TUTUP

Jangan Baca Kalau Nggak Mau Kebocoran Novel Kakashi!

Kakashi jadi nggak pede karena kehilangan sharingan!? Yang sabar ya guru Kakashi.

Setelah sebelumnya telah dirilis mengenai topik cerita dari keenam novel Naruto yang akan terbit berurutan dalam tahun ini, [baca: Akhirnya Bocor Juga Cerita Ke-Enam Novel Epilog Naruto!] ternyata Shueisha telah merilis beberapa lembar bagian novel Kakashi Hiden: Hyoten no Ikazuchi. Novel yang berkisah mengenai insiden yang harus guru Naruto sekaligus Hokage keenam ini selesaikan ini ternyata dibocorkan di acara Jump Festa 2015. Bukan karena ketidaksengajaan, hal ini dilakukan untuk mempromosikan novel buatan Akira Higashiyama ini. Sudah nggak sabar? Nih gambar sekaligus translasi bahasa Indonesia-nya oleh [outbound_link text="Dunia Naruto Indonesia" link="https://www.facebook.com/DNIFans.cLub"].

Naruto - Kakashi Hiden: Hyoten no Ikazuchi Chapter 1: Halaman 1-2 Seperti biasa, Naruto yang tengah memegang semangkuk porselen berisi Ramen, tiba-tiba kepalanya muncul dari balik tirai kedai Ichiraku. "Kakashi-sensei! Kakashi-sensei!" panggilnya Di sisi lain, dari sudut pandang Kakashi, ia sepertinya tidak merasakan keberadaan Naruto, alias belum menyadarinya. Karenanya, ia mulai membolak-balikan halaman buku favoritnya, Icha-Icha Paradise. Selain itu, pada chapter ketiga dari buku tersebut memang berisi bagian yang paling "Icha-Icha" dalam serinya. Kakashi pura-pura tenggelam dalam bacaannya, mencoba mengabaikan dan membiarkan panggilan Naruto. Namun meski begitu, orang seperti Naruto bukanlah tipe orang yang bisa memaklumi perasaan orang lain, apapun keadaannya. "Kakashi-sensei 'tebayo!" "Ada apa? Aku terus manggilmu dari tadi... Kau belum tua-tua banget untuk menjadi tuli 'kan?" Naruto heran "Mm? Ahh, Naruto?" Dalam pikiran Kakashi. "Bukan begitu, maaf, maaf ya... Aku tadi terlena dengan buku, jadi aku tidak menyadarinya..." jawab Kakashi "Oh! Bagaimana kabar lengan buatanmu?" "Yah, soal ini masih terasa tidak pas, tapi..."
Sambil bicara, Naruto merasa canggung, ia membuka dan menggerak-gerakan sumpit dengan tangan kanannya. "Hmm, aku tidak terlalu banyak berharap -tebayo" "Ah, aku mengerti." Ngomong-ngomong, Kakashi-sensei, kau masih belum melakukan upacara pelantikan?" tanya Naruto "Eh?" Kakashi sambil mendekat agak kaget.. "Hmm, aku kurang begitu baik pada hal semacam itu." lanjutnya Akhir-akhir ini, kemana ia pergi, Kakashi terus mendapat pertanyaan seperti itu dan setelah itu Kakashi agak menghindar. Tentu saja, Kakashi telah memutuskan bahwa ia akan menjadi Hokage. Namun, baginya, ia berpikir bahwa kemampuannya saat ini tidak seperti yang diharapkan untuk menjadi Hokage. Setelah upacara pelantikan selesai, ia tidak boleh memiliki perasaan seperti itu lagi. Sekarang Perang Dunia Ninja Keempat telah berakhir, tidak perlu terburu-buru untuk menjadi Hokage berikutnya, kan? Kakashi terus berpikir demikian dengan alasan seperti itu. "Tapi bagaimana dengan Monumen Hokagenya, sudah selesai tuh!" ucap Naruto sambil menggunakan tangan kanannya yang masih kikuk, Naruto dengan berisik menyerup ramen. "Orang lain juga memperhatikan lho... Pertama, siapa yang jadi Hokage? Tidak jelas apakah itu kau atau Tsunade. Kau memberikan contoh buruk kepada desa-desa lain -tebayo. Itulah gunanya pelantikan 'kan?" oceh Naruto
