Takaba dan partner barunya ( Dok. Shueisha / Jujutsu Kaisen )
Partner lawak baru Takaba di bab 270 punya rambut yang mirip dengan Geto Suguru, sosok yang jasadnya lama digunakan Kenjaku. Terutama saat melawan Takaba.
Namun apakah sosok ini adalah Kenjaku, tiruan Kenjaku, atau sekedar orang yang rambutnya mirip belum diketahui. Sepanjang bab wajahnya tertutup.
Itulah fakta-fakta menarik tentang Kenjaku, makhluk kutukan manipulatif yang menjadi biang kerok konflik dalam Jujutsu Kaisen.
Bagaimana pendapat kalian? Jangan lupa tulis di kolom komentar, yah!
Pertama diterbitkan 17 Desember 2021, diterbitkan kembali 23 Januari 2026.
Untuk informasi yang lebih lengkap soal anime-manga, film, game, dan gadget, yuk gabung komunitas Warga Duniaku lewat link berikut:
Discord: https://bit.ly/WargaDuniaku
Tele: https://t.me/WargaDuniaku
Siapa Kenjaku sebenarnya, dan apa “wujud aslinya”? | Kenjaku adalah dalang utama yang sering disangka sebagai Geto. Identitasnya terbongkar saat ia membuka bagian atas kepala wadahnya dan menunjukkan wujud asli berupa “otak” yang mengendalikan tubuh orang lain (ditandai bekas jahitan di kepala). |
Apa saja manipulasi besar Kenjaku yang paling berdampak di cerita? | Ia menggerakkan eksperimen lintas generasi, termasuk keterkaitan dengan kasus Cursed Womb (Choso, Eso, Kechizu) lewat Noritoshi Kamo yang dikendalikan, serta narasi yang menguatkan keterlibatannya dalam kelahiran Itadori Yuji. |
Kenapa Kenjaku berbahaya dari sisi strategi dan kemampuan? | Ia sangat sabar dan ahli menyusun rencana jangka panjang, tahu kapan mundur, dan jarang gagal. Ia juga bisa memanfaatkan teknik dari tubuh penyihir yang ia ambil alih, serta mengekstrak kemampuan dari kutukan (contohnya memanfaatkan teknik Mahito untuk rencana berikutnya). |
Apa hubungan Kenjaku dengan Culling Game dan bagaimana akhir nasibnya? | Kenjaku memulai Culling Game untuk mendorong “evolusi” manusia terkait energi kutukan. Setelah rangkaian kejadian besar (termasuk interaksi dengan Takaba), ia diserang Yuta dan akhirnya benar-benar berakhir ketika inti/otaknya dihancurkan, meski dampak aksinya masih berlanjut ke konflik berikutnya. |