Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sebenarnya Cerita yang Mana yang Benar di Film Verity?
Josh Hartnett dalam Verity (dok. Amazon MGM Studios/Verity)
  • Film Verity mempertahankan ambiguitas novel: ada dua versi "kebenaran" dari surat dan manuskrip.

  • Sejumlah petunjuk mendukung kedua versi.

  • Spoiler alert untuk yang belum nonton.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

SPOILER ALERT

Apakah kamu sudah menonton Verity?

Kalau iya, mungkin kamu juga dibuat penasaran dengan pengungkapan di bagian akhirnya.

Karena tiba-tiba kita dihadapkan pada dua kemungkinan “kebenaran”.

Jadi, sebenarnya yang mana yang benar?

Mari kita coba bedah.

1. Situasinya memang mirip dengan ending buku

kover novel Verity (amazon.com)

Saya rasa pembaca Verity versi novel sudah lebih dulu familier dengan situasi seperti ini.

Karena memang, di dalam buku pun ada dua versi kebenaran.

Versi pertama berasal dari draft autobiografi Verity Crawford yang dibaca Lowen Ashleigh sepanjang cerita.

Versi ini menggambarkan Verity sebagai sosok yang sangat mengerikan.

Ia adalah seorang perempuan yang sangat ingin dicintai oleh suaminya. Ketika ia merasa Jeremy lebih menyayangi anak-anak mereka daripada dirinya, Verity bahkan mengaku memiliki dorongan untuk menyingkirkan mereka.

Dalam versi manuskrip tersebut, kecelakaan kano yang menewaskan putrinya, Harper, ternyata bukan kecelakaan biasa.

Verity mengaku bahwa ia sengaja membalikkan kano dan membiarkan Harper tenggelam.

Manuskrip tersebut kemudian membuat Jeremy terdorong untuk menyerang Verity. Lowen sendiri akhirnya terlibat dalam upaya menutupi kematian Verity.

Namun setelah semuanya selesai, Lowen menemukan versi cerita kedua.

Ia menemukan sebuah surat tulisan tangan Verity yang disembunyikan di bawah lantai kayu.

Dalam surat tersebut, Verity mengklaim bahwa So Be It sebenarnya bukan autobiografi sungguhan.

Ia menulisnya sebagai latihan menulis dari perspektif villain atau antagonistic narrator, sebuah teknik yang menurutnya membantu membentuk karakter-karakter mengerikan dalam novel-novelnya.

Menurut versi surat tersebut, kematian Harper memang merupakan kecelakaan.

Verity kemudian sangat terpukul oleh kematian putrinya. Namun Jeremy menemukan manuskrip So Be It, menganggap isinya sebagai pengakuan sungguhan, lalu mencoba membunuh Verity.

Verity selamat dari kecelakaan yang kemudian membuatnya terlihat mengalami kerusakan otak parah. Ia lalu berpura-pura lumpuh dan tidak sadar demi melindungi dirinya sambil mencari kesempatan untuk kabur bersama Crew.

Jadi sekarang kita punya dua versi:

Versi manuskrip:
Verity adalah pembunuh anaknya, Jeremy mengetahui kebenarannya, dan akhirnya membunuh Verity.

Versi surat:
Verity tidak membunuh anaknya, Jeremy salah memahami sebuah latihan menulis sebagai pengakuan, dan Verity justru menjadi korban percobaan pembunuhan Jeremy.

Dan masalahnya...

Kita tidak pernah benar-benar diberi tahu mana yang benar.

2. Jadi yang mana yang benar?

Anne Hathaway sebagai Verity Crawford. (Dok. Amazon MGM Studios/Verity)

Lucunya, bahkan novel aslinya memang sengaja tidak memberikan jawaban pasti.

Dan film juga mempertahankan gagasan tersebut: kita diperlihatkan bagaimana sulitnya memisahkan kebenaran, manipulasi, dan cerita yang sengaja dibuat untuk memengaruhi orang lain.

Ini juga membuat judul Verity menjadi semakin menarik.

Verity adalah nama sang penulis.

Tetapi verity dalam bahasa Inggris juga berarti kebenaran.

Dan sepanjang cerita, kita melihat bagaimana Verity Crawford mampu memelintir kebenaran dengan begitu meyakinkan sehingga bahkan setelah semuanya selesai, Lowen (dan penonton) tetap tidak bisa memastikan versi mana yang benar.

Dengan kata lain: film bernama Verity membuat kita terus mempertanyakan verity, kebenaran itu sendiri.

