Kamera Bukan yang Utama, Kamera Vita Vs. Smartphone / Tablet

Seperti 3DS, kamera Vita memang sebagai pelengkap saja. Namun banyak yang penasaran dengan kualitasnya... apalagi Vita yang memang sudah menyeberang ke ranah smartphone / tablet gaming, dan banyak yang membandingkannya dengan kamera gadget dari iOS atau Android.

Kamera Bukan yang Utama, Kamera Vita Vs. Smartphone / Tablet

Seperti yang diulas melalui Special Feature Zigma edisi 111, Vita menggunakan kamera dengan resolusi VGA, baik untuk kamera depan, dan sayangnya, yang belakang pun demikian. Memang kamera tersebut sama sekali tidak akan difungsikan sebagai pengganti kamera digital untuk mengambil gambar atau foto, namun tetap menjadi satu fungsi primer Vita, mengingat modul kamera tersebut bakal kamu gunakan untuk mendukung aktifitas game yang perlu mendeteksi gerakan dan augmented reality – yang akhir-akhir ini makin jamak di Indonesia setelah Samsung mengenalkan aplikasi jejaring sosial berbasis augmented reality, My Dragonfly.

Kamera Bukan yang Utama, Kamera Vita Vs. Smartphone / Tablet[/caption]

Namun seperti yang kami ulas sebelumnya juga, smartphone lagi-lagi menjadi tersangka utama menurunnya angka penjualan kamera digital tipikal prosumer / point-and-shoot / kamera saku. Di sini jelas, pasar mau yang ”all-in-one”... dan smartphone menjadi solusi terbaik. Dengan Vita yang hanya memberi solusi jeprat-jepret berkualitas VGA alias 0.3 megapixel, jangan diharapkan membandingkannya dengan smartphone, yang sudah mencapai 8 megapixel, 12 megapixel pada Xperia terbaru, dan bahkan 16 megapixel. Kemudian jika penasaran dengan kualitas kamera Vita, kami mengutip artikel dari IGN yang sempat membandingkannya dengan beberapa kamera smartphone dan tablet.

Kamera Bukan yang Utama, Kamera Vita Vs. Smartphone / Tablet[/caption]

 

Kamera Bukan yang Utama, Kamera Vita Vs. Smartphone / Tablet[/caption]

Kamera Bukan yang Utama, Kamera Vita Vs. Smartphone / Tablet[/caption]

Kamera Bukan yang Utama, Kamera Vita Vs. Smartphone / Tablet[/caption]

Walaupun hasil kameranya biasa saja, namun 0.3 megapixel tersebut rupanya cukup menjadi modal facial recognition, salah satu tech demo Vita sempat dikenalkan pertengahan 2011 lalu, dimana sebuah avatar akan merespon gerakan kita. Teknologi yang disebut sebagai Face Control tersebut memang baru sekadar demo. Namun jika benar bisa diterapkan, tentu menarik bisa melihat bagaimana software tersebut merender kepala kita pada avatar, dan mulai mengikuti setiap gerakan kita secara real-time.

Artikel terkait

ARTIKEL TERBARU