TUTUP

Sony PlayStation Vita, Kompetitor Nintendo 3DS atau Smartphone?

Seperti yang dituliskan dalam artikel Special Feature Zigma #111, berikut ini salah satu bagian artikelnya, yang sengaja dilepas untuk bisa dinikmati lebih nyaman di Duniaku.net.

Seperti yang kami tuliskan dalam artikel Special Feature Zigma #111, berikut ini salah satu bagian artikelnya, yang sengaja kami lepas untuk bisa dinikmati lebih nyaman di Duniaku.net - karena cukup panjang dan sarat teks... hehe! Sengaja artikel perbandingan ini kami sisihkan, karena memang Vita begitu spesial. Di ulang tahunnya yang ketujuh, PlayStation Portable terbaru ini tidak menghadapi lawan seperti ketika pertama muncul 2004 lalu. Setelah menyapa Jepang 17 Desember 2011, kemudian Hong Kong dan Taiwan pada 23 Desember 2011, Vita dirilis di Korea 11 Februari ini, kemudian untuk kawasan US dan UK pada 15/22 Februari, serta terakhir di Australia pada 23 Februari 2012. Khusus untuk kawasan US dan UK, resminya Vita meluncur 22 Februari. Namun Sony memang sengaja merilis seminggu lebih awal untuk beberapa aksesoris resmi, sejumlah game (yang bisa kamu lihat detailnya tiap game melalui artikel di Zigma #111), serta yang menjadi iming-iming utama bagi mereka yang pengen memainkan lebih dulu dari yang lain, First Edition PS Vita Bundle. First Edition PS Vita Bundle[/caption] Paket tersebut termasuk PS Vita model Wi-Fi+3G, case limited edition, 4GB PS Vita Memory Card (senilai sekitar $30), dan kopi game Little Deviants dengan harga US$349.99. Bisa kamu bandingkan dengan harga resmi perilisannya di US, untuk Wi-Fi US$249 dan US$299 untuk Wi-Fi+3G. Sedangkan gamenya, bakal dijual dengan harga US$9.99-$49.99. Bisa ditebak, yang termurah pasti game sederhana yang hanya dirilis di PSN (atau bakal berganti menjadi SEN). Bagaimana patokan harga tersebut bisa bersaing dengan rival terberatnya, smartphone dan tablet? Oke, memang di atas ada pihak ketiga, Nintendo DS. Namun selain perbandingannya langsung yang lebih detail bisa kamu lihat melalui ulasan pada Zigma #111, Vita memang lebih pas disandingkan dengan tipikal smartphone / tablet. Dan tidak bisa dipungkiri, pasca revolusi mobile gaming yang dipelopori iPhone, cara pandang pasar tentang handheld game mulai berubah. Sebagian kecil menganggap handheld game adalah konsol yang diperkecil. Dan mayoritas menganggap smartphone / tablet adalah era baru handheld, dan rujukan terbaik bagi developer menerapkan konsep mobile game. Ok, lanjut ke halaman 2... Sebelumnya kita lihat ke belakang, Sony mulai meluncurkan PlayStation Portable (PSP) pada tahun 2004, menyuguhkan game dengan grafis yang nyaris setara dengan PlayStation2, plus fitur tambahan sebagai internet browser (sederhana) dan ada juga memanfaatkannya untuk pusat multimedia dan entertainment. Hmmm…. Pada tahun 2004, kebanyakan kru Zigma / Omega masih SMU dan atau kuliah, smartphone saat itu pun bisa dihitung yang mengunggulkan fungsi kamera (bahkan keberadaan kamera depan), apalagi kata multitouch dan pasar aplikasi pasti terdengar sangat asing. Saat itu, smartphone yang saya ingat eksis dari Samsung seperti Samsung i300 yang menggunakan OS Windows Mobile Smartphone. Lalu Nokia, ada smartphone Symbian yang cukup laris di Indonesia, Nokia N70. Mungkin jika menyinggung cara pengendalian dengan sentuhan, ada Sony Ericsson dengan smartphone Symbian UIQ mereka, P910. Dan sebelum HTC populer berapa tahun belakangan ini, mereka masih memproduksi smartphone Windows Mobile dengan pesanan operator, seperti seri O2 XDA. Walaupun kemampuannya mereka mumpuni pada masanya, namun untuk mobile