Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Mr. 9 (dok. Netflix/One Piece)
Mr. 9 (dok. Netflix/One Piece)

Intinya sih...

  • Mr. 9, karakter One Piece Netflix Season 2 yang mungkin akan mati

  • Mr. 5, ancaman di Little Garden yang berpotensi mati di live-action

  • Chess dan K.M (Kuromarimo), karakter dengan peran selesai yang bisa mati di live-action

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kamu sudah nonton One Piece Netflix Season 1? Yang saya maksud sudah tentu yang live-action bukan yang anime.

Salah satu perbedaan signifikan versi live-action adalah serinya lebih tega dalam membunuh karakter. Sanji misalnya, sering dinilai kurang dapat spotlight karena Bajak Laut Krieg yang harusnya bikin masalah di Baratie dibunuh duluan oleh Mihawk, hanya Gin yang tersisa.

Belum lagi nasib Merry, pelayan Kaya, yang di versi live-action tidak selamat setelah ditusuk dari belakang oleh Kuro. Padahal di manga dan anime, ia masih hidup setelah kejadian itu.

Perubahan-perubahan ini membuat satu hal jadi menarik: Season 2 berpotensi kembali memberi kejutan serupa.

Jadi, siapa kira-kira karakter One Piece Netflix Season 2 yang mungkin akan mati?

Berikut beberapa nama yang menurut saya punya peluang terbesar.

1. Mr. 9

Mr. 9 (dok. Netflix/One Piece)

Situasi di manga

Di Whisky Peak, ketika Mr. 5 dan Miss Valentine mengungkap identitas asli Miss Wednesday dan Mr. 8 sebagai Nefertari Vivi dan Igaram dari Kerajaan Arabasta, situasi langsung berubah jadi hidup dan mati.

Menariknya, Mr. 9, yang selama ini hanya terlihat sebagai partner kocak Vivi justru memilih berdiri di pihaknya. Meski tahu Vivi dianggap pengkhianat oleh Baroque Works, ia tetap mencoba menyerang Mr. 5.

Hasilnya? Ia diledakkan oleh “upil peledak” Mr. 5, sampai-sampai Zoro (yang menonton situasi itu dari atap bangunan terdekat) mengomentari betapa dahsyatnya serangan itu.

Namun seperti banyak karakter One Piece lainnya, Mr. 9 ternyata masih hidup. Bahkan di kisah sampul, terungkap ia kemudian berkeluarga dengan Miss Monday.

Kenapa bisa saja mati di live-action

Versi live-action Netflix sudah menunjukkan bahwa mereka tak ragu membuat kematian lebih permanen. Dan momen Mr. 9 membela Vivi sebenarnya punya potensi emosional yang kuat.

Ia tahu ia kalah. Ia bukan petarung level tinggi. Tapi ia tetap maju.

Kalau adaptasi ingin mempertegas ancaman Baroque Works, dan membuat Mr. 5 terasa benar-benar berbahaya, mengorbankan Mr. 9 bisa menjadi langkah efektif. Itu momen pengorbanan diri yang mengharukan. Apalagi setelah momen itu, perannya di alur utama memang praktis selesai.

Dalam konteks live-action yang lebih brutal, sacrifice Mr. 9 bisa terasa tragis, mengejutkan, sekaligus memperkuat tensi di awal saga Arabasta.

2. Mr. 5

Mr. 5 di One Piece Live Action Season 2

Situasi di manga

Mr. 5 jadi ancaman lagi di Little Garden. Meski jadi ancaman tidak penting bagi Zoro dan Luffy di Whisky Peak, akal-akalan Mr. 3 membuat ia jadi lebih berbahaya terutama karena Zoro sempat dilumpuhkan duluan dan Sanji tidak ikut pertarungan.

Di bab 126, ia mencoba meledakkan Usopp dengan seluruh tubuhnya. Tapi Zoro yang akhirnya bebas dari struktur lilin ciptaan Mr. 3 menebasnya dengan teknik Flaming Onigiri.

Tapi Mr. 5 masih hidup. Di kisah sampul dia bersama sejumlah mantan Baroque Works membuka Spiders Cafe baru.

Kenapa bisa mati di live-action

Pertarungan Zoro melawan Mr. 7, yang berakhir dengan Mr. 7 tertebas, menegaskan satu hal: di versi live-action ini tebasan Zoro bisa fatal. Memang di manga pun Mr. 7 (sebelum yang sekarang) mati karena Zoro tapi kematiannya tak diperlihatkan. Di live-action pembunuhan itu gamblang.

