TUTUP

Sensor Anime Absurd Ternyata Juga Terjadi di Jepang!

Meski menjadi sumber anime, bukan berarti para penikmat anime di Jepang tidak bermasalah dengan sensor anime. Bahkan sensornya bisa lebih parah dari Indonesia!

Jika sebelumnya kami sempat membahas mengenai sensor-sensor yang rasanya berlebihan di televisi Indonesia. Ternyata hal yang sama pun terjadi di Jepang dan sensor anime disana lebih absurd lagi!

[read_more id="239372"]

Memperingati 30 tahun sejak penayangan anime berjudul Iczer One di televisi Jepang. Maka beberapa saat yang lalu ditayangkan OVA dari seri animasi tersebut. Judul Iczer mungkin kurang familiar bagi para penikmat anime di Indonesia, terlebih anime ini merupakan anime lawas yang dirilis pada 80an. Terlebih anime ini memiliki tema science fiction dengan bumbu kekerasan dan animasi yang cukup vulgar.

Hal ini memang sangat wajar untuk anime pada era tersebut terlebih dengan tema SF yang dibawakan. Sama halnya dengan film era 80an di Indonesia yang sarat kekerasan atau adegan vulgar. Tapi sayangnya para penggemar di Jepang yang menantikan penayangan OVA ini di televisi harus cukup menahan emosi. Memang bisa dimaklumi jika terjadi sensor anime disana-sini dan asalkan dilakukan dengan baik mungkin masih bisa dimaklumi. Namun yang terjadi adalah seperti ini.

Ya, alih-alih menggunakan sensor blur atau bayangan hitam secukupnya. Pihak yang melakukan sensor anime ini justru mengambil jalan pintas dengan menggunakan kotak hitam yang cukup besar.

Hal ini mengingatkan kita dengan hal yang sama yang terjadi dengan anime Teraformars atau yang terbaru pada anime Jojo's Bizarre Adventure. Mungkin kalian masih ingat pada 2014 Terraformars sempat menjadi pembicaraan hangat di kalangan para otaku. Tidak hanya karena kisahnya yang menarik, namun juga sederetan kekonyolan sensor anime ini.

Apa yang terjadi pada Jojo mungkin tidak separah Terraformars atau Iczer. Namun penempatan sensor anime Jojo mungkin yang paling konyol sejauh ini.

Ya, Jotaro yang merupakan tokoh utama anime ini memang masih 17 tahun dan kendati awalnya menga Jojo dirilis dalam majalah Shounen (Remaja), namun akibat undang-undang manga ini kemudian dipindahkan ke genre Seinen (Dewasa). Kalian penggemar seri ini tentunya juga tahu bahwa Jotaro merupakan seorang perokok, sedangkan menurut peraturan di Jepang, perokok harus berusia 20 tahun ke atas (sama dengan usia untuk minum alkohol). Maka jangan heran jika mulut Jotaro suatu waktu akan seolah tertutup bayangan aneh.

Jika kalian ingin menonton anime yang tanpa sensor maka versi Blu-ray adalah salah satu cara yang paling tepat. Meski harus menunggu setelah seri anime tersebut usai, namun versi ini umumnya tidak menggunakan sensor sama sekali. Tapi umumnya anime dengan animasi yang cukup vulgar seperti diatas ditayangkan pada slot tengah malam. Sehingga rasanya perlu dipertanyakan lagi apakah butuh sensor sebanyak itu, terlebih dengan kualitas sensor sekonyol itu.

Sensor memang dibutuhkan untuk melindungi anak-anak yang belum bisa menyerap mana yang baik dan buruk. Namun sebaiknya perlu dipertimbangkan juga cara sensor dan batasan sensor yang baik. Seperti mempertimbangkan estetika atau paling tidak jam penayangan acara tersebut. Rasanya acara tengah malam tidak perlu sensor sebanyak acara pada saat prime time. Bukankah tugas orang tua juga untuk mengontrol apa yang ditonton oleh anaknya di TV? Jika demikian, maka rasanya masalah sensor ini tidak akan menjadi seheboh sekarang, terlebih jika harus menyensor yang tidak perlu.