game bisa dikatakan masih sangat kecil pengaruhnya jika dibandingkan dengan handheld sekelas Sony PSP atau Nintendo DS yang saat itu mulai eksis. Dan saya ingat saat itu, sering berdebat dengan rekan media, Ray (salah satu pengasuh rubrik Game & Anime di Jawa Pos), jika suatu saat smartphone dengan mobile games akan menggantikan peran handheld game (statement yang sebenarnya lahir dari ego mempertahankan pendapat... hehe!). Namun bisa kita lihat sendiri faktanya... Akhir 2004, melalui PSP Sony berhasil mengkonversikan game-game flagship seperti serial FIFA, Metal Gear Solid dan Gran Turismo ke kalangan mobile gamers, dan saat itu dianggap sebagai sebuah revolusi. Selain juga PSP lebih kuat secara teknis dibandingkan rivalnya Nintendo DS. Namun memang DS hadir dengan cara pengendalian yang unik, menarget pasar gamer casual – yang saat itu masih belum mengenal iPhone / Android, sehingga penetrasinya lebih luas dan lebih laku. Namun tetap saja, secara teknis PSP lebih superior. Meskipun bersaingan, beberapa tahun kedua handheld game tersebut menikmati masa kejayaannya, hingga pada 2007 lalu Apple meluncurkan iPhone, diikuti setengah tahun kemudian revolusi pasar digital melalui AppStore dikenalkan kepada para developer, memungkinkan mereka mengembangkan aplikasi dan game untuk iPhone dan iPod touch, yang secara marketing dan branding lebih mengena ke pasar casual, dan developer tidak lagi dipusingkan dengan distribusi retail. Keuntungan pun lebih besar, meskipun harga yang dipatok tidak semahal game retail. Mulai dari yang gratis coba-coba, dan yang harganya di bawah US $1 hingga US $10, kamu bisa menikmati game pilihan dari developer baru, atau bahkan nama besar seperti Grand Theft Auto dijual dengan harga sangat terjangkau – setidaknya 1:10 dari harga standar game handheld game / konsol, bisa di-download dengan mudah (beberapa klik saja, plus sediakan kartu pembayaran atau "mata uang" virtual tentunya) melalui pasar digital iOS atau Android. Sementara Sony dan Nintendo masih mematok harga jual sekitar US $40 untuk game-game PSP dan DS terbaru mereka. Dan meskipun dulu PSP, dan kemudian Vita menawarkan spesifikasi yang lebih baik dibandingkan tipikal smartphone (Vita itu "monster" dengan ARM Cortex A9 quad-core, GPU SGX54MP4, 512MB RAM-nya dua kali dari PS3, namun 128MBs VRAM-nya separuh PS3), namun pasca revolusi smartphone dan mobile games melalui iPhone, dan kemudian euforia open source melalui Android, kita mendapati Apple, Samsung, Sony Ericsson, LG, HTC dan banyak vendor smartphone lainnya seakan mengaktifkan turbo dan mengejar ketertinggalan dengan pilihan yang lebih menjanjikan. Layar high-definition, kamera yang menyamai kualitas point-and-shoot, prosesor dual-core (dan tidak lama lagi quad-core) yang sigap berlari di kecepatan minimal 1GHz, serta RAM 1GB yang juga bakal menjadi standar. Jelas smartphone dan juga tablet, kini cepat memposisikan diri dengan pasarnya sendiri yang begitu luas, sebagai “mesin game” yang berdiri sendiri, dengan otak yang lebih cerdas, keunggulan portable, lebih banyak fungsi dan yang terpenting, pilihan game yang jauh lebih terjangkau. Vita sudah dirilis di Jepang dan sebagian kecil Asia pertengahan Desember lalu, dan melalui artikel di Zigma #111 kamu bisa membaca seberapa besar antusias pasar terhadap handheld ini. Dengan begitu tingginya spesifikasi yang dibenamkan Sony di dalamnya, memang seharusnya Vita memiliki peluang yang sangat besar. Namun sayang memang, tidak diiringi dengan figur penjualan yang menggembirakan - hingga saat ini, atau hampir dua bulan sejak peluncurannya, penjualan