Still cut Street Fighter (2026) (dok. Paramount Pictures Indonesia/Street Fighter)
Menariknya, meski dalam ulasan saya sendiri bagian kelemahan Street Fighter mencapai sekitar 1.000 kata dan terbagi menjadi empat poin, saya tetap cukup terkesan dengan beberapa aspek film ini.
Karena itu, saya memberikan Street Fighter nilai 3,5/5. Jika dikonversi ke sistem kategori Rotten Tomatoes berdasarkan penilaian positif atau negatif, nilai tersebut masih bisa masuk kategori Fresh.
Namun, bukan berarti saya menolak kritik yang dilontarkan para kritikus lain.
Saya justru sepakat dengan beberapa keluhan yang muncul, terutama mengenai humor yang terasa dipaksakan dan merusak momen dramatis, tone film yang membingungkan, serta cerita yang terasa belum sepenuhnya selesai karena masih membuka jalan menuju sekuel.
Bagi saya, Street Fighter tetap memiliki sejumlah keunggulan. Pertarungannya bisa sangat menghibur, beberapa karakter mendapatkan momen yang kuat, dan film ini berhasil menghadirkan dunia game ke layar lebar dengan cara yang menyenangkan.
Namun, semua itu tidak menghapus persoalan dalam penyajian cerita dan konsistensi tonenya.
Pada akhirnya, Street Fighter menjadi contoh menarik bahwa kita bisa menikmati banyak bagian dari sebuah film sambil tetap mengakui kekurangannya. Saya masih merasa film ini layak mendapat nilai 3,5/5, meskipun sejumlah kritik yang membuat Tomatometernya rendah memang punya dasar yang bisa saya pahami.