Emporio Ivankov dan Penduduk Kamabakka Kingdom. (Dok. Eiichiro Oda, Shueisha/One Piece)
Ternyata, Sanji takut kepada Ivankov bukan semata-mata karena kepribadiannya yang eksentrik.
Sanji justru mengakui bahwa Ivankov mampu melihat kelemahan yang selama ini ada dalam dirinya.
“Ivankov!! Alasan aku takut padamu... adalah karena kau bisa melihat kelemahanku!”
Bab ini kemudian memperlihatkan kembali pengalaman Sanji selama menjalani latihan di Kamabakka Kingdom.
Bahkan ketika melawan salah satu master Newkama Kenpo, Sanji memiliki kebiasaan bertarung dengan membiarkan dirinya babak belur demi meraih kemenangan. Ia berhasil mengumpulkan 30 kemenangan, tetapi caranya bertarung justru memperlihatkan masalah yang lebih mendasar.
Ivankov menegurnya karena bertarung membabi buta tanpa memedulikan keselamatan diri sendiri.
Di sinilah inti persoalannya muncul.
Menurut Ivankov, penduduk Kamabakka Kingdom memiliki sesuatu yang belum dimiliki Sanji: self-love, atau kemampuan untuk mencintai diri sendiri.
Ivankov bahkan menegaskan bahwa seseorang tidak akan bisa mencintai orang lain jika ia tidak mampu mencintai dirinya sendiri. Ia juga mengingatkan bahwa cinta yang dibuktikan dengan kematian tidak ada gunanya.
Perkataan tersebut terasa relevan dengan karakter Sanji selama ini.
Sanji memang dikenal rela mempertaruhkan nyawanya demi orang lain. Ia sering menempatkan keselamatan teman-temannya di atas keselamatannya sendiri, bahkan sampai bersedia menanggung penderitaan sendirian.
Sikap itu memang menunjukkan kebaikan hatinya. Namun, bab ini juga menyoroti sisi berbahayanya: Sanji terkadang bertindak seolah-olah dirinya sendiri boleh dikorbankan begitu saja.
Pengalaman masa kecil bersama keluarga Vinsmoke mungkin turut memperburuk kecenderungan tersebut. Berulang kali dianggap tidak berguna oleh keluarganya meninggalkan luka mental yang tidak serta-merta hilang setelah konflik mereka di Whole Cake Island berakhir.
Oda bahkan beberapa kali menunjukkan hinaan Judge di bab ini, menegaskan betapa hinaan itu masih mempengaruhi Sanji.
Dengan demikian, masalah Sanji bukan sekadar bagaimana ia menghadapi musuh yang kuat.
Ia juga harus belajar bahwa dirinya sendiri layak dicintai.