Vita baru mencapai sekitar 590 ribu unit. Kita tinggal menunggu bagaimana respon bagian dunia lainnya. Apakah kontras dengan tren di Jepang, justru meningkat dan bisa terus dijaga dengan supply game yang menarik, atau justru sebaliknya. Sebagai perbandingan, Samsung mampu menjual 3 juta unit Droid flagship mereka, Samsung Galaxy S II kurang dari dua bulan. Dan meskipun Droid tersebut bukan fokus game, banyak yang memilihnya karena spesifikasi teknisnya mumpuni menjalankan semua game mobile dengan lancar. Kemudian Apple yang lebih fantastis, total sekitar 1 juta unit iPhone 4S ludes hanya dalam 1 hari saja (dan 4 juta unit dalam waktu satu minggu). Tidak peduli sepopuler apa pun brand PSP, Vita tidak mungkin bermimpi bisa meraih figur penjualan setinggi itu. Di Indonesia sendiri, saya memantau Kaskus dan beberapa online store seperti GameQuarters dan mendapati di sana Vita "brand-new-in-box" dijual sekitar Rp. 4 jutaan untuk yang WiFi. Sedangkan versi 3G mendekati 5 jutaan, meskipun percuma karena untuk mengoperasikan 3G-nya memerlukan kerjasaman dengan operator -- apa ada ya, operator Indonesia yang mau menjual paket kontrak handheld game? Sedangkan untuk menikmati Vita pun, kamu masih perlu merogoh kocek untuk kartu memory (karena Vita TIDAK MEMILIKI internal storage) dan cartridge game-nya, yang oleh Sony menggunakan format proprietary mereka sendiri, seakan kita hendak dipaksa kembali ke era Memory Stick yang pada akhirnya juga nyaris "punah." Dan kini dengan iPad 3 serta iPhone 5 yang tinggal menunggu waktu rilis, serta dipastikan membawa spesifikasi yang lebih kuat, plus ditambah lagi para Droid-nya Google pun tak terhitung berapa banyak yang siap mengganggu pasar handheld dengan prosesor quad-core dan layar HD. Dan jelas nantinya bukan sekadar tipikal game puzzle seperti Angry Birds saja yang bakal mendominasi penjualan mesin portable, namun "game-yang-sebenarnya" pun juga menjadi pilihan. Seperti pertengahan Desember 2011 lalu, Rockstar Games merilis Grand Theft Auto III: 10 Year Anniversary Edition untuk iOS dan Android, dengan harga HANYA US $4.99, atau tak lebih dari 50 ribuan. Itu game yang 10 tahun lalu menjadi flagship di PlayStation2, dan sampai saat ini masih banyak yang belum bosan memainkannya. Bisa dikatakan, dalam waktu 10 tahun lagi mungkin saja kita bisa menikmati game-game unggulan yang saat ini berkuasa di konsol seperti X360 dan PS3. Atau, bahkan lebih cepat lagi, seperti bagaimana Dead Space memperoleh sekuelnya berselang tak sampai 3 tahun (pertama di iOS kemudian Android) dari versi konsolnya. Dan demikian, kembali meninggalkan pertanyaan, kemana PS Vita dan Nintendo 3DS bisa dipasarkan? Apakah masih ada pasar khusus pemain game portable / handheld, ketika smartphone dan tablet dewasa ini bisa melakukan jauh lebih banyak fungsi dengan tidak meninggalkan fungsi game? Tiga karakter utama Unearthed...[/caption] Dan bicara smartphone, dengan harga Vita saat ini saat masuk ke Indonesia yang aduhai cukup tinggi, terpaut sampai Rp. 1 jutaan dari harga aslinya, memang memberi pertimbangan lain untuk memilih smartphone atau tablet saja dengan harga yang nyaris sama. Memang tidak ada Uncharted: Golden Abyss, namun banyak pilihan action adventure yang tidak kalah menarik, seperti Shadow Guardian, atau yang saat ini masih dalam tahap pengembangan, Unearthed: Trail of Ibn Battuta, tampil lebih mirip dengan Uncharted. Mengingatkan pada Uncharted, ya... semoga saja bisa lepas dari bayangan salah satu game terbaik PlayStation tersebut... Grafisnya menggunakan Unity, seperti yang diterapkan pada Shadowgun. Tak heran terlihat halus dan mendetail.