still cut film Clayface (dok. DC Studios)
Sisi positif lain yang menarik perhatian saya adalah pendekatan Clayface sebagai film origin seorang villain.
Biasanya, ketika Hollywood menyajikan kisah asal-usul villain, ada sesuatu yang terasa janggal. Seakan-akan studio kurang percaya diri bahwa penonton akan tertarik jika seorang karakter benar-benar berkembang menjadi penjahat.
Ujung-ujungnya, kita mendapatkan pendekatan "sosok yang kamu kenal sebagai villain sebenarnya hanya disalahpahami". Karakter tersebut dibuat terlalu heroik, sisi negatif dari materi aslinya disingkirkan, atau ceritanya justru berakhir sebagai kisah antihero yang tidak segan membunuh orang-orang jahat.
Clayface menawarkan sesuatu yang lebih menarik.
Matt Hagen memang memiliki kisah tragis. Dari trailernya saja, kita bisa memahami mengapa ia ingin membalas dendam kepada orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Namun, film ini juga mengajukan pertanyaan yang lebih menarik: bagaimana jadinya jika seseorang mulai menganggap pembunuhan sebagai solusi untuk setiap masalah yang dihadapinya?
Awalnya, kita bisa memahami kemarahan Hagen. Ia menjadi korban kekerasan dan ketidakadilan. Namun, seiring berjalannya cerita, ia mulai melampaui batas yang membuat penonton bisa terus mendukung tindakannya.
Hasil akhirnya menarik. Hagen cukup tragis untuk membuat kita bersimpati, tetapi film ini tidak harus menghapus sisi gelapnya demi mempertahankan simpati penonton. Ia tetap bisa menjadi korban sekaligus pelaku.
Lucunya, film yang menurut saya memiliki pendekatan paling dekat justru Joker (2019) garapan Todd Phillips, yang dibintangi Joaquin Phoenix. Tentu saja, yang saya maksud adalah film pertamanya. Mari kita abaikan film keduanya sejenak.
Keduanya sama-sama berfokus pada kehancuran psikologis seseorang dan proses yang membuatnya berkembang menjadi sosok yang mengerikan. Bedanya, Clayface juga menggunakan transformasi fisik sebagai bagian utama dari tragedinya.