Street Fighter (2026) mulai tayang hari ini di Indonesia!
Saya sih sudah duluan nonton bersama rekan media dan tamu undangan di hari Senin.
Gimana kesan saya?
Mari kita bedah.

Street Fighter (2026) mulai tayang hari ini di Indonesia!
Saya sih sudah duluan nonton bersama rekan media dan tamu undangan di hari Senin.
Gimana kesan saya?
Mari kita bedah.
Berlatar pada tahun 1993, Ryu (Andrew Koji) dan Ken Masters (Noah Centineo), dua petarung Street Fighter yang telah berpisah, terpaksa kembali bertarung ketika Chun-Li (Callina Liang) yang misterius merekrut mereka untuk Turnamen World Warrior berikutnya: sebuah pertarungan brutal yang memadukan pukulan, takdir, dan amarah.
Namun, di balik pertarungan besar ini tersembunyi sebuah konspirasi mematikan yang memaksa mereka untuk saling berhadapan dan menghadapi bayangan masa lalu. Dan jika mereka tidak berhasil, GAME OVER!
| Producer | Mary Parent, Cale Boyter, Jason Momoa, Takayuki Nakayama, Stefan Makhoul |
| Writer | T.J. Fixman, Kitao Sakurai |
| Age Rating | 13+ |
| Genre | Aksi, Fantasi |
| Duration | 120 Minutes |
| Release Date | 13-10-2026 |
| Theme | martial arts, based on video game, martial arts tournament, wuxia, hand to hand combat, 1990s, battle royale, power, powers |
| Production House | Capcom, Legendary Pictures |
| Where to Watch | XXI |
| Cast | Andrew Koji, Noah Centineo, Callina Liang, Joe Anoa'i, David Dastmalchian |
Ada satu kejutan menarik ketika saya menonton filmnya.
Bagian flashback film ini disajikan dalam bentuk anime!
Meski visualnya tentu lebih modern, saya bahkan merasa ada vibe Street Fighter II: The Animated Movie dalam gayanya.
Latar belakang Ryu dan Ken bersama guru mereka, Gouken, juga terasa lebih epik karena bagian anime ini. Bahkan, format anime membuat filmnya mampu menampilkan karakter tertentu yang aktor live-actionnya belum ada!
Bagian anime film ini juga punya satu hal yang bagi saya keunggulan: bagian ini disajikan serius, tanpa humor aneh yang jadi salah satu hambatan saya sepenuhnya mencintai filmnya.
Tapi mari kita bahas yang lain dulu.
Pada tahun 90-an, seorang anak kecil bernama Fahrul Razi Uni Nurullah pernah merengek kepada bapaknya agar diajak ke bioskop di Malang untuk menonton Street Fighter yang dibintangi Jean-Claude Van Damme.
Anak itu kemudian bingung.
Bagian mana dari film ini yang sebenarnya Street Fighter?
Para aktornya tidak terlalu mirip dengan karakter yang ia kenal dari game. Jurus-jurus ikoniknya juga sangat sedikit diperlihatkan.
Tentu saja, anak kecil itu belum punya kemampuan untuk menjelaskan masalah adaptasi secara mendalam. Yang dia tahu, film yang sedang ditontonnya terasa berbeda dari game yang dia sukai.
Dan sepertinya, Street Fighter (2026) akan membuat versi kecil saya jauh lebih puas.
Film ini punya fokus yang jelas: Ryu dan Ken, serta konflik yang berakar dari masa lalu mereka.
Memang, ada bagian yang membuat film ini terasa ingin menceritakan terlalu banyak hal sekaligus. Namun, karena hubungan kedua karakter tersebut tetap menjadi pusat cerita, filmnya tidak sampai benar-benar kehilangan arah.
Lalu ada pertarungannya.
Tubuh Dhalsim yang bisa melar, jurus-jurus ikonik Ryu dan Ken, cara Balrog bertarung dengan licik, hingga kengerian Akuma, semuanya berhasil membawa elemen-elemen yang membuat Street Fighter terasa seperti Street Fighter.
