Review Kafir: Horor Disturbing yang Lebih Suka Memelihara Misteri

Kafir ini jelas bukan tipikal horor Indonesia. Ada elemen misteri yang kuat sehingga ia lebih suka menyimpan rahasia alih-alih mengejutkan penonton dengan hantu seram.

Banyak orang membanding-bandingkan film Kafir dengan Pengabdi Setan (2017) arahan Joko Anwar. Secara konsep cerita, keduanya sungguh mirip.

Namun, Kafir terasa punya upaya untuk menjauhi treatment horor konvensional yang rajin mengumbar jumpscare.

Alih-alih penuh kejutan dengan musik memekakkan telinga dan make-up hantu yang seram, Kafir justru lebih mengandalkan atmosfer dan misteri. Film ini jelas bukan tipikal horor Indonesia.

Sebelum lanjut review Kafir berikutnya, tonton trailer dan baca sinopsisnya di bawah ini:

Sinopsis

Alkisah di suatu tempat di Indonesia tahun 1998, hiduplah keluarga sederhana yang tampaknya bahagia. Namun pada suatu malam, Herman ( Tedy Syach) tiba-tiba muntah darah dan mengeluarkan beling dari mulutnya. Ia tewas seketika.

Istrinya, Sri (diperankan dengan ciamik oleh Putri Ayudya), masih tidak bisa melupakan hal itu. Pasca-kematian Herman, Sri berubah menjadi aneh dan paranoid. Ia seperti diteror oleh sesuatu yang menakutkan. Ia kemudian mendatangi dukun Jarwo (Sujiwo Tejo yang berhasil mencuri perhatian) untuk meminta bantuan.

Anak bungsu Sri dan Herman, Dina (Nadya Arina) pun turut penasaran dan ikut menelusuri misteri keanehan ibunya. Sementara abangnya, Andi (Rangga Azof) malah sibuk memadu kasih dengan pacarnya, Hanum (Indah Permatasari).

Bersaing dengan Pengabdi Setan

Review Kafir: Horor Disturbing yang Lebih Suka Memelihara Misteri

Lanskap apresiasi terhadap film horor Indonesia boleh dibilang telah berubah pra dan pasca Pengabdi Setan-nya Joko Anwar. Film genre horor terlaris di tanah air itu pun menjadi standar film-film horor yang menyusul.

Sulit memang melepas ingatan-ingatan tentang Pengabdi Setan saat menonton Kafir. Mereka sama-sama mengambil kisah setelah seseorang meninggal. Di dalam Pengabdi Setan, sosok ibu sementara di dalam Kafir, sosok ayah.

Keduanya juga membahas hubungan manusia dengan setan. Pun juga secara teknis, nada gambar atau color grading dan detail perabotnya mirip, menyiratkan latar waktu yang diambil.

Banyak orang menganggap Kafir lebih menyeramkan daripada Pengabdi Setan, pun juga sebaliknya. Kalau diadu kadar horornya, Kafir masih bisa bersaing.

Hanya saja, terdapat perbedaan besar. Joko Anwar lebih matang dalam mengarahkan. Penyutradaraan Kafir oleh Azhar Kinoi Lubis (Jokowi, Surat Cinta untuk Kartini) ini kurang luwes sehingga berdampak pada akting para tokoh yang kaku.

Review Kafir: Horor Disturbing yang Lebih Suka Memelihara Misteri

Misalnya, film tampaknya ingin menggunakan bahasa Indonesia yang baku, dibuktikan dengan pengucapan kata “memiliki” alih-alih “punya” atau “sekali” alih-alih “banget”. Namun ia tidak konsisten karena juga terdengar kata seperti “gimana” dan “ngapain”.

Selain itu, para pemeran seperti dikomando untuk berakting lebih pelan sehingga beberapa kali membuat adegan tampak tidak natural.

Tapi, tunggu dulu... review Kafir ini bukan hanya soal hubungannya dengan Pengabdi Setan. Film yang ceritanya ditulis oleh Upi (30 Hari Mencari Cinta; My Stupid Boss; Realita, Cinta dan Rock’n Roll) masih punya banyak hal yang bisa ia tawarkan.

Kafir bukan film horor biasa. Ia “menyeleweng” dari formula film horor konvensional. Simak seperti apa di kelanjutan review Kafir di halaman sebelah.

Horor Disturbing yang Suka Menyimpan Rahasia

Review Kafir: Horor Disturbing yang Lebih Suka Memelihara Misteri

Selama ini, film horor populer selalu punya formula yang mirip, contohnya The Conjuring dan Insidious (keduanya disutradarai James Wan). Dua film itu mengambil kisah horor di rumah, melibatkan anggota keluarga, serta rutin mengagetkan penonton dengan jumpscare.

Film horor Indonesia pun mengikuti tren ini. Coba lihat film-film seperti Jailangkung, The Doll, Danur, dan lainnya; pengaruh horor James Wan benar-benar terasa.

Setelah kemunculan The Cabin in the Woods tahun 2012 lalu, tren film horor dunia langsung berubah.

Surat kabar Inggris Guardian menyebut film-film yang “menyeleweng” ini sebagai post-horror. Ciri utamanya, mereka tidak hanya terpaku pada jumpscare sebagai senjata utama menakut-nakuti penonton.

Flm-film keluaran rumah produksi A24 seperti The Witch (2015), It Comes at Night (2017), hingga yang terakhir Hereditary kemudian memelihara spirit post-horror tadi.

Hereditary misalnya, ogah menunjukkan hantu-hantu seram dan lebih suka membuat penonton tidak nyaman dengan atmosfer filmnya.