[/caption] Dan berikut salah satu trailer awal dari Unearthed: Kembali pada smartphone / tablet, selain dari faktor kemiripan game yang ditawarkan tersebut, jelas smartphone atau tablet memberi fungsi yang jauh lebih banyak dan komplek dibandingkan handheld game. Dengan harga pasaran Vita di Indonesia, sekarang smartphone / tablet apa yang bisa dikatakan setara secara harga dan spesifikasi, yang layak kamu jadikan alternatif? Berikut beberapa pilihannya, di rentang harga yang sama seperti harga Vita saat ini. Kami juga akan berikan perbandingan lain dengan smartphone dan tablet di rentang harga 3 jutaan pada artikel selanjutnya. Oh ya, satu keunggulan Vita, yaitu jajaran tombol fisik yang memberi feedback terbaik, tidak kami sebutkan di dalam, karena sudah jelas para smartphone / tablet berikut tidak mungkin mengaplikasikan tombol-tombol dalam jumlah banyak, karena fungsi utama mereka bukan sebagai handheld game. Samsung GT-i9100 Galaxy S II Walaupun dibalik tubuh slim, spesifikasi tinggi, dan layar yang kaya warna itu Galaxy S II ini tak luput dari cela. Banyak yang dulu mengeluhkan ada noda warna kekuningan dan merah muda pada layarnya. Namun mereka yang mendapatkan keluaran akhir, apalagi yang warna putih, sepertinya tidak mengeluhkan kejadian yang sama. Dan dengan harganya yang sudah turun, kini rata-rata dijual di harga Rp. 5,2 jutaan, Galaxy S II menjadi opsi terbaik smartphone "all-in-one." Aksesoris yang lengkap (sampai baterei gendong pun ada) dan mudah didapat, spseifikasi racikan chipset Exynos yang dijamin tidak gagap melahap semua game mobile (dan emulator mesin game lawas, termasuk PS One), kamera 8 megapixel yang hasilnya memuaskan, internal memory dan RAM yang lega, layarnya pun lapang untuk kebutuhan kendali touchscreen ketika bermain game. Saat ini OS-nya masih Gingerbread, namun sudah banyak OS racikan berbasis Ice Cream Sandwich bisa didapatkan dengan mudah. Samsung sendiri diperkirakan merilis update OS ofisialnya Maret 2012 mendatang. Dibandingkan Vita, Galaxy S II hanya jatuh di material casingnya yang berkesan plastik, serta ukuran layar yang hanya 4.27 inchi, dibandingkan 5 inchi pada Vita. Resolusinya pun hanya 800x480 pixel dengan pixel per inchi-nya sekitar 220 PPI. Namun teknologi layar Super AMOLED Plus-nya menjamin tiap pixel mendapat dukungan pencahayaan satu sub pixel tambahan, sehingga tetap terlihat detail dibandingkan layar OLED Vita yang resolusinya 960x544 pixel. Key Feature:

  • Modul radio quad-band GSM, 3G mendukung kecepatan hingga 21 Mbps HSDPA / 5.76 Mbps HSUPA, yang bisa dioperasikan tanpa harus terikat kontrak operator, alias unlocked.
  • Android OS v2.3.3, dan bakal di update ke OS v4.0. Ada ratusan ribu pilihan aplikasi dan game.
  • Chipset Exynos, dengan  prosesor Cortex-A9 CPU 1.2 GHz dual-core, Mali-400MP GPU, 1GB RAM
  • Kamera 8 megapixel, mendukung wide-angle, autofocus, LED flash, face, smile dan blink detection. Kamera sekunder di depan beresolusi 2 megapixel.
  • Merekam video resolusi full HD 1080p pada 30fps
  • Dual-band Wi-Fi 802.11 b, g dan n
  • GPS dengan Assisted-GPS (alias dukungan jaringan seluler); Digital compass
  • Internal memory 16 GB (yang beredar di Indonesia), available ke user sekitar 11 GB. Bisa di-expand dengan mudah dan murah melalui slot microSD (cukup 120 ribuan sudah dapat microSD 8 GB class 10).
  • Sensor pendeteksi gerakan yang lengkap, accelerometer, gyroscope dan proximity.
  • Audio jack 3.5 mm
  • Slot microUSB sekaligus port MHL yang mendukung TV-out dengan maksimal resolusi 1080p.
  • Bluetooth v3.0
  • FM radio dengan RDS
  • Tipis, hanya 8.5mm tebalnya, dengan berat hanya 116g
  • Mendukung animasi flash, dan web browser yang kencang (Vita juga jatuh di faktor satu ini, banyak yang melaporkan browsernya yang mengadopsi browser dari Kindle Fire yaitu Silk Web Browser, terlalu lambat kinerjanya)
  • Dan banyaknya fungsi multimedia hingga office editing
Apple iPhone 4 Walaupun masih kalah dari adiknya, iPhone 4S, namun iPhone 4 masih tetap menjadi smartphone yang fenomenal. Kurang dari sebulan, Apple mampu menjual sekitar 3 juta unit iPhone 4 ke pasaran! Dan saat ini, nyaris dua tahun sejak peluncuran pertamanya akhir Juni 2010 lalu, iPhone 4 masih menjadi item menarik untuk dimiliki -- terutama bagi mereka yang sekadar pengen gaya, dan bisa merasa bangga punya iPhone (yup, It's Apple!). Harganya sendiri masih bertengger di rentang Rp. 5,5 hingga 6 jutaan tanpa kontrak operator. Memang jauh dibandingkan Vita, namun sebagai pelopor evolusi mobile gaming, iPhone tetap harus masuk. Toh bagi mereka yang memang membeli smartphone untuk bisa bangga memainkan ratusan game-game keren pertama kali sebelum platform lainnya, iPhone dengan iOS-nya selalu mendapat kesempatan pertama sebelum sebuah game di-port, misalnya ke Android. Selain itu, iPhone 4 juga tampil dengan desain yang sangat ekslusif, materialnya pun berkelas tahan goresan, serta profil tubuh yang tipis. Sayang ukuran layarnya yang hanya 3.5 inchi kurang nyaman bagi mereka berjempol besar bermain game. Namun layar Retina dengan resolusi 960x640 pixel juga tidak bisa dibantah kaya akan detail. Kemudian yang dulu menjadi salah satu alasan beberapa orang melepaskan iOS (termasuk saya), adalah terlalu bergantung pada iTunes untuk keperluan memasukkan file multimedia ke dalamnya, plus, mau transfer file via Bluetooth saja susahnya minta ampun... hehe! Kemudian yang sensitif harga, sebenarnya dengan harga baru iPhone 4 dengan 4S yang tidak terpaut banyak. Banyak yang lebih suka memilih 4S, terutama karena chipset-nya sudah Apple A5, dengan prosesor dual-core dan GPU yang lebih kuat hingga 7x dari Apple A4, yaitu PowerVR SGX543 yang memiliki dua core. GPU sejenis juga digunakan Sony dalam Vita. Hanya saja bedanya, pada Vita masuk tipe SGX543MP4, karena memang Vita memiliki CPU dengan empat core. Alasan lain menambah hampir 2 juta dari iPhone 4 ke 4S adalah, adanya aplikasi Siri (yang saya rasa agak susah diterapkan di Indonesia, karena tidak semua bisa logat/aksen Bahasa Inggris, misalnya), kamera 8 megapixel dengan hasil yang sangat memuaskan, serta mampu merekam dengan kualitas full HD. Key Feature:
  • Modul radio quad-band GSM, 3G mendukung kecepatan hingga 7.2 Mbps HSDPA dan 5.76 Mbps HSUPA
  • Layar Retina berukuran 3.5 inchi, berbahan TFT dengan 16 juta warna  960x640 pixel, dengan teknologi IPS
  • Panel depan dan belakangnya dibuat dengan bahan anti goresan, serta dilapisi lapisan yang tahan anti sidik jari
  • Chipset Apple A4, dengan prosesor 1GHz dan 512MB RAM, serta GPU PowerVR SGX 535. Kombinasi tersebut menekankan pada kehematan penggunaan daya baterai. Tak heran jika Apple sengaja menurunkan clock rate prosesornya, serta memberi standar khusus terhadap semua aplikasi yang dikembangkan untuk iOS, agar kebutuhan resource-nya tidak melebihi dari kemampuan hardware-nya. Hasilnya, tidak heran jika iOS lebih awet baterai dibandingkan tipikal platform lainnya.
  • Kamera 5 megapixel dengan LED flash dan fitur touch focus, serta mampu merekam video HD dengan kualitas 720p pada 30fps
  • Dilengkapi konektifitas seperti Wi-Fi 802.11b/g/n, Bluetooth v2.1, GPS dengan dukungan Assisted-GPS dan digital compass.
  • Pilihan storage 16 atau 32GB. Kedua varian beredar bebas di Indonesia. Jika butuh storage besar, tentu lebih baik yang 32GB, karena kamu tidak bisa memperbesar kapasitas memory-nya melalui microSD.
  • Sensor pendeteksi gerakan yang lengkap, accelerometer, gyroscope dan proximity
  • Audio jack standar 3.5 mm, dengan kualitas audio (melalui headset) yang cukup baik. Namun sayang kualitas audio melalui speakernya, menurut saya terlalu pelan.
  • Profil casing yang tipis, hanya 9.3mm, dengan berat 137 gram. Sayang desain antena di sekeliling bezel rentan mengurangi sensitifitas penerimaan sinyal. Masalah "deathgrip" (istilah keren suka hilangnya sinyal karena tertutup genggaman tangan) pada iPhone 4 tersebut diperbaiki melalui iPhone 4S dengan desain dual antenna.
  • Akhirnya ada kamera sekunder di depan, walaupun hanya 0.3 megapixel. Namun sayangnya, untuk video call dibatasi hanya melalui Wi-Fi.
  • Akhirnya, melalui iOS terbaru, bisa multitasking, walaupun kecepatan prosesornya dirasa kurang untuk menjalankan beberapa aplikasi bersamaan (karena itulah tidak semuanya bisa di-multitask), apalagi menjalankan video full HD.
Motorola RAZR XT910   Nah ini dia satu bintang masa lalu yang coba dibangkitkan oleh Motorola. Smartphone yang disebut juga sebagai Motorola Spyder ini merupakan inkarnasi terbaru Motorola RAZR. Kamu mungkin masih ingat, saat PSP pertama kali dirilis 2004 lalu, Motorola RAZR V3 juga membuat decak kagum dunia dengan desainnya yang tipis, elegan, dan juga... mahal!! Sangat mahal untuk sebuah ponsel fashion, yang menjual desain tipis-elegan, model clamshell, dan kemampuannya pun sebatas Java MIDP 2.0 -- harganya waktu itu di kisaran US $600 - 700!! Walaupun mahal, namun RAZR rermasuk sukses pada masanya. Bahkan banyak yang menyebutkan jika kepopulerannya (karena digunakan oleh banyak selebritis Amerika, serta sering muncul di berbagai pertunjukan TV) baru dilampaui oleh iPhone 3G pada November 2008. Namun perlahan RAZR, yang masuk jajaran ponsel 4LTR-nya Motorola (namanya hanya 4 huruf, atau 4 Letter, termasuk di dalamnya seri Motorola ROKR hingga MING) ini mulai ditinggalkan. Dan RAZR terakhir yang eksis adalah Motorola RAZR3 V13 (alias Moto KLASSIC) pada akhir November 2009, dan masih menonjolkan desain clamshell yang tipis dan menawan. Semuanya berubah ketika 18 Oktober 2011 lalu, Motorola dan Verizon Wireless resmi mengkonfirmasikan RAZR, dan menyebutnya sebagai "the world's thinnest 4G smartphone." Bukan sekadar sesumbar, karena iphone 4S dan Galaxy S II pun kalah tipis dengan si Spyder yang tebalnya hanya 7.1 mm ini -- atau 10.7 mm pada bagian atas, dimana kamera dan loudspeaker-nya berada. Bicara speaker, output suaranya paling kencang dibandingkan semua smartphone pilihan pengganti Vita, yang kami ulas saat ini. Kemudian kamera utamanya 8 megapixel, dan kamera depan 1.3 megapixel, prosesor dual-core 1.2 GHz, serta 1 GB RAM. Layarnya Super AMOLED Advance 4.3 inchi dengan resolusi qHD 960×544 pixel. Datang langsung mengusung Android OS v2.3.5 -- dengan antar muka Motorola MOTOBLUR UI yang agak terasa berat, serta upgrade Ice Cream Sandwich juga sudah direncanakan, meskipun belum dijelaskan kapan. RAZR ini sudah beredar bebas di Indonesia sejak akhir Desember 2011 lalu, dengan harga pembukaan Rp. 5,5 juta. Namun saat ini, sudah turun drastis di level Rp. 4,9 juta - 5,2 jutaan, setelah Galaxy S II yang juga terkoreksi harganya. Kabar terbaru, Motorola bakal merevisi RAZR ini menjadi RAZR MAXX dengan kapasitas baterai lebih besar, dari 1780 mah menjadi 3300 mAh, namun profil tebalnya tidak bertambah terlalu banyak -- diperkirakan hanya menjadi sekitar 8 mm saja tebalnya. Dibandingkan Vita, harganya yang sepertinya bakal segera turun, menjadi pilihan yang cukup