TUTUP

Inilah 5 Alasan The Rock Cocok Menjadi Presiden Amerika Serikat

Katanya sih legenda WWE, The Rock, berniat jadi Presiden Amerika Serikat. Inilah alasan kenapa dia cocok menempati posisi itu!

Katanya sih legenda WWE, The Rock, berniat jadi Presiden Amerika Serikat. Inilah alasan kenapa dia cocok menempati posisi itu!

[duniaku_baca_juga] Kalau kamu belum tahu, mulai beredar kabar kalau The Rock berniat ikut pemilihan Presiden Amrika Serikat tahun 2020 nanti. Bahkan, kalau kamu lihat di situs People.com, The Rock saat ini unggul dari Trump dalam polling pembaca. Sungguh prestasi yang luar biasa. Tapi memangnya The Rock cocok jadi Presiden? Bukankah dia bahkan tak memiliki pengalaman memimpin? Meh, melihat kemenangan Trump kemarin, penduduk Amerika bahkan mungkin tak benar-benar merasa butuh pemimpin. Mereka hanya ingin sosok karismatik. Jadi, mari kita coba lihat kenapa The Rock cocok menjadi Presiden Amerika Serikat. [page_break no="1" title="The Rock akan Lebih Populer dari Semua Kandidat yang Bisa Dipilih Oposisi Trump"] [duniaku_adsense] Faktor utama kenapa The Rock bisa jadi Presiden Amerika Serikat ya popularitasnya. Mari kita kilas balik ke masa pilpres Amerika tahun 2004. Walau George W. Bush adalah sosok kontroversial, musuhnya di pilpres saat itu - John Kerry - kurang kuat popularitasnya. Pada akhirnya Bush pun terpilih untuk menduduki Gedung Putih kedua kalinya. [read_more id="309440"] Kalau pihak oposisi Trump mencoba mengusung politikus lain, hasilnya bisa jadi seperti Hillary Clinton kemarin. Retorika Trump yang mengusung unsur-unsur pro-Amerika bisa cukup untuk meredam semua tuduhan valid dari musuhnya. Lain ceritanya kalau yang menjadi musuhnya adalah The Rock. Selama Rock tidak membuat blunder politik berbahaya, ia bahkan bisa meraih jumlah pemilih banyak tanpa melakukan apa-apa. Mau bagaimana lagi? The Rock sudah jadi People's Champion sejak dia masih jadi pegulat WWE. [page_break no="2" title="Kuat dan Tangguh"] Mungkin kamu bertanya: apa hubungannya kuat dan tangguh dengan posisi Presiden? Bukannya Presiden itu seharusnya memimpin, alih-alih berjibaku di ring? Masalahnya, melihat kemenangan Trump kemarin, penduduk Amerika tampaknya memang mengharapkan Presiden yang tangguh. Karenanya mayoritas memilih Trump yang selama kampanye tidak kenal kompromi dan tidak mau tunduk maupun meminta maaf walau ia sudah berulang kali melontarkan kata-kata kontroversial. Kalau memang Amerika ingin sosok tangguh sebagai pemimpin, The Rock yang memang mantan pegulat pro dan pemain futbol ini bisa jadi pilihan yang lebih valid ketimbang Trump yang sejak muda berperan sebagai pengusaha. [page_break no="3" title="Karismatik"] [read_more id="312315"] Apa kamu pernah lihat debat capres Amerika, terutama yang baru terjadi antara Hillary Clinton versu Donald Trump? Debat capres harusnya adalah cara masing-masing kandidat meyakinkan penduduk kalau program kerja mereka adalah yang terbaik. Tapi penulis tidak melihat hal itu dalam pilpres kemarin. Trump, terutama, lebih fokus menjual karisma dan ketangguhan hatinya ketimbang menyajikan program kerja yang realistis. Kalau memang pada akhirnya seperti itulah debat capres Amerika modern, maka calon seperti The Rock justru bisa menang. Dia sudah terbiasa tampil di hadapan ratusan ribu orang, hingga nyalinya tidak akan gentar dalam situasi debat live. Karisma? The Rock mampu membuat kata-kata tidak masuk akal seperti Candy *ss, Kung Pao B*tch, dan lain sebagainya jadi populer dan ditirukan oleh fan. Sudah jelas dia memiliki karisma untuk diadu dengan Trump.
 

Mau tahu alasan lain The Rock cocok jadi Presiden Amerika Serikat? Cek saja halaman kedua!

