Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Hal yang Terungkap Soal Kota Gotham DCU di Clayface! Korup?
Matt Hagen setelah wajahnya rusak. (Dok. Warner Bros./Clayface)
  • Gotham dalam Clayface digambarkan sebagai kota korup, dengan gangster dan sistem hukum yang dapat digunakan untuk menghancurkan warga.

  • Batman belum terlihat atau terasa secara terbuka, sementara kisah Matt Hagen berlangsung sebelum Superman (2025).

  • Gotham DCU berpotensi menghadirkan ancaman fantastis, selain jaringan kriminal dan korupsi yang sudah mengakar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2025

James Gunn mengonfirmasi bahwa Clayface berlangsung sebelum Superman (2025). Meskipun tayang setelah Superman, kisah Matt Hagen berlangsung lebih dahulu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Gotham dalam Clayface digambarkan sebagai kota korup yang dikuasai gangster, dengan Batman yang belum terlihat secara terbuka dan ancaman fantastis yang berpotensi muncul.
  • Who?
    Matt Hagen, Markos Szabo, kepolisian, gangster, Batman, Doctor Phosphorus, Rupert Thorne, dan James Gunn disebut dalam pembahasan Gotham DCU.
  • Where?
    Peristiwa dan gambaran tersebut berlangsung di Gotham, kota yang menjadi latar cerita Clayface dan proyek DCU terkait.
  • When?
    Clayface berlangsung sebelum Superman (2025), meskipun tayang setelah film tersebut.
  • Why?
    Gotham menarik karena sistem yang seharusnya melindungi warga dapat digunakan untuk menghancurkan mereka, sementara kriminalitas dan korupsi mengakar.
  • How?
    Clayface menampilkan korupsi, kekuasaan gangster, ketidakadilan terhadap Matt Hagen, serta kemungkinan ancaman dari individu dengan kemampuan melampaui manusia biasa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Clayface menunjukkan Gotham sebagai kota yang tidak adil. Matt Hagen dirugikan setelah wajahnya rusak, sementara Markos Szabo gagal dihukum. Polisi dan gangster masih kuat. Batman belum terlihat jelas. Kota itu juga bisa menghadapi orang dengan kekuatan aneh. Ceritanya terjadi sebelum Superman (2025), jadi urutan kisahnya berbeda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pendekatan Gotham DCU memberi ruang untuk memperluas jenis cerita dalam dunia Batman. Selain menampilkan korupsi dan gangster, kota ini dapat menghadirkan ancaman fantastis, persoalan identitas, serta hubungan dengan Creature Commandos tanpa menghilangkan konflik kriminal yang sudah menjadi bagian pentingnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

SPOILER ALERT!!!

Clayface, meski disajikan dengan pendekatan yang begitu berbeda dari film-film DCU lain, tetap menjadi bagian dari DC Universe.

Hal ini membuat Gotham sebagai latar cerita menjadi menarik. Sebab, kita bisa membayangkan akan kembali mengunjungi kota ini dalam proyek DCU mendatang, terutama lewat kisah Batman.

Lalu, apa saja yang sudah terungkap soal Gotham versi DCU lewat Clayface?

1. Kota korup yang dikuasai gangster

Clayface (dok. Warner Bros. Pictures/Clayface)

Ulah Markos Szabo membuat wajah Matt Hagen berantakan.

Namun, yang mengerikan sebenarnya bukan hanya aksi Szabo, melainkan juga apa yang terjadi setelahnya.

Kepolisian terkesan tidak menyelidiki kasus tersebut dengan benar. Tak lama kemudian, muncul narasi miring tentang Matt Hagen dari berbagai pihak, termasuk perempuan yang membuatnya terjebak dalam masalah tersebut dan kenalan masa lalunya.

Szabo sendiri kemudian gagal dijerat di pengadilan.

Ini mungkin bukan sesuatu yang mengejutkan. Gotham memang punya reputasi sebagai kota yang korup dan kerap berada di bawah kendali gangster.

Namun, ada satu hal yang membuat situasi ini semakin mengerikan: Matt Hagen sudah menjadi aktor yang sedang naik daun ketika musibah itu menimpanya. Status dan reputasinya pun ternyata tidak cukup untuk melindunginya dari ketidakadilan Gotham.

Kalau seorang aktor ternama saja bisa diperlakukan seperti itu, bagaimana nasib rakyat jelata yang tidak memiliki uang, koneksi, atau reputasi seperti Hagen?