"Tsunade-sama masih dalam keadaan sehat. Dan bagiku... " ucap Kakashi "Kalo soal Tsunade-bachan, dia sudah tidak cocok lagi -tebayo." Naruto terus membantah sambil menyatakan hal yang asal ceplos itu "Karena perang baru-baru ini, Tsunade berada di ambang kematian. Bagaimana mengatakannya ya, maksudku ada beberapa jenis pekerjaan yang dia tidak bisa maksimal dalam mengerjakannya." lanjut Naruto "Begitu ya?" pikir Kakashi "Menurutku saat dia pergi tanpa tujuan di siang hari waktu kerja, pasti ia pergi minum sake, atau mungkin... pergi ke tempat perjudian mencoba untuk memulai perkelahian. Ini bagaikan perang baginya di usia lanjut seperti ini, tidakkah kau menyadarinya?" terus ucap Naruto, ia juga tertawa terbahak-bahak setelah mengucapkan hal tersebut "Hei, haruskah kau bilang begitu dengan sangat antusias?" Bagi Kakashi itu bukan candaan. Setelah berkata seperti itu, dari belakang Naruto terlihat aura hitam haus darah yang luar biasa kuat, Naruto tak menyadarinya "Nah... Tsunade-bachan memang berada dalam usia yang mumpuni, tapi cukup bisa dimengerti bahwa dia secara bertahap akan menuju ke usia tua dan pensiun dalam waktu dekat, untuk menikmati hidupnya sendiri." masih terus Naruto dengan ocehannya "Eh... Err, begitu ya?" Aura dan sosok haus darah terus meningkat dalam skala besar. Kakashi sangat kebingungan. "Tsu... Tsunade-sama, menurutku dia masih muda. Ya. Aku benar-benar berpikir begitu!" ucap Kakashi
"Mana bisa! Dari kejauhan kau mungkin tidak tahu atau peduli soal itu, tetapi jika dilihat dari dekat, wajahnya ditutupi kerutan halus." Naruto terus melanjutkan perkataannya tanpa sadar ada seseorang memperhatikan dibelakangnya "Whaa!" "Tolong! Jangan bicara seperti itu!" dalam pikiran Kakashi "Nah, bicara soal ini, dengan suara keras yang berlebihan..." Tanpa Naruto melanjutkan perkataan yang seperti itupun, sosok haus darah terus tumbuh bahkan lebih buruk. "Kenapa kau gugup sekali, Kakashi-sensei?" Terlihat sepasang mata melotot bersinar dari belakang Naruto. Hanya Naruto yang tidak melihatnya. "Yah, aku tidak boleh berbicara keras-keras sih. Akhir-akhir ini, dia memang agak pemarah... sifat linglungnya juga sudah sangat mengerikan." "Haduh, matilah anak ini." pikir Kakashi Kakashi memejamkan mata, dia tidak mau melihat ketika kepalan tangan Tsunade tenggelam ke kepala Naruto. Namun, BAMM!!! Suaranya bukanlah lelucon belaka, tak peduli ia ingin melihatnya atau tidak, Kakashi tetap mendengar suara hantamannya. "Siapa yang kau bilang punya sifat linglung yang mengerikan!" Kemurkaan Tsunade menggema "Aku mudah marah, mungkin karena kau provokator nya!" ucap Tsunade dengan aura menyeramkan Saat Kakashi membuka matanya, ia melihat Naruto dengan benjolan besar di kepalanya tersungkur di tanah. "Kakashi!" teriak Tsunade
"Y.. Ya!" karena Tsunade melotot setelah mengejutkan mereka berdua, suara Kakashi menjadi terbata-bata. "Me.. Menurutku Tsunade-sama masih cukup muda..." lanjut ucap Kakashi "Kau masih belum memutuskan tanggal pelantikanmu? " "......" Kakashi terdiam "Keraguan itu, aku paham!" Ekspresi wajah Tsunade melunak. "Karena aku juga pernah merasakannya.." lanjutnya "Memang betul... Saat menjadi Hokage, kau tak bisa lagi hidup sesuai keinginan seperti sebelum-sebelumnya." Tsunade menganggukkan dagunya pada Naruto, menunjukkan bahwa ia telah jatuh di tanah. "Cepat atau lambat anak bodoh ini juga tidak akan bisa main-main dan hanya seenaknya sendiri lagi." pandang Tsunade pada Naruto Kakashi diam-diam mendengarkan Tsunade berbicara. "Tidak ada orang lain yang akan menjadi Rokudaime Hokage, selain dirimu." Kata Tsunade. "Naruto memang sudah menjadi kuat, tapi seperti yang kau lihat, dia masih belum cocok menjadi Hokage. Selain itu, pada Pertemuan Lima Kage lalu, bukankah sudah keputusannya kau yang yang menjadi Hokage?" ucap Tsunade "Karena saat itu, aku masih memiliki Sharingan" "......" "Karena Sharingan hilang, aku juga kehilangan Raikiri..."
