Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Street Fighter 2026 vs Mortal Kombat II, Bagusan Mana?
(Dok. Paramount/Street Fighter, dok. Warner Bros./Mortal Kombat II)
  • Mortal Kombat II unggul dalam karakterisasi, keutuhan cerita, serta keseimbangan humor, kekerasan, dan konflik emosional.

  • Street Fighter kuat dalam menghadirkan jurus ikonik, koreografi teatrikal, serta hubungan Ryu dan Ken.

  • Keduanya sama-sama berhasil menerjemahkan identitas franchise game ke layar lebar, meski masih memiliki kelemahan masing-masing.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2021

Mortal Kombat dirilis dan disebut cukup setia terhadap identitas game-nya. Film tersebut menjadi cerita yang dilanjutkan oleh Mortal Kombat II.

Desember 2025

Pada ajang The Game Awards, Andrew Schulz melontarkan candaan tentang para pemeran Mortal Kombat II. Ucapannya memancing komentar dari Lewis Tan.

2026

Street Fighter dan Mortal Kombat II kembali hadir dengan film baru dan dibandingkan berdasarkan sejumlah aspek.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Perbandingan antara film Street Fighter (2026) dan Mortal Kombat II berdasarkan sejumlah aspek, termasuk aksi, karakter, cerita, serta identitas franchise.
  • Who?
    Street Fighter dan Mortal Kombat II, bersama karakter-karakter seperti Ryu, Ken, Johnny Cage, dan Kitana.
  • Where?
    Di layar lebar sebagai adaptasi dari franchise game Street Fighter dan Mortal Kombat.
  • When?
    Pada 2026, ketika kedua film baru tersebut hadir. Perbandingan juga menyebut Mortal Kombat (2021) dan The Game Awards pada Desember 2025.
  • Why?
    Karena kedua film merupakan adaptasi dari franchise game legendaris dan memiliki sejarah adaptasi live-action yang bermasalah.
  • How?
    Dengan membandingkan kesetiaan terhadap game, koreografi pertarungan, karakterisasi, bobot emosional, tone, serta keutuhan cerita.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mortal Kombat II dan Street Fighter adalah film dari game yang terkenal. Keduanya punya petarung dan jurus yang mirip dengan game. Street Fighter bagus dalam hubungan Ryu dan Ken. Mortal Kombat II punya cerita yang lebih selesai dan akhirnya dianggap lebih bagus.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kedua film menunjukkan bahwa adaptasi fighting game dapat menghadirkan karakter ikonik, jurus yang dikenal penggemar, dan pertarungan dengan identitas yang jelas. Mortal Kombat II lebih unggul dalam konsistensi dan keutuhan cerita, sementara Street Fighter menonjolkan jurus-jurus ikonik serta hubungan Ryu dan Ken sebagai fondasi emosional.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada ajang The Game Awards pada Desember 2025, komedian sekaligus aktor Street Fighter, Andrew Schulz, melontarkan candaan tentang para pemeran Mortal Kombat II yang tidak menghadiri acara tersebut. Menurutnya, mereka tidak peduli kepada penonton dan hanya peduli pada uang. Ia kemudian membandingkan mereka dengan tim filmnya sendiri sambil berseru, "Kami peduli pada uang dan juga kalian. Street Fighter selamanya!"

Ucapan itu sempat memanaskan netizen hingga memancing komentar dari Lewis Tan. Untungnya, situasi tidak berkembang menjadi perseteruan yang lebih serius. Namun, momen tersebut juga membuat perbandingan antara Street Fighter dan Mortal Kombat semakin menggoda.

Bagaimana tidak? Keduanya merupakan adaptasi dari franchise game legendaris. Keduanya juga punya sejarah adaptasi live-action yang bermasalah. Dan pada 2026, keduanya kembali hadir dengan film baru.

Saya sudah menonton dan mengulas kedua film tersebut. Saya juga punya sejumlah komplain terhadap masing-masing film. Namun, kalau keduanya dibandingkan secara langsung, mana yang sebenarnya lebih bagus?

Mari kita bedah!

1. Seberapa terasa seperti game aslinya?

Cammy White. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter)

Lucunya, dalam aspek ini, kedua film justru terasa lebih dekat dengan game aslinya dibandingkan sejumlah adaptasi live-action mereka sebelumnya.