Dan saya rasa itu salah satu aspek paling menarik dari ceritanya.

3. Beberapa bukti pendukung

Dakota Johnson sebagai Lowen Asleigh. (Dok. Amazon MGM Studios/Verity)

Tapi mari kita jabarkan beberapa hal yang kita ketahui.

Karena kalau kita mencoba membaca semua petunjuknya, ternyata masing-masing versi memiliki alasan untuk dipercaya.

1. Verity memang naik kano bersama Crew dan Harper tanpa jaket pelampung

Ini adalah salah satu fakta penting yang tidak bisa kita abaikan.

Kecelakaan tersebut memang terjadi.

Yang tidak kita ketahui adalah apa yang sebenarnya dilakukan Verity ketika kecelakaan itu terjadi.

Apakah ia sengaja membalikkan kano?

Atau memang kecelakaan tragis seperti yang ia klaim dalam surat?

2. Verity sangat meyakinkan ketika berpura-pura lumpuh

Ini justru salah satu bukti yang membuat versi manuskrip terasa masuk akal.

Verity mampu berpura-pura mengalami kondisi parah untuk waktu yang sangat lama.

Dalam film, ia bahkan mampu tetap diam ketika Lowen mengujinya dan ketika kondisinya diamati melalui baby monitor.

Kalau Verity memang mampu melakukan semua itu, tentu muncul pertanyaan:

Seberapa banyak lagi yang selama ini ia pura-purakan?

Tetapi ada interpretasi lain.

Kemampuan Verity berpura-pura lumpuh juga bisa mendukung isi surat: ia memang sadar, tetapi takut Jeremy akan membunuhnya sehingga terpaksa mempertahankan penyamarannya.

3. Reaksi Jeremy terhadap So Be It juga menarik

Ketika Lowen memperlihatkan manuskrip tersebut kepada Jeremy, reaksinya sangat ekstrem.

Ia tampak begitu terpukul dan marah sampai akhirnya menyerang Verity.

Tetapi apakah itu benar-benar pertama kalinya Jeremy membaca manuskrip tersebut?

Atau apakah Jeremy sudah pernah membacanya sebelumnya, seperti yang diklaim Verity dalam surat?

Kalau versi kedua benar, Jeremy mungkin memang sudah mengetahui So Be It sejak sebelum Lowen menunjukkannya di klimaks film.

Artinya, reaksinya terhadap Lowen mungkin bukan sekadar seseorang yang baru menemukan kebenaran. Ia bisa saja sedang memainkan perannya sendiri.

4. Cara Jeremy menangani Verity di surat dan di hadapan Lowen

Ada perbedaan menarik antara cara Jeremy bertindak dalam dua bagian cerita.

Ketika ia mengetahui isi manuskrip, reaksinya terlihat impulsif. Ia mencoba menyerang dan mencekik Verity.

Namun dalam versi surat, Jeremy digambarkan sudah sebelumnya melakukan tindakan yang jauh lebih terencana untuk membunuh Verity, termasuk mengatur kecelakaan mobil.

Jadi muncul pertanyaan: apakah Jeremy memang pria yang tiba-tiba kehilangan kendali setelah membaca pengakuan mengerikan?

Atau memang ia sudah lama memiliki sisi yang jauh lebih gelap?

5. Bonus chapter membuat Jeremy semakin mencurigakan

Dan ini bagian yang menurut saya sangat menarik bagi pembaca novel.

Edisi tertentu dari Verity memiliki bonus chapter yang memperlihatkan kehidupan Lowen dan Jeremy setelah mereka meninggalkan rumah Crawford.

Di sana, sisi gelap Jeremy semakin terlihat.

Jadi kalau kita menganggap surat Verity sebagai kebenaran, bonus chapter tersebut memberikan alasan tambahan untuk percaya bahwa Jeremy memang seorang pria yang mampu melakukan hal mengerikan dengan sengaja dan kemudian menutupinya.

Namun tentu saja... itu masih tidak membuktikan bahwa manuskrip Verity palsu.

6. Verity harusnya berduka atas kematian Harper... tapi masih mampu menulis So Be It

Dalam versi surat, Verity menggambarkan kematian Harper sebagai kecelakaan yang menghancurkannya.

Ia merasa bersalah karena Harper meninggal dan terus dihantui kejadian tersebut.

Dan di sinilah muncul pertanyaan moral yang cukup mengganggu: apakah seseorang yang begitu terpukul oleh kematian anaknya benar-benar tega menulis sebuah manuskrip yang menggambarkan dirinya sendiri sengaja membunuh anak tersebut?