Bahkan, meskipun konflik utama film ini pada dasarnya berkembang di luar arena, turnamen World Warrior tetap berlangsung. Ken pun sempat menghadapi sejumlah petarung dalam rangkaian pertandingan tersebut.
Artinya, aspek yang menjadi fondasi franchise ini juga tidak dilupakan: para petarung dari berbagai latar belakang bertemu, mengerahkan kemampuan mereka, dan bertarung untuk membuktikan siapa yang lebih kuat.
Saya tetap punya sejumlah keluhan terhadap film ini. Ada keputusan cerita dan eksekusi yang menurut saya bisa dibuat lebih baik.
Namun, saya juga tidak bisa menampik satu hal. Ini benar-benar terasa seperti film Street Fighter.
Dan bagi anak kecil yang dahulu kebingungan mencari bagian Street Fighter dalam film Jean-Claude Van Damme, itu mungkin sudah menjadi alasan tersendiri untuk merasa puas.
Kalau kita membahas kelemahan Street Fighter (2026), ada beberapa hal yang bahkan sudah saya catat di notes pribadi saya sejak meninggalkan bioskop.
Pertama: humornya.
Street Fighter (2026) menggunakan salah satu pendekatan humor yang kurang saya sukai dalam film modern: menyisipkan komedi di tengah adegan yang seharusnya dibiarkan mengalir serius.
Saya mulai merasa jenuh dengan pendekatan ini sejak film-film Marvel seperti Thor: Love and Thunder, dan sayangnya, saya juga tidak terlalu menyukainya di sini.
Masalahnya bukan karena film ini punya humor. Masalahnya adalah ketika humor digunakan terlalu sering untuk memotong momen serius, filmnya bisa terasa tidak percaya diri dengan emosi yang sedang dibangun.
Sebuah adegan baru saja memperlihatkan konflik personal, ketegangan, atau penderitaan karakter. Penonton mulai meresapi situasinya, tetapi kemudian film buru-buru menyisipkan lelucon.
Kadang berhasil. Namun, ada juga momen ketika leluconnya terasa tidak kena karena setup-nya kurang kuat, atau karena adegan tersebut sebenarnya tidak membutuhkan humor sama sekali.
Saya juga kurang memahami beberapa kebiasaan aneh yang ditambahkan ke karakter seperti Guile, Bison, dan sejumlah karakter lainnya. Beberapa tingkah laku tersebut tidak terlalu berkaitan dengan karakterisasi mereka dalam game, tidak memberikan dampak berarti terhadap perkembangan karakter, dan terasa seperti ditambahkan semata-mata untuk menyediakan lapisan komedi tambahan.
Yang lucu, bagian flashback anime justru memperlihatkan masalah ini dengan cukup jelas.
Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, bagian anime tersebut bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga berhasil menyajikan tragedi Ryu, Ken, dan Gouken dengan pendekatan yang serius. Filmnya memberikan ruang bagi konflik mereka untuk berkembang dan membiarkan emosi dari kejadian-kejadian tersebut meresap.
Ketika kembali ke bagian live-action, kontrasnya terasa cukup mencolok.
Bagian anime terasa percaya diri dengan dramanya, sementara bagian live-action terkadang seperti buru-buru mengingatkan penonton bahwa film ini juga ingin melucu.
Akibatnya, kedua bagian tersebut terasa kurang seimbang. Padahal, materi ceritanya sendiri sebenarnya cukup kuat untuk menopang drama yang serius.
Apakah saya anti-humor? Tentu tidak.
Street Fighter punya banyak karakter, jurus, dan situasi absurd yang memang bisa menjadi sumber komedi. Saya juga tidak berharap film ini mendadak menjadi drama bela diri yang muram sepanjang durasi.
Namun, saya berharap ada keseimbangan yang lebih baik antara drama di bagian anime dan komedi di bagian live-action. Sebab, ketika humor live-action-nya sesekali terasa seperti berasal dari komedi remaja ala American Pie, sementara flashback-nya menyajikan tragedi yang cukup emosional, perbedaan nadanya menjadi terasa njomplang.
