Gyro, Johnny, Sandman, dan Diego (Dok. Warner Bros Japan/Steel Ball Run)
Selama ini, serial anime JoJo's Bizarre Adventure memiliki satu keunikan yang cukup membedakannya dari anime lain, yaitu pemilihan lagu ending yang hampir selalu menggunakan karya dari musisi Barat.
Tradisi tersebut sudah dimulai sejak Phantom Blood dan Battle Tendency melalui “Roundabout” dari Yes. Lagu ini bahkan begitu melekat dengan JoJo hingga bagian akhirnya sering dijadikan meme dengan kemunculan khas tulisan “To Be Continued”.
Tradisi tersebut kemudian berlanjut di Stardust Crusaders dengan “Walk Like an Egyptian” dari The Bangles dan “Last Train Home” dari Pat Metheny Group. Kemudian ada “I Want You” dari Savage Garden di Diamond is Unbreakable, “Freek'n You” dari Jodeci dan “Modern Crusaders” dari Enigma di Golden Wind, hingga “Distant Dreamer” dari Duffy di Stone Ocean.
Karena itu, Steel Ball Run terasa seperti membawa perubahan besar terhadap tradisi tersebut. Alih-alih menggunakan lagu dari musisi Barat, anime ini memilih lagu yang dibawakan oleh musisi Jepang. Bagi sebagian fans, pilihan tersebut terasa kurang menyatu dengan nuansa Western dan perjalanan melintasi Amerika yang begitu kental dalam Steel Ball Run.
Padahal, ada sejumlah lagu Barat yang dianggap bisa memberikan nuansa tersebut, seperti “A Horse with No Name” dari America, “The Chain” dari Fleetwood Mac, hingga “Pony” dari Ginuwine.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata-mata soal apakah lagu yang dipilih bagus atau tidak. Bagi sebagian penggemar, pemilihan musik Barat sudah menjadi bagian dari identitas JoJo's Bizarre Adventure. Karena itu, ketika tradisi tersebut tidak diteruskan dalam Steel Ball Run, perubahan kecil pada lagu ending pun terasa cukup signifikan.