"Soal Raikiri, itu karena aku punya penglihatan Sharingan. Oleh sebab itu aku bisa menggunakan jutsu itu. Jika aku menjadi Hokage dengan kondisi seperti sekarang, rasanya bingung bagaimana aku bisa melindungi Konoha? Itulah yang kupikirkan." "Kakashi..." ucap Tsunade "Maafkan aku, Tsunade-sama... sudah membicarakan hal ini. Mohon tunggu sampai misi yang sekarang sudah selesai." "Kau akan menjadi Rokudaime Hokage, Kakashi..." Kakashi ingat kalimat itu dari suara Obito. Setelah Kakashi diberikan Sharingan di peperangan yang lalu. "Apa yang kuragukan?" Dalam kepalanya, Kakashi mengelik lidahnya. "Soal Sharingan, dari awal, aku hanya dipinjami dengan batasan waktu tertentu bukan? ... Ahh, bagiku, mungkin, aku terlalu tergantung pada Sharingan.: "Dia seorang penjaga Tobishachimaru 'kan?" Tsunade mengubah topik pembicaraan. "Apa sudah ada cukup orang?" "Agak mepet, hampir saja tidak cukup personil. Tahun ini, sejak mereka bertugas di Kastil Hozuki (Blood Prison), Tim Guy dan Tim 10 Shikamaru seluruhnya ada disana." "Kastil Hozuki... mereka harus cepat memutuskan raja baru untuk kastilnya." "Untuk raja seperti Mui, memang mereka mungkin akan sulit untuk menemukan seseorang seperti dia." Mereka berdua sekarang mengobrol hal lain
Beberapa tahun sebelumnya, dengan strategi gabungan Konohagakure dan Kumogakure, Kastil Hozuki berhasil diselamatkan. Sebelum kastil dipulihkan, dan narapidana dikontrol dengan menggunakan Katon Tenrou oleh penguasa kastil, Mui. Saat menjalankan strategi itu, ia kehilangan nyawanya. Sejak itu, desa Konoha, Suna, Kumo, Iwa dan Kiri, bergantian mengirimkan penjaga penjara kesana. "Untuk Naruto, karena dia diperlukan untuk melindungi desa, kali ini rekan-rekan Jouninnya yang akan menemaniku pada misi. Nah, kalau kita yang jadi penjaga upacaranya, seharusnya tidak ada masalah. Bahkan jika kapalnya terbang, itu masih tugas kita." "Aku jadi ingat, bukankah Guy pernah bilang ingin ikut misi ini?... Dengan masalah kakinya, ia seharusnya tidak bilang seperti itu." "Seperti biasa, Guy, ia hanya ingin melihat sebuah kapal yang bisa terbang" kata Kakashi. "Kalau Guy, mungkin dia akan berangkat ke Nami no Kuni (Desa Ombak) dengan kursi rodanya." "Sebuah kapal terbang... merupakan kisah yang luar biasa, bukan? Saat ini, tampaknya keberadaan Tobishachimaru masih dirahasiakan kepada luar desa, namun... " "Ehh, soal itu pasti akan segera beredar luas. Jika informasinya bocor, pasti akan segera diminta oleh setiap desa dari masing-masing negara. Mereka semua akan mencoba untuk mencuri teknologi Tobishachimaru dari Nami no Kuni."
Secara singkat, dalam pikiran Kakashi, ia mengumpulkan pikiran-pikirannya. Mengenai izin dari langit dan bagaimana sesama shinobi saling menipu, pembunuhan-pembunuhan mungkin akan dimulai. Bersambung... Penulis: Akira Higashiyama Ilustrasi: Masashi Kishimoto Tanggal rilis: 4 Februari 2014 Detail: 224 Halaman Harga: 700 Yen / $5.90 USD Penerbit:: Jump J Books, Shueisha
Bagaimana? Menarik bukan untuk ditunggu. Di 15 halaman pembuka ini dijelaskan Kakashi tidak lagi 'pede' dengan kekuatannya karena kehilangan sharingan yang selama ini selalu ia manfaatkan. Bahkan Kakashi tidak bisa menggunakan raikiri andalannya lagi, ia mengakui bahwa tanpa sharingan ia tidak bisa mengontrol chakra seperti sebelumnya. Sedikit dijelaskan pula mengenai movie sebelumnya Naruto: Blood Prison di bocoran diatas. Ah, semoga saja rilis di Indonesia juga. Novel Kakakashi ini akan rilis tanggal 4 Februari mendatang dengan harga 700 yen. Kalau menggunakan kurs 105 rupiah/yen, maka harganya bisa dibilang diatas rata-rata novel di Indonesia, 73,500 rupiah. Tertarik untuk membeli?