Kedua: saya cukup bingung dengan pendekatan terhadap beberapa karakternya.
Untuk karakter utama, menurut saya Ryu dan Ken justru menjadi salah satu kekuatan film ini.
Ryu digambarkan sebagai petarung berbakat dan serius yang harus bergulat dengan Dark Hado serta ketakutan terhadap sisi gelap dirinya sendiri.
Ken, di sisi lain, kehilangan arah setelah hubungannya dengan Ryu retak. Ia juga dibebani perasaan inferior karena selama ini merasa hidup dalam bayang-bayang sahabatnya tersebut.
Bahkan, masa lalu mereka memperlihatkan bagaimana Ken mampu menguasai Hadoken lebih dahulu, sebelum hubungan keduanya akhirnya berubah menjadi konflik yang lebih besar.
Dinamika tersebut memberikan fondasi emosional yang jelas bagi filmnya. Ryu dan Ken bukan sekadar dua karakter ikonik yang dipertemukan untuk bertarung; mereka adalah dua orang dengan luka dan cara menghadapi masa lalu yang berbeda.
Dhalsim juga menjadi salah satu karakter yang paling menarik perhatian saya.
Ia tetap membawa berbagai elemen ikonis dari game, tetapi Vidyut Jammwal berhasil menghadirkan ketenangan spiritual yang membuat karakternya terasa lebih utuh. Ketika dipadukan dengan gaya bertarungnya yang ajaib, hasilnya adalah Dhalsim yang terasa unik tanpa harus menjadi karikatur.
Sayangnya, pendekatan yang sama tidak selalu terasa berhasil pada karakter lain.
Bison, Cammy, Juli, dan beberapa karakter lainnya mengalami perubahan atau penambahan karakterisasi yang cukup bebas. Perubahan tentu bukan masalah dengan sendirinya, apalagi sebuah adaptasi memang perlu menyesuaikan karakter untuk kebutuhan cerita baru.
Namun, tidak semua perubahan tersebut terasa memberikan hasil yang sepadan.
Ada karakter yang justru terasa kurang menarik karena pilihan karakterisasinya, sementara beberapa tambahan malah membuat saya bertanya-tanya apa sebenarnya fungsi mereka dalam film.
Contohnya adalah rekan kerja Chun-Li yang terobsesi kepadanya secara tidak sehat.
Saya bisa memahami kemungkinan bahwa karakter tersebut dimaksudkan sebagai sumber komedi, atau mungkin sebagai sindiran terhadap penggemar yang terlalu terobsesi dengan Chun-Li.
Namun, setelah melihat hasil akhirnya, saya justru bertanya-tanya: apakah film ini benar-benar membutuhkan karakter seperti itu?
Apakah keberadaannya memperkaya cerita Chun-Li? Apakah ia memberikan sesuatu yang berarti terhadap konflik utama? Atau apakah ia hanya hadir untuk menyediakan beberapa lelucon tambahan?
Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan tersebut belum mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan.
Pada akhirnya, masalahnya bukan karena Street Fighter (2026) berani mengubah karakter dari game. Saya justru bisa menerima bahwa adaptasi perlu mengambil kebebasan tertentu.
Masalahnya adalah ketika perubahan tersebut tidak selalu membuat karakter menjadi lebih menarik, sementara beberapa di antaranya malah terasa seperti kendaraan untuk humor yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Dan mengingat film ini sudah memiliki fondasi yang cukup kuat melalui konflik Ryu dan Ken, saya merasa ada beberapa karakter yang sebenarnya bisa ditulis dengan lebih baik.
Ketiga: Terlalu Banyak Karakter
Ini mungkin sulit dihindari untuk film Street Fighter, mengingat roster karakternya yang banyak dan penggemar tentu ingin melihat sebanyak mungkin petarung favorit mereka tampil. Namun, film ini jelas memasukkan terlalu banyak karakter untuk durasi yang tersedia.
Ada karakter yang meski tampil singkat tetap punya fungsi jelas dalam cerita, seperti E. Honda. Kehadirannya membantu perkembangan Ryu sekaligus memperlihatkan semangat bertarung yang menjadi ciri khas Street Fighter.
Namun, ada juga karakter yang terasa kurang dimanfaatkan. Saya bisa melihat bahwa pemilihan aktornya sudah tepat, penampilannya cukup untuk membuat penggemar mengenalinya, lalu film berakhir dan saya baru menyadari, "Lho, heh? Zangief tadi ngapain aja?"
Memang menyenangkan melihat banyak karakter ikonik hadir dalam adaptasi ini. Namun, kemunculan mereka tidak otomatis membuat cerita menjadi lebih baik jika sebagian besar tidak punya fungsi berarti. Beberapa karakter terasa lebih seperti fan service yang kebetulan mendapat jatah tampil daripada bagian penting dari cerita.
Keempat: Film yang Terasa Menunggu Sekuel
Jelas bahwa film ini dibuat dengan pertimbangan bahwa kisahnya masih akan berlanjut. Ada sejumlah konflik dan karakter yang potensinya belum benar-benar digali, sementara beberapa perkembangan cerita terasa seperti persiapan untuk film berikutnya.
Akibatnya, setelah credit title bergulir, ada sedikit sensasi bahwa film ini belum sepenuhnya utuh. Kita sudah menyaksikan sebuah cerita, tetapi rasanya masih ada bagian yang sengaja ditahan untuk sekuelnya.
Namun, setidaknya film ini tidak sepenuhnya bergantung pada janji kelanjutan tersebut. Hubungan Ryu dan Ken tetap menjadi inti cerita, dan perkembangan serta konklusi konflik mereka memberikan film ini alur yang cukup jelas untuk berdiri sendiri.
Jadi, meskipun masih terasa seperti bagian pertama dari kisah yang lebih besar, Street Fighter tetap punya cerita yang bisa dinikmati sebagai satu film. Fondasinya sudah ada; sekarang tinggal melihat apakah sekuelnya mampu mengembangkan potensi yang masih tersisa.
Jadi, bagaimana kesimpulan saya soal Street Fighter?
Saya benar-benar senang punya waktu untuk meresapi film ini. Saya menontonnya saat screening hari Senin, lalu baru menulis review ini pada hari Rabu. Jeda tersebut memberi saya kesempatan untuk memikirkan kontras menarik yang saya rasakan setelah menontonnya.
Di satu sisi, film ini punya banyak aspek yang membuatnya terasa seperti adaptasi Street Fighter yang proper. Bagian flashback anime-nya, terutama, luar biasa kuat.
Kalau Fahrul Razi kecil menonton film ini pada era 90-an, dia tidak akan kebingungan dan bertanya-tanya apakah dirinya salah masuk studio untuk menonton film aksi Jean-Claude Van Damme yang kebetulan memakai nama Street Fighter. Dia akan yakin bahwa dirinya memang sedang menonton Street Fighter.
Di sisi lain, seperti yang sudah saya bahas di poin-poin sebelumnya, saya punya daftar komplain yang cukup panjang soal sejumlah aspek film ini. Mulai dari masalah tonal, karakterisasi yang tidak selalu berhasil, terlalu banyak karakter yang tidak dimanfaatkan secara maksimal, hingga cerita yang masih terasa menyiapkan jalan untuk sekuel.
Pada akhirnya, saya memberikan Street Fighter nilai 3,5 dari 5 bintang.
Saya tetap terhibur menontonnya. Film ini punya sejumlah aspek kuat yang benar-benar saya sukai, dan ada momen-momen yang membuat saya merasa bahwa adaptasi Street Fighter memang seharusnya bisa seperti ini.
Namun, film ini juga punya sejumlah masalah serius yang membuatnya sulit bagi saya untuk menyukainya tanpa catatan.
Street Fighter berhasil membuat saya senang sebagai penggemar, tetapi belum sepenuhnya meyakinkan saya sebagai penonton yang menginginkan sebuah film yang solid dari awal sampai akhir.