Cuplikan trailer Para Pencari Tuhan Jilid 19: Tobat Woy… (dok. Citra Sinema)
Para Pencari Tuhan Jilid 19 jadi salah satu sinetron paling dinantikan pada Ramadan ini. Sambil menunggu penayangannya, intip beberapa faktanya berikut:
Para Pencari Tuhan merupakan sinetron religi Indonesia musiman produksi Deddy Mizwar yang selalu tayang saat puasa. Serial ini mengikuti kisah seorang marbot musala bernama Bang Jack. Dia menuntun orang-orang di sekitarnya untuk selalu berada di jalan benar.
Setiap musimnya, sinetron Para Pencari Tuhan akan membahas tema berbeda, tapi karakter utamanya tetaplah Bang Jack. Di samping itu, ada beberapa tokoh inti lainnya seperti Bang Jarwo, Udin, hingga Asrul.
Serial Para Pencari Tuhan tayang perdana pada 13 September 2007 di SCTV dan masih terus berlangsung hingga sekarang. Sinetron bergenre religi komedi ini konsisten hadir setiap tahunnya setiap Ramadan dan hampir tak pernah absen sekalipun. Selama hampir 19 tahun, serial PPT menemani para penontonnya setianya dengan berbagai tema cerita yang segar.
Sinetron satu ini menjadi tayangan ikonik setiap sahur, bahkan kerap ditayangkan ulang saat buka puasa. Konsistensi PPT patut diacungi jempol. Pasalnya, jarang sekali ada serial yang tetap menjaga kualitas dan kuantitasnya seperti awal musim, bahkan mempertahankan waktu tayangnya.
Bukan cuma itu, PPT hanya berjumlah 30 episode. Artinya, episode pertama tayang di awal puasa dan berakhir saat sahur terakhir. Dengan begitu, penggemar bakal merasa kehilangan di akhir episode dan tak sabar menantikan Ramadan berikutnya.
PPT Jilid 19 memperlihatkan sejumlah masalah sosial, salah satunya tentang anak jalanan. Penonton akan melihat mereka diajarkan mencuri hingga cara negatif untuk mendapatkan simpati dari orang-orang.
Selain soal anak jalanan, sinetron ini juga menyinggung kehadiran ormas yang kerap meresahkan warga sekitar. Bang Jack terlihat sedang berdebat dengan Udin, menyuruhnya untuk keluar dari ormas Barbar. Namun, dia tak bisa karena organisasi itu bisa melindunginya dari debt collector.
Selanjutnya ada anggapan bahwa pendidikan itu tidak penting. Anak-anak mulai menganggap sekolah bukanlah sesuatu yang wajib diperjuangkan. Alhasil, mereka lebih memilih untuk mencari uang agar perut mereka bisa kenyang. Terlebih, ada banyak kasus di mana lulusan sarjana menganggur di kampung tersebut.