Artinya, jika Mr. 5 menerima Flaming Onigiri dengan intensitas yang sama di versi Netflix… peluangnya untuk selamat terasa jauh lebih kecil.

Ditambah lagi, secara naratif peran efektif Mr. 5 memang selesai setelah Little Garden. Ia tidak lagi punya kontribusi signifikan di alur utama.

Karena itu, mematikan Mr. 5 di live-action bisa menjadi cara sederhana untuk: mempertegas betapa mematikannya Zoro, sekaligus menaikkan stakes menjelang konflik yang lebih besar di Arabasta.

Dan jujur saja, dalam versi yang lebih brutal ini, peluangnya cukup realistis.

3. Chess

Chess. (Dok. Toei Animation/One Piece)

Situasi di manga

Kalau kamu sempat lupa Chess itu siapa, dia adalah salah satu anak buah setia Wapol di Drum Island.

Dalam pertarungan klimaks arc tersebut, Wapol melakukan aksi absurd khasnya: ia memakan Chess dan Kuromarimo untuk menggabungkan mereka menjadi sosok aneh bernama Chessmarimo.

Bentuk gabungan ini kemudian dikalahkan oleh Chopper, momen penting yang sekaligus memamerkan fleksibilitas Rumble Ball milik sang dokter rusa.

Setelah itu? Praktis selesai. Chess dan Kuromarimo tidak lagi punya peran berarti di cerita utama. Mereka hanya muncul lagi secara singkat di film One Piece: Stampede, masih sebagai bawahan Wapol dalam Festival Bajak Laut.

Kenapa bisa mati di live-action

Secara naratif, peran Chess memang sudah berakhir sejak ia tumbang di Drum Island. Ia bukan karakter dengan benang cerita panjang atau dampak jangka panjang ke plot utama.

Dalam versi live-action yang sudah terbukti lebih berani soal kematian karakter, Chess (atau bahkan Kuromarimo) bisa saja tidak diselamatkan kali ini.

Kalau showrunner tidak ingin menjadikan Chopper sebagai sosok yang “membunuh” secara langsung, ada banyak cara lain:

-Wapol bisa saja secara tidak sengaja atau sengaja menyebabkan kematian mereka saat proses penggabungan.

-Atau bentuk Chessmarimo dibuat jauh lebih brutal dan berakhir tragis.

Langkah ini bisa memperkuat citra Wapol sebagai raja yang egois dan berbahaya, sekaligus memberi nuansa lebih gelap pada arc Drum Island di versi live-action.

4. K.M (Kuromarimo)

Kuromarimo. (Dok. Toei Animation/One Piece)

Situasi di manga

Karena Chess dan Kuromarimo memang terasa sebagai satu paket, nasib mereka di manga nyaris identik.

Di Drum Island, Wapol memakan keduanya dan menggabungkan mereka menjadi Chessmarimo. Bentuk aneh hasil kombinasi itu kemudian dikalahkan oleh Chopper—sebuah momen yang sekaligus memamerkan potensi Rumble Ball.

Setelah kekalahan tersebut, peran Kuromarimo praktis selesai. Ia hanya muncul lagi di One Piece: Stampede, film yang kejadian utamanya tidak kanon terhadap cerita utama.

Kenapa bisa mati di live-action

Di versi Netflix, karakter ini hadir sebagai K.M., diperankan oleh Anton David Jeftha.

Alasan ia bisa mati sebenarnya sederhana: fungsi naratifnya memang sudah habis setelah Drum Island. Ia tidak punya peran lanjutan yang krusial di saga berikutnya.

Mematikan K.M. bisa menjadi cara cepat untuk meningkatkan tensi konflik di Drum Island, menegaskan sisi kejam Wapol, sekaligus membuat situasi terasa lebih berisiko dibanding versi manga.

Dan seperti kasus Chess, jika showrunner tidak ingin menjadikan Chopper sebagai sosok yang secara langsung mengakhiri nyawa lawan, kematian itu bisa saja disebabkan oleh Wapol, atau konsekuensi brutal dari proses penggabungan tubuh mereka.