Dari sini, Clayface memperlihatkan Gotham bukan sekadar kota dengan tingkat kriminalitas tinggi. Ini adalah kota tempat sistem yang seharusnya melindungi warga justru bisa digunakan untuk menghancurkan mereka.

2. Keberadaan Batman belum terlihat maupun terasa

Matt Hagen diserang di kamarnya. (Dok. Warner Bros./Clayface)

Para gangster dan polisi korup masih menguasai kota. Tidak ada Bat-Signal yang terlihat, tidak ada pula rumor tentang sosok berjubah kelelawar yang menghantui para penjahat Gotham.

Tentu saja, ini tidak serta-merta berarti Batman belum beroperasi pada era cerita Clayface.

Namun, semua itu memang memberikan kesan bahwa Gotham masih berada dalam kondisi ketika Batman belum beroperasi secara terbuka, atau keberadaannya belum menjadi sesuatu yang diketahui masyarakat luas.

Hal ini menarik karena kita bisa melihat Gotham sebelum Batman menjadi faktor yang diperhitungkan dalam kehidupan kriminal kota tersebut.

Di sisi lain, ada kesan timeless dalam penyajian estetika Gotham di film ini. Kita bisa mengenalinya sebagai kota Amerika pada era modern, tetapi tidak ada penanda waktu definitif yang langsung menunjukkan cerita ini berlangsung pada tahun berapa.

Pendekatan ini membuat Gotham terasa seperti kota yang bisa berada di berbagai periode. Masalah yang mendominasinya pun bukan teknologi futuristis atau ancaman superhero, melainkan mafia, korupsi, dan ketidakadilan yang sudah mengakar.

Ini juga membangkitkan kemungkinan tambahan bahwa Batman memang belum beraksi di saat Matt Hagen mengalami ketidakadilan.

Menariknya, James Gunn juga telah mengonfirmasi bahwa Clayface berlangsung sebelum Superman (2025). Dalam sebuah respons di Threads, ia menjelaskan bahwa film ini merupakan film DCU pertama yang urutan kronologisnya tidak mengikuti urutan rilis.

Dengan demikian, meskipun Clayface tayang setelah Superman, kisah Matt Hagen justru berlangsung lebih dahulu.

3. Ditambah Creature Commandos, Gotham terasa lebih fantastis daripada versi Matt Reeves

Clayface (dok. Warner Bros. Pictures/Clayface)

Gotham versi Matt Reeves pada dasarnya memiliki kemiripan dengan kota yang ditampilkan dalam Clayface: sebuah tempat yang diliputi korupsi dan masih berada dalam cengkeraman kekuasaan gangster.

Namun, jika kita mempertimbangkan Creature Commandos bersama Clayface, muncul gambaran bahwa Gotham DCU berpotensi menghadirkan ancaman yang jauh lebih fantastis daripada sekadar gangster atau sosok seperti Riddler.

Dalam Creature Commandos, terungkap bahwa Doctor Phosphorus pernah menghancurkan kekaisaran kriminal Rupert Thorne sebelum akhirnya dihentikan oleh Batman.

Artinya, Batman DCU sudah memiliki rekam jejak menghadapi ancaman yang jauh berbeda dari kriminal biasa, bahkan sebelum film solonya memperlihatkan aksinya secara langsung.

Sementara itu, Clayface memperkenalkan sosok yang mampu mengubah penampilan dan bentuk tubuhnya secara mengerikan.

Bayangkan jika kemampuan seperti itu dimanfaatkan dalam dunia kriminal Gotham. Ancaman yang muncul bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga persoalan identitas dan kepercayaan. Bagaimana seseorang bisa memastikan bahwa orang yang ditemuinya benar-benar orang yang bersangkutan bukan Clayface yang menyamar?

Jika ditambah dengan keberadaan Doctor Phosphorus, Gotham DCU berpotensi menjadi kota yang harus menghadapi dua jenis ancaman sekaligus: jaringan kriminal yang korup dan individu dengan kemampuan yang melampaui batas manusia biasa.

Ini membuat prospek kisah Batman DCU semakin menarik.

Batman bukan hanya harus berhadapan dengan gangster yang mengendalikan kota, tetapi juga kemungkinan munculnya sosok-sosok aneh yang tidak bisa ditangani dengan metode penegakan hukum konvensional.

Curated For You

Editorial Team

Related Article