[page_break no="4" title="Baik Hati tapi Tetap Tegas"] [duniaku_baca_juga] Trump menyajikan dirinya sebagai harapan baru untuk kejayaan Amerika. Ia mengambil pendekatan agresif, seperti sempat melarang pendatang Muslim dari sejumlah negara dan mengancam mendirikan tembok Meksiko. Untuk menarik simpati, musuhnya di pilpres 2020 sepertinya harus orang yang bisa mengambil pendekatan lembut. The Rock, walau terkenal tangguh, bisa mengambil peran tersebut. Sementara Trump memiliki segudang kisah horor, seperti seksisme terhadap sejumlah orang dan xenophobia, The Rock biasa bekerja dengan pegulat dan aktor dari berbagai negara. Lihat saja Fast and Furious yang memiliki aktor kulit putih, kulit hitam, aktor berdarah Meksiko, aktor Eropa, bahkan aktor Asia. Dalam produksi semua film misalnya, The Rock selalu memuji rekan-rekannya. Dia juga ramah kepada fan dan siapa pun yang ia temui. Tapi itu bukan berarti The Rock sebenarnya lembek. Kamu hanya tinggal lihat konfliknya dengan Vin Diesel kemarin di Fast and Furious 8. Walau Vin Diesel adalah senior di franchise Fast and Furious dan memiliki suara berpengaruh di filmnya, The Rock tidak ragu memprotesnya saat Vin Diesel tidak bersikap profesional. [page_break no="5" title="Profesional dan Berdedikasi"] [duniaku_adsense] Untuk alasan yang ini kamu tinggal lihat bagaimana The Rock membawa diri saat syuting film dan juga dalam mempromosikan filmnya. Saat syuting, The Rock terkenal sangat disiplin. Kamu bisa membaca artikel The Hollywood Reporter ini untuk contohnya. Selain itu, Rock juga selalu datang tepat waktu ke lokasi syuting dan - sejauh ini - tak pernah bertingkah seperti prima dona. Ia tak akan menuntut macam-macam dan akan melakukan peran yang diminta oleh sutradara. Itu saja sudah bisa menjadi modal berharga kalau seseorang ingin menjadi politikus. Terutama untuk negeri adikuasa seperti Amerika. Tapi tak hanya itu, dalam setiap film, The Rock selalu berdedikasi. Baik saat syuting maupun untuk mempromosikan filmnya. Film seperti San Andreas dan Baywatch mungkin konyol. Tapi ia tak pernah bertingkah seperti Harrison Ford yang malu saat Blade Runner dihujat dulu. San Andreas maupun Baywatch memang bukan film terbaik, tapi The Rock mempromosikan mereka sebagai film yang luar biasa hebat dan wajib ditonton. The Rock bahkan menyebut Baywatch sebagai Avengers on the Beach. [read_more id="307630"] Apakah sesumbar itu benar? Mungkin iya mungkin tidak. Tapi antusiasme The Rock minimal akan memancing fannya untuk memeriksa film-film itu. Bukan kebetulan rasanya film-film yang dibintangi The Rock sekarang lebih mudah hits, tak peduli apa premisnya bodoh atau memang filmnya menarik. Kemampuan The Rock untuk menyajikan setiap filmnya dengan penuh percaya diri merupakan bakat yang juga bagus untuk dimiliki seorang politikus. Program-program kerja The Rock mungkin tak akan selalu diterima, tapi bila ia mampu menyajikannya dengan antusiasme seperti ini, ia minimal akan bisa memuat penduduk Amerika paham dan menerimanya.
  Nah, itulah lima alasan kenapa The Rock bisa saja menjadi Presiden Amerika Serikat. Sifat-sifat profesionalnya, karismanya yang tak terbantahkan, dan sejarah ketangguhannya membuat ia terlihat sebagai pilihan alternatif yang menarik ketimbang Donald Trump. Fakta bahwa The Rock ini adalah blasteran Afrika Amerika-Samoa juga membuatnya bisa dengan mudah menjangkau minoritas, sama seperti Obama dulu bisa menjadi harapan bagi kaum kulit hitam. Tapi apakah sebaiknya The Rock mencalonkan diri di pilpres Amerika 2020? Di satu sisi sih, mungkin Amerika memang butuh harapan baru untuk menandingi Trump. The Rock bisa menempati posisi itu. Di sisi lain, The Rock bisa membuat sebagian penduduk Amerika semakin tidak yakin dengan negara mereka sendiri, bila seorang pegulat tanpa pengalaman politik bisa langsung menjadi Presiden. Karakter The Rock juga bisa dicabik-cabik oleh media massa, sebagaimana dengan yang terjadi pada pilpres Amerika terakhir yang luar biasa panas itu. Penulis sih berpendapat The Rock sebaiknya fokus ke bidang hiburan dan meninggalkan saja kepusingan politik Amerika ke orang lain. Tapi kita lihat saja apa langkah yang akan diambilnya nanti.