendasari kesimpulan tersebut.


[page_break no="1" title="Garuda Superhero is So-Bad-Its-Good"]
So bad they're adorable[/caption] Dengan review less than stellar dari penikmat film nasional. Seperti bisa dibaca pada laman ini dan linimasa jejaring sosial ini rasanya publik bisa membayangkan seperti apa kualitas film ini. Untungnya, film tidak harus mempunyai kualitas bagus untuk sukses secara komersial dan jadi film yang dikenang. Bahkan di Hollywood pun ada film yang masuk daftar hall of fame karena jelek banget. Nah perbedaan dari just-bad movie dan so-bad-movie-its-good sebenarnya sangat sederhana. Saat yang just-bad-movie hanya bikin kita mengumpat sebal, so-bad-its-good-movie bisa bikin kita tertawa terpingkal pingkal. Nah saya percaya Garuda masuk ke jenis yang kedua. Saya percaya sutradara film ini mungkin tidak memperkirakan kemungkinan ini. Karena beliau sepertinya ingin film ini mampu menandingi buatan Hollywood, tapi sayang nasi sudah jadi bubur. Sekarang yang tersisa adalah peran media (termasuk duniaku.net) ini untuk bikin sebanyak mungkin orang nonton film ini dan voila!. Film ini akan dikenang jadi film superhero nasional yang "penting".
[page_break no="2" title="Industri Film Sedang Tumbuh-Dan Butuh Genre Yang Segar"]
Sesegar mbak ini[/caption] Industri film dan video nasional sedang tumbuh pesat. Dari hanya bernilai sekitar 3 trilyun pada tahun 2007 telah tumbuh menjadi 8 trilyun pada tahun 2013 menurut data BPS. Dari jumlah penonton juga ada kenaikan jumlah penonton sebanyak 34 persen untuk tahun 2014 dibandingkan 2013.  Hal ini mungkin merupakan kontribusi daya beli yang semakin naik dan masuknya pemain baru di Industri penayangan seperti Blitzmegaplex dan Cinemaxx Khusus untuk film nasional, ada tren peningkatan. Film laris seperti The Raid 2 : Berandal tercatat ditonton hampir 1,5 juta orang pada tahun 2014, lebih tinggi dari film terlaris tahun 2010- Sang Pencerah yang hanya ditonton 1,2 juta orang. Kalau kita amati, tren beberapa tahun terakhir. Film dengan genre segar seperti Sang Pencerah, The Raid dan Habibie Ainun sering sukses di pasaran. Sehingga bisa jadi Garuda jadi lokomotif untuk kesuksesan film superhero nasional dengan genre yang segar
[page_break no="3" title="Garuda Superhero 'Mungkin' Meraih Untung "]
Kenapa elo ikutan meringis[/caption] Baru seminggu saja, Garuda dikabarkan meraih pendapatan sekitar 600 juta rupiah (baca :  Di Luar Dugaan, Garuda Superhero Raup 600 Juta Rupiah dalam Seminggu! ). Dengan rata rata masa tayang film nasional sekitar 8 minggu. Bisa jadi dari bioskop saja Garuda akan bukukan pendapatan lebih dari 5 milyar rupiah. Belum lagi pendapatan dari hak siar ke televisi nasional dan internasional, sponsorship, penjualan DVD dan sumber pendapatan lain. Berdasarkan perhitungan ini tidak berlebihan kalau nantinya Garuda akan mendapatkan laba. Nah, tentu sineas Indonesia akan melihat peluang ini, apabila film dengan kualitas Garuda saja bisa meraup untung, maka besar kemungkinan film yang berkualitas lebih baik mendapatkan untung yang lebih besar.
[page_break no="4" title="Kadang Perlu Ada 'Tumbal' Sebelum Muncul Karya Epik"]
Mungkin jaman itu kostum dengan pentil lagi tren[/caption] Marvel dan DC pun punya beberapa judul film yang jelek. Seperti Daredevil dari Marvel dan Batman and Robin dari DC. Kedua film itu beitu jelek sampai banyak yang memasukkan keduanya dalam 50 film terburuk sepanjang masa. Nah, dari kedua film itu kedua studio tersebut belajar banyak dan kemudian menciptakan rentetan blockbuster yang sangat sukses sampai sekarang. Sehingga bisa jadi memang perlu ada "tumbal" sebelum ada film superhero nasional yang bagus. Tapi tentu setelah menciptakan film sebagai "tumbal", sineas Indonesia masih harus banyak belajar dari kekurangan Garuda untuk membuat film superhero yang epik.
[page_break no="5" title="Memang Perlu 'Panas-panasan' Dulu"]
Lihat foto mas x-jo aja kita udah "panas"[/caption] Melihat budaya Indonesia yang suka ikut ikutan, tidak terkecuali industri film nasional (contoh : AADC yang menjadi bertema cinta SMA dan Jaelangkung yang bikin semua film bertema demit sampai sekarang). Bisa jadi Garuda memang bisa cocok untuk "memanaskan" film superhero nasional. Melihat hal ini, bisa jadi pernyataan sutradara film ini X-Jo yang harapkan semua "panas" dengan adanya Garuda adalah benar. Namun, seperti halnya motor GL-Max saya, kalau mau manasin ya harus "dipancal" dulu. Artinya Garuda ini harus siap "ditendang tendang" sama film superhero lain yang akan muncul.