Review Kafir: Horor Disturbing yang Lebih Suka Memelihara Misteri

Upi yang menulis naskah film Kafir ini pun tampaknya berusaha keluar dari zona nyaman horor Indonesia ala ala Insidious tadi.

“Kami ingin membuat horor klasik yang tidak cuma berisi setan mengagetkan, tapi punya cerita yang kuat,” kata Upi seperti dikutip dari Antara.

Layaknya film detektif, Kafir membungkus ceritanya sendiri seolah-olah misteri. Sebagian besar film diisi dengan hal-hal ganjil yang selalu membuat penonton bertanya-tanya.

Apa Herman bersekutu dengan setan? Mengapa Sri mengalami hal-hal aneh, sementara anak-anaknya tidak?

Menonton Kafir itu seperti mendengar dua orang teman kita membicarakan rahasia. Dua orang teman kita itu tampaknya ketakutan, tapi kita juga ikut bergidik, padahal sama sekali tak tahu apa yang menakutkan itu.

Saya ambil contoh The Conjuring. Sedari awal kita sudah diberitahu bahwa ada sesuatu yang menyeramkan di rumah pasangan Perron. Sementara dalam Kafir, kita tak diberitahu mengapa Herman mati dan Sri tiba-tiba aneh.

Meskipun pengarahan Azhar kurang luwes seperti yang telah saya bilang sebelumnya, namun ia berhasil menyusun ritme dan mengatur atmosfer menakutkan di sepanjang film.

Bersama dengan naskah Upi dan Rafki Hidayat, Azhar menukar kejutan hantu ber-make-up seram dan musik menggelegar dengan suasana ganjil yang membuat penonton tidak nyaman.

Selain itu, film Kafir juga diisi oleh beberapa gambar-gambar disturbing, seperti sosok manusia yang terbakar hidup-hidup. Kalau kamu tidak kuat dengan adegan seperti itu, saya peringatkan.

Film Kafir ini sangat terbantu sekali oleh penata gambar Yunus Pasolang. Sinematografinya pintar dan berani mencari sudut pandang (angle) yang pada akhirnya terasa fresh karena jarang dimainkan di film Indonesia biasanya.

Review Kafir: Horor Disturbing yang Lebih Suka Memelihara Misteri

Kembali ke soal post-horror tadi, “pemberontakan” terhadap formula-formula yang sudah established seperti yang ditunjukkan Insidious sebelumnya pun datang bukan tanpa komentar negatif. Film It Comes at Night (2017) disebut-sebut sebagai “film terburuk” karena konten filmnya sama sekali jelas.

Sewaktu menonoton Hereditary-pun, saya menemukan banyak penonton di bioskop mengeluh, “Ini kok enggak ada hantunya?!” setelah beberapa menit hanya melihat drama keluarga.

Film Kafir, tampaknya terombang-ambing di pilihan antara kembali ke perlakuan mainstream seperti film-film horor Indonesia biasanya atau sebaliknya.

Kegalauan film Kafir untuk mengikuti formula yang sudah terjamin atau mengambil risiko dengan memberontak benar-benar terasa. Pilihan apa yang ia ambil? Simak di kelanjutan review Kafir di halaman sebelah. Peringatan, spoiler.

Akhir yang Mengecewakan

Review Kafir: Horor Disturbing yang Lebih Suka Memelihara Misteri

Saya menyayangkan pilihan artistik yang diambil Kafir dalam hal cara mengakhiri film.

Pendek cerita, keluarga Herman disantet oleh Hanum dan ibunya, Ratna, dengan motif balas dendam. Saya kira Kafir mencapai puncak keseraman setelah Andi dipukul tengkuknya oleh Hanum saat ia berusaha membongkar misteri keluarganya selama ini.

Baik Hanum dan Ratna tampak berjoget creepy di sebelah tubuh pingsan Andi. Saya membayangkan orang seperti apa Hanum dan Ratna yang berjoget senang setelah hampir membunuh orang.

Namun sayang, film ini menghabiskan kira-kira 15 menit akhir film dengan adegan Sri dan Andi menyaksikan Dina disantet Ratna. Ratna dan Hanum tertawa tanpa sebab seperti orang gila.

Ratna kemudian membeberkan alasan mengapa ia menyantet keluarga Sri. Inilah jawaban yang kita cari dari film ini. Namun, semua itu terasa tak lebih dari upaya film membeberkan semuanya seolah penonton tidak mengerti dan butuh penjelasan gamblang.

Review Kafir: Horor Disturbing yang Lebih Suka Memelihara Misteri

Ending seperti itu menunjukkan Kafir sepertinya masih belum percaya diri dengan treatment horor yang telah ia eksekusi sebelumnya. Kontradiktif malah, mengingat Kafir dengan sempat pintar menyimpan rahasia dan bermain misteri.

Kafir sesungguhnya bisa lebih baik andai lebih berani mengolah ending.

Kesimpulan

Kesimpulan dari review Kafir ini ialah, terpisah dari caranya mengakhiri film, Kafir adalah berlian di tengah film horor Indonesia yang bikin jenuh. Ia berani untuk tidak mengobral jumpscare dan berusaha menakuti penonton dengan atmosfer dan misteri yang menyeramkan.

Kafir masih sangat jauh lebih baik daripada film horor Indonesia lain yang lebih sibuk meraup untung, dan ia butuh diapresiasi.


Demikianlah review Kafir. Bagaimana pendapatmu tentang film ini? Sampaikan di kolom komentar, ya!

Diedit oleh Doni Jaelani

Artikel terkait

ARTIKEL TERBARU