5. Igaram

Mr. 8 Alias Igaram di One Piece Live Action season 2

Situasi di manga

Di Bab 113, Igaram mengambil keputusan nekat: ia menyamar mengenakan pakaian yang mirip dengan Nefertari Vivi untuk menjadi pengalih perhatian.

Aksinya sempat terasa kocak, pria bertubuh besar dengan kostum ala Vivi jelas bukan pemandangan normal. Tapi momen itu berubah tragis ketika kapal yang ia tumpangi meledak.

Saat bab itu terbit, pembaca benar-benar dibuat terpukul. Kita belum tahu bahwa Eiichiro Oda adalah tipe kreator yang sangat jarang membunuh karakter dan gemar memainkan “kematian palsu”. Bahkan insiden Pell pun belum terjadi saat itu.

Dan pelakunya? Nico Robin, yang saat itu masih dikenal sebagai Miss All Sunday.

Tentu saja, seperti banyak kasus lain di One Piece, Igaram kemudian terungkap masih hidup. Ia bahkan masih bertahan hingga kini di cerita utama—ironisnya, justru Nefertari Cobra yang tewas di tangan Imu.

Kenapa bisa mati di live-action

Secara realistis, peluang ini memang tidak sebesar kandidat lain. Kematian mendadak Igaram akan sangat mengejutkan, terutama jika pelakunya tetap Miss All Sunday. Itu bisa membuat perjalanan Robin menuju status anggota Topi Jerami terasa jauh lebih sulit diterima penonton.

Namun justru di situlah potensi dramanya.

Jika live-action ingin memberi dampak emosional yang lebih berat pada perjalanan Vivi, kematian Igaram bisa menjadi katalis kuat. Tanpa figur pelindung yang setia itu, Vivi akan terasa benar-benar sendirian di tengah konspirasi Baroque Works.

Dan kalau Netflix ingin menghindari citra Robin sebagai “pembunuh calon sahabat”, kematian itu bisa saja dialihkan ke pihak lain, misalnya duet Mr. 5 dan Miss Valentine.

Langkah ini memang berisiko, tapi juga bisa mempertegas bahwa versi live-action tidak main aman.

Dan kalau benar terjadi? Itu akan menjadi salah satu perubahan paling berani dari saga Arabasta.

Bagaimana dengan sejumlah karakter lain?

Mr. 3 (dok. Netflix/One Piece)

Jujur, saya sempat tergoda memasukkan Mr. 3 ke daftar ini.

Bukan karena perannya kecil, justru sebaliknya. Di manga, ia punya perjalanan panjang, bahkan sampai terlibat dalam dinamika Cross Guild. Tapi faktor lain yang bikin saya kepikiran adalah aktornya: David Dastmalchian.

Dastmalchian bukan aktor sembarangan. Meski sering berada di posisi supporting, ia langganan proyek film besar Hollywood. Karena itu, sempat terlintas pikiran: apakah ia akan bertahan lama di serial ini?

Namun setelah dipikir-pikir lagi, kalaupun Mr. 3 dimatikan, rasanya itu bukan terjadi di Season 2.

Kalau live-action ingin mengambil jalur lebih kelam, momen paling logis adalah saat ia “dikeringkan” oleh Crocodile di Rainbase dan dijadikan makanan untuk Bananawani. Di manga, aura mengerikan Crocodile sempat terasa berkurang karena korban-korbannya (termasuk Mr. 3 dan bahkan Monkey D. Luffy) ternyata selamat.

Versi live-action bisa saja memilih jalan berbeda: membuat korban Crocodile selain Luffy benar-benar permanen. Itu akan mempertegas ancaman Shichibukai pertama yang dihadapi Topi Jerami.

Lalu bagaimana dengan Pell, sang Falcon?

Ia memang belum diumumkan untuk Season 2. Tapi kalau nantinya muncul di Season 3, saya justru merasa peluangnya untuk selamat sangat kecil.

Di manga, pengorbanannya untuk membawa bom raksasa menjauh dari Alubarna terasa heroik… sampai kemudian ia ternyata masih hidup. Sejak saat itu, Pell praktis hanya menjadi karakter latar tanpa peran signifikan. Fans sampai merasa dia bisa saja dimatikan di sana dan impact-nya akan lebih besar ketimbang sekarang, dimana dia hidup sebagai figuran.

Kalau live-action ingin menjaga bobot emosional momen itu, membuat Pell benar-benar gugur mungkin justru pilihan paling kuat.

Editorial Team