Mungkin kamu bisa beragumen, "Bisa saja."

Verity sendiri adalah seorang penulis thriller.

Ia mengklaim bahwa menulis dari perspektif karakter jahat merupakan bagian dari proses kreatifnya. Tapi justru itulah masalahnya.

Kita tidak tahu apakah itu penjelasan yang masuk akal... atau sekadar penjelasan yang sangat bagus dari seorang manipulator.

7. Crew juga memberikan sedikit petunjuk

Ada indikasi bahwa Verity memang pernah berbicara kepada Crew secara diam-diam.

Dan jika Verity benar-benar berpura-pura selama ini, Crew menjadi salah satu orang yang mengetahui bahwa ibunya sebenarnya masih sadar.

Tapi sekali lagi, informasi tersebut tidak menyelesaikan misterinya.

Dan yang menurut saya lucu adalah: setelah semua bukti dijabarkan, kita tetap tidak mendapatkan jawaban pasti.

Kita hanya mendapatkan dua cerita yang sama-sama cukup masuk akal.

4. Apakah memang ada kebenaran sejati?

Dakota Johnson sebagai Lowen Asleigh. (Dok. Amazon MGM Studios/Verity)

Ada satu kalimat dari bonus chapter Verity yang menurut saya justru paling cocok menggambarkan dilema ini:

“I've concluded that whether the manuscript or the letter was the truth, Verity had to be sick in the head to put any of it down on paper at all.” (“Aku menyimpulkan bahwa entah naskah itu atau surat itulah yang memuat kebenaran, Verity pastilah tidak waras karena berani menuangkan hal-hal tersebut ke atas kertas.”)

Kalimat tersebut terasa seperti kesimpulan yang cukup masuk akal bagi saya juga.

Saya sendiri tidak yakin apakah manuskrip atau surat tersebut yang benar.

Namun ada sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari Verity: Ia mampu menulis So Be It.

Termasuk bagian yang menggambarkan dirinya sendiri sebagai seorang ibu yang begitu lama membenci anak-anaknya sendiri dan sengaja menyebabkan kematian anaknya.

Kalau manuskrip itu benar, tentu saja Verity mengerikan.

Tetapi kalau surat itu benar, kita tetap harus menerima bahwa Verity mampu menciptakan sebuah tulisan yang begitu mengerikan tentang dirinya sendiri dan kemudian menyimpannya dalam bentuk yang sangat meyakinkan.

Jadi bahkan jika kita menerima bahwa Jeremy memiliki sisi gelap seperti yang ditunjukkan bonus chapter, saya tetap tidak merasa Verity bisa dianggap sepenuhnya bersih.

Bahkan ada kemungkinan surat tersebut memang benar.

Atau... surat itu adalah manipulasi terakhir Verity.

Bayangkan kalau Verity memang bersalah dan tahu bahwa suatu hari manuskripnya akan ditemukan.

Ia kemudian meninggalkan surat yang mengatakan:

“Semuanya cuma fiksi. Aku tidak melakukan apa-apa.”

Kalau surat itu ditemukan setelah kematiannya, ia sudah tidak ada untuk dikonfrontasi.

Jeremy dan Lowen pun akan menghabiskan sisa hidup mereka dengan pertanyaan: “Bagaimana kalau kita sebenarnya baru saja membunuh orang yang tidak bersalah?”

Sebagai seorang penulis thriller, Verity tentu tahu betapa efektifnya sebuah cerita seperti itu.

Dan kalau memang demikian, surat tersebut bukan sekadar pembelaan diri.

Itu adalah troll terakhir Verity.

5. Mungkin Jeremy dan Verity memang cocok satu sama lain

(Dok. Amazon MGM Studios/Verity)

Dan justru ini yang terasa getir.

Mungkin sejak awal Jeremy dan Verity memang cocok sebagai pasangan.

Bukan karena mereka pasangan yang sehat. Tetapi karena keduanya memiliki kemampuan untuk memanipulasi, menyembunyikan sesuatu, dan melakukan hal-hal ekstrem ketika merasa terancam.

Verity menulis novel tentang villain protagonist. Jeremy ternyata mungkin memiliki sisi villain-nya sendiri. Dan Lowen datang ke tengah-tengah mereka sambil berpikir bahwa ia sedang mencoba mencari kebenaran, atau melakukan hal yang bagi dia benar dengan informasi terbatas.

Jadi yeah.

Pasangan Crawford mungkin sejak awal sama-sama sakit, yang manapun versi yang benar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article