Mortal Kombat (2021) sebenarnya sudah cukup setia terhadap identitas game-nya. Namun, Mortal Kombat II semakin meningkatkan kualitasnya dengan menghilangkan konsep seperti Arcana dan mengalihkan fokus dari Cole Young, karakter baru yang cukup kontroversial, kepada Johnny Cage. Para karakter seperti Liu Kang, Shao Kahn, Sonya Blade, dan lainnya juga mendapat kesempatan untuk memperlihatkan jurus-jurus ikonik mereka.

Di sisi lain, keunggulan terbesar Street Fighter (2026) adalah film ini tidak lagi ragu menampilkan keajaiban dunia Street Fighter. Shoryuken, Hadoken, Psycho Crusher, dan berbagai jurus ikonik lainnya hadir dengan visual yang membuatnya terasa seperti sesuatu yang benar-benar bisa kita lihat ketika memainkan gamenya.

Kedua film tentu masih punya kelemahan masing-masing. Namun, dalam hal menerjemahkan identitas game ke layar lebar, keduanya berhasil melakukan sesuatu yang sangat penting: membuat penonton merasa bahwa mereka sedang menyaksikan Street Fighter dan Mortal Kombat, bukan sekadar film aksi yang kebetulan menggunakan nama karakter dari kedua franchise tersebut.

Hasil: Seri.

2. Aksi dan koreografi pertarungan

Shao Kahn. (Dok. Warner Bros./Mortal Kombat II)

Ini menarik, karena kedua film sama-sama punya kekuatan dalam menyajikan pertarungan, tetapi dengan pendekatan yang berbeda.

  • Mortal Kombat II mengandalkan pertarungan brutal, kekerasan eksplisit, dan konflik Outworld-Earthrealm yang menjadi identitas franchise-nya.

  • Street Fighter mengandalkan pertarungan teatrikal dengan jurus-jurus ajaib yang terkadang menantang hukum fisika maupun batas kemampuan tubuh manusia.

Dari segi kepadatan pertarungan, Mortal Kombat II terasa lebih unggul. Street Fighter menghabiskan cukup banyak waktu untuk eksplorasi karakter dan flashback masa lalu Ryu serta Ken. Namun, ketika pertarungan benar-benar terjadi, duel-duelnya sering kali mampu memukau penonton.

Pada akhirnya, keduanya memahami bahwa pertarungan dalam film fighting game bukan sekadar soal siapa yang memukul paling keras. Identitas karakter dan gaya bertarung mereka juga harus terasa di layar.

Mortal Kombat II lebih unggul dalam intensitas dan kepadatan aksi, sementara Street Fighter punya daya tarik tersendiri melalui koreografi yang teatrikal dan jurus-jurus ikoniknya.

Saya sulit memilih salah satu secara mutlak karena keduanya berhasil dengan cara berbeda.

Hasil: Seri.

3. Karakterisasi dan pemanfaatan roster

Ken dan Ryu. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter)

Mortal Kombat II menghadapi tantangan yang tidak mudah. Film pertamanya sudah memperkenalkan banyak karakter, sementara sekuelnya masih harus menyediakan ruang bagi tambahan karakter penting seperti Johnny Cage dan Kitana, termasuk hubungan Kitana dengan Shao Kahn dan Jade.

Street Fighter juga menghadapi masalah serupa. Film ini memiliki roster yang sangat besar, sampai-sampai sosok penting seperti Gouken hanya mendapat ruang melalui flashback anime.

Kedua film punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun, ada kesamaan dalam cara mereka mengatasi masalah tersebut: keduanya menempatkan dua karakter sebagai pusat cerita.

Mortal Kombat II mengandalkan Johnny Cage dan Kitana sebagai jangkar cerita, sementara Street Fighter bertumpu pada Ryu dan Ken. Pengembangan karakter-karakter utama tersebut cukup kuat, tetapi karakter lain terkadang harus puas mendapatkan porsi yang lebih terbatas.

Saya akhirnya memberikan keunggulan kepada Mortal Kombat II, meskipun secara pribadi saya lebih menyukai pengolahan Ryu dan Ken dalam Street Fighter.

Kenapa?

Pertama, Mortal Kombat II terasa lebih konsisten dalam memperlakukan karakter-karakternya. Ada sejumlah keputusan karakterisasi dalam Street Fighter yang membuat saya bertanya-tanya, "Kenapa dibikin begini, ya?" Sebaliknya, bahkan ketika Mortal Kombat II memberikan sentuhan komedi kepada karakter seperti Baraka, penyajiannya masih terasa relatif selaras dengan identitas yang dikenal penggemar.

Kedua, pembagian sorotannya terasa lebih memuaskan. Bahkan karakter yang hanya muncul sebentar, seperti Revenant Sindel, tetap mendapatkan momen yang membuat kehadirannya terasa berarti. Sementara itu, beberapa karakter dalam Street Fighter, seperti Zangief, terasa kurang dimanfaatkan, setidaknya dalam film ini.

Tentu saja, potensi mereka masih bisa dikembangkan dalam sekuel. Namun, dalam membandingkan film yang sudah dirilis, saya harus menilai apa yang benar-benar disajikan, bukan hanya apa yang mungkin terjadi nanti.

Hasil: Mortal Kombat II.

4. Cerita dan bobot emosional

Mortal Kombat II (dok. Warner Bros Pictures/Mortal Kombat II)

Street Fighter punya sejumlah kelemahan dalam penceritaannya. Namun, ada satu aspek yang menurut saya berhasil menjadi fondasi kuat: hubungan Ryu dan Ken.

Konflik keduanya menjadi pusat gejolak emosional film. Flashback anime yang menggambarkan masa lalu mereka bersama Gouken memberikan bobot tambahan pada cerita, sementara perkembangan karakter Ken membuat hubungan mereka terasa lebih kompleks daripada sekadar rivalitas dua petarung.

Sayangnya, cara film ini berakhir juga memberikan kesan bahwa meskipun konflik personal Ryu dan Ken telah mencapai titik penyelesaian yang cukup memuaskan, kisah mereka melawan Shadaloo masih akan berlanjut dalam film berikutnya.

Lucunya, Mortal Kombat II juga menghadapi persoalan yang berkaitan dengan sekuel. Film ini melanjutkan cerita dari Mortal Kombat (2021), lalu memberikan petunjuk tentang kemungkinan konflik dalam Mortal Kombat 3.

Namun, bagi saya, cerita Mortal Kombat II terasa lebih rampung. Johnny Cage dan Kitana mendapatkan perkembangan yang mengarah pada konklusi story arc mereka, sementara ancaman utama dalam film ini juga ditangani. Teaser untuk film berikutnya lebih terasa seperti petunjuk bahwa para pahlawan yang bertahan hidup kini harus menghadapi persoalan baru, bukan tanda bahwa cerita yang sedang kita tonton belum benar-benar selesai.

Perbedaan itu cukup signifikan. Film yang menyiapkan sekuel tidak otomatis terasa tidak utuh. Yang penting, apakah konflik utama dalam film tersebut sudah mendapatkan penyelesaian yang memuaskan?

Dalam hal ini, Mortal Kombat II berhasil memberikan rasa tuntas yang lebih kuat.

Hasil: Mortal Kombat II.

5. Tone: humor, kekerasan, dan identitas franchise

Ryu bersiap mengerahkan Hadoken melawan Ken. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter)

Oh, dalam aspek ini, Mortal Kombat II unggul. Dan dibandingkan beberapa kategori sebelumnya, saya jauh lebih yakin dengan pilihan ini.

Mortal Kombat II terasa lebih konsisten dalam menghormati identitas karakter-karakternya sekaligus mempertahankan keseriusan konflik utama. Bahkan Cole Young, karakter yang cukup kontroversial dari film pertama dan tidak lagi menjadi pusat cerita di sini, tetap mendapatkan penanganan yang terasa sesuai dengan posisinya dalam konflik. Ia tersingkir ketika menghadapi Shao Kahn yang sedang kuat-kuatnya, alih-alih sekadar disingkirkan tanpa arti.

Film ini juga punya beberapa momen lucu, terutama disampaikan melalui Johnny Cage. Namun, humornya tidak sampai menghilangkan kesan bahwa pertarungan antara Outworld dan Earthrealm merupakan konflik yang serius.

Sebaliknya, humor dalam Street Fighter beberapa kali terasa seperti komedi level American Pie yang tiba-tiba menyela momen serius. Bagi saya, masalahnya bukan karena film tersebut menggunakan humor absurd, melainkan karena beberapa lelucon terasa mengurangi dampak emosional adegan yang seharusnya punya bobot lebih besar.

Belum lagi sejumlah keputusan karakterisasi yang membuat saya bertanya-tanya mengapa karakter tertentu harus digambarkan seperti itu.

Hasilnya, kedua film memang punya pendekatan komedi yang berbeda, tetapi Mortal Kombat II terasa lebih berhasil menjaga keseimbangan antara humor, kekerasan, dan taruhan emosional ceritanya.

Dalam kategori ini, Mortal Kombat II nyaris mendapatkan Flawless Victory.

Hasil: Mortal Kombat II.

6. Film utuh atau sekadar batu loncatan untuk sekuel?

Scorpion Mortal Kombat II diperankan Hiroyuki Sanada (screenrant.com)

Mau tahu yang bagi saya lucu?

Kedua film ini jelas mempertimbangkan kemungkinan untuk berlanjut. Ending masing-masing memberikan petunjuk tentang cerita yang bisa dikembangkan dalam sekuel.

Namun, ada perbedaan dalam cara keduanya menangani cerita yang sedang disajikan.

Mortal Kombat II terasa sudah menyelesaikan konflik utamanya sebelum memberikan petunjuk tentang kemungkinan Mortal Kombat 3. Kita mendapatkan cerita dengan perkembangan dan konklusi yang cukup jelas, lalu film membuka pintu untuk petualangan berikutnya.

Sementara itu, Street Fighter memberikan perkembangan yang cukup memuaskan bagi hubungan Ryu dan Ken, tetapi keseluruhan ceritanya masih terasa seperti bagian pertama dari kisah yang lebih besar. Konflik personal mereka mendapatkan penyelesaian, sementara konflik yang lebih luas masih menunggu kelanjutannya.

Ini bukan berarti Street Fighter gagal berdiri sendiri. Saya tetap merasa bahwa hubungan Ryu dan Ken memberikan film tersebut story arc yang jelas. Namun, jika dibandingkan secara langsung, Mortal Kombat II terasa lebih memuaskan sebagai film yang selesai ditonton, tanpa membuat saya terlalu bergantung pada sekuelnya untuk mendapatkan gambaran cerita yang utuh.

Hasil: Mortal Kombat II.

Kesimpulan: Mortal Kombat II menang, tetapi keduanya punya pencapaian tersendiri

Shao Kahn di Mortal Kombat II (Screenrant.com)

Mortal Kombat II unggul!

Seperti yang sudah saya bahas, kedua film ini jelas tidak sempurna. Keduanya punya kelemahan dan kekuatan masing-masing. Namun, Mortal Kombat II pada akhirnya terasa lebih unggul dalam hal konsistensi tone, pemanfaatan karakter, dan keutuhan ceritanya.

Film ini memberikan kesan bahwa saya telah menyaksikan sebuah cerita yang memiliki awal, perkembangan, dan penyelesaian yang memuaskan, sekaligus membuka peluang untuk kelanjutan.

Sementara itu, Street Fighter punya sejumlah aspek yang benar-benar saya sukai, terutama bagaimana film ini menerjemahkan jurus-jurus ikonik dan menghadirkan flashback anime yang kuat. Hubungan Ryu dan Ken juga menjadi salah satu fondasi emosional terbaiknya. Namun, beberapa masalah karakterisasi, humor yang tidak selalu tepat sasaran, dan kesan bahwa keseluruhan konflik masih menunggu sekuel membuat film ini terasa kurang konsisten.

Jadi, jika harus memilih satu, saya memberikan kemenangan kepada Mortal Kombat II.

Tapi, jujur?

Sebagai anak yang tumbuh dengan game pada era 90-an, saya senang melihat Street Fighter dan Mortal Kombat sama-sama mendapatkan film adaptasi yang benar-benar terasa seperti game mereka diwujudkan ke layar lebar.

Setelah sekian lama, keduanya akhirnya berhasil menghadirkan hal yang paling ingin saya lihat dari adaptasi fighting game: karakter ikonik, jurus yang dikenal penggemar, pertarungan dengan identitas yang jelas, dan dunia yang terasa seperti berasal dari game aslinya.

Mortal Kombat II mungkin memenangkan perbandingan ini. Namun, bagi saya, keberhasilan kedua film dalam menerjemahkan identitas franchise mereka ke layar lebar tetap layak dirayakan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article