TUTUP

Review Charlie's Angels, Saat Para Angels Go Internasional 

Charlie’s Angels tumbuh menjadi agensi internasional!

Charlie’s Angels merupakan sebuah serial TV yang memiliki cult-nya tersendiri. Walaupun serial TV tersebut berakhir di tahun 1981, tetapi sampai saat ini kamu masih bisa menyaksikan berbagai pengaruhnya atau bahkan filmnya. Untuk bagian film, kamu bisa menyaksikannya saat ini karena Columbia Pictures baru saja merilis sekuelnya.

Yak, kamu tidak salah baca, film ini merupakan sekuel langsung dari serial TV dan dua film lainnya yang hadir di tahun 2000-an, saat Cameron Diaz masih cukup muda untuk lompat-lompatan di depan kamera.

1. Para Townsend Angels

dok. Sony Pictures

Charlie’s Angels dimulai dengan misi penahanan Jonny Smith (Chris Pang) yang dilakukan oleh Sabina (Kristen Stewart). Dalam misi tersebut Jonny berhasil diringkus, tetapi Jane (Ella Balinska) yang merupakan Angels bekas MI-6 menendang Sabina dari gedung karena dianggap mengganggu. Perilaku ini terus diingat oleh Sabina dan menyebabkan keduanya tidak akur.

Waktu berlalu dan Angels menerima misi baru yang melibatkan pencipta Calisto, Elena (Naomi Scott). Callisto adalah generator listrik berukuran mini yang bisa menghasilkan listrik murah. Elena merasa kalau Callisto adalah proyek berbahaya yang bisa diubah menjadi mesin pembunuh.

Saat Elena bertemu dengan Edgar Bosley (Djimon Hounsou) keduanya berhadapan dengan Hodak (Jonathan Tucker) sang assassin. Dalam kejar-kejaran yang berbahaya Edgar kehilangan nyawanya dan meninggalkan Elena di tangan Jane, Sabina, dan Susan Bosley.

Rupanya Bosley merupakan pangkat yang digunakan oleh para agen untuk menggambarkan jabatan mereka di dalam organisasi Charlie’s Angel. Para Boysley bertanggung jawab pada cabang Charlie’s Angels di negara tertentu hingga akhirnya mereka pensiun atau mati dalam tugas.

Baca Juga: Review Film Midway: Satu Lagi Drama Serangan Pearl Harbor

2. Kurang chemistry

dok. Sony Pictures

Jujur saja kami sulit melukiskan kondisi ini ketika menonton Charlie’s Angels, tapi kamu pasti bisa mengerti apa yang kami maksud dengan kurang chemistry. Bayangkan saja, Sabina dan Jane merupakan agen lapangan yang memiliki banyak perbedaan terutama dalam urusan pendekatan pada sebuah masalah, tapi kami tidak berhasil mendapat gambaran jelas mengenai perbedaan tersebut.

Kami bisa melihat posisi agen Sabina dan Jane sebagai satu persona yang utuh, tapi tidak bisa merasakan kalau mereka berdua adalah agen yang bekerja dalam satu perusahaan yang sama. Tidak ada percikan emosi ataupun gesture yang cukup untuk menunjukkan kalau mereka itu akrab atau bermusuhan.

Seperti ada yang salah dalam akting mereka, tapi hal ini tidak akan langsung terlihat begitu saja. Kamu harus memperhatikan gerak-gerik ketiga tokoh utama, sambil membandingkannya dengan film-film lain yang menampilkan chemistry sangat kuat.

3. Kurangnya urgensi

dok. Sony Pictures

Di luar masalah chemistry, Charlie’s Angels juga memiliki masalah serius dalam urusan urgensi. Rasanya setiap adegan action dan kemajuan cerita di dalam film tidak berurusan langsung dengan urgensi cerita. Sang antagonis utama seperti menunggu dengan sabar hingga akhirnya Callisto jatuh ke tangan mereka, padahal antagonis yang dihadapi adalah tipikal musuh kuat yang bisa menghancurkan Charlie’s Angels dari dalam.

Masalah ini semakin diperparah dengan banyaknya adegan dan elemen yang tidak berhubungan langsung dengan filmnya. Sebagai contoh, kamu bisa melihat Jane dan Sabina yang berjoget di tengah-tengah ruang dansa. Memang tujuan utamanya adalah berbaur dengan lingkungan, tetapi di saat yang bersamaan mereka sedang menangani ancaman serius dari Callisto dan Elena yang jatuh ke tangan musuh.

4. Menyenangkan

dok. Sony Pictures

Satu-satunya hal yang membuat kami betah menonton Charlie’s Angels adalah banyaknya adegan dan elemen yang menyenangkan di dalam film. Tipikal action movie yang sangat brainless tapi menghibur.

Selain menyenangkan kamu juga akan mendapatkan perasaan nostalgia yang cukup mendalam. Apalagi kalau kamu mengikuti serial TV dan filmnya yang hadir di tahun 80-an dan 2000-an. Kalau kamu merasakan nostalgia ketika menonton Charlie’s Angels, maka bisa dipastikan umur kamu cukup tua ketika membaca review ini. Enggak apa-apa umur tua, yang penting semangat tetap muda.

5. Kesimpulan?

dok. Sony Pictures

Charlie’s Angels adalah film action yang memiliki penggemar tersendiri, meskipun tidak semua orang bakal cocok dengan materi kualitas yang dimilikinya. Film ini hanya sanggup mendapatkan 2,5 dari 5 bintang review yang bisa kami berikan. Charlie’s Angels sudah tayang di bioskop Indonesia sejak 13 November 2019.

Baca Juga: Review Ford V Ferrari, Kisah Rivalitas Otomotif Paling Bersejarah