Raja Harald one piece. (Dok. Shueisha, Eiichiro Oda/One Piece)
Sebelum reformasi Harald, kaum raksasa kerap dipandang dunia sebagai ancaman: makhluk besar yang berbahaya, mudah mengamuk, dan sulit dikendalikan. Namun ketika beberapa raksasa mulai bergabung dengan Angkatan Laut, citra itu perlahan berubah. Dunia mulai melihat bahwa bangsa raksasa tidak selalu identik dengan kekerasan, bahwa mereka bisa berperan dalam menjaga stabilitas global.
Perdagangan pun ikut berkembang. Kita diperlihatkan bahwa makanan laut Elbaf, keju Elbaf, dan komoditas lainnya laku keras ketika diekspor. Elbaf yang dulu terisolasi, bahkan terancam kelaparan saat musim dingin panjang, akhirnya membuka pintu menuju hubungan internasional yang lebih sehat.
Dengan kata lain, keputusan Harald untuk menjalin hubungan dengan Pemerintah Dunia tidak sepenuhnya buruk. Ada hasil positif yang nyata: reputasi membaik, perdagangan tumbuh, citra bangsa raksasa dipulihkan.
Namun di balik itu, terdapat satu masalah besar.
Harald tampaknya terlalu condong pada idealisme perdamaian hingga mengabaikan kebutuhan akan kekuatan militer. Ia begitu fokus memperbaiki citra raksasa di mata dunia, sampai lupa bahwa dunia One Piece tetaplah brutal dan penuh pihak yang siap menaklukkan.
Akibatnya terlihat jelas 15 tahun kemudian, ketika God’s Knight menyerbu Elbaf:
-Pasukan yang bisa melawan dengan efektif hanyalah Dorry dan Brogy beserta kelompok veteran, yang sudah kuat bahkan sebelum era reformasi Harald.
-Dari generasi muda, yang tampil menonjol hanya kelompok Hajrudin, sementara sebagian besar raksasa muda tampak kurang siap menghadapi ancaman sebesar itu.
Dengan demikian, keputusan Harald yang terlalu fokus pada diplomasi justru meninggalkan celah besar: Elbaf menjadi makmur, tetapi tidak siap menghadapi invasi.
Bisa dibilang, dalam upaya menebus “dosa masa lalu kaum raksasa”, Harald justru mengorbankan keseimbangan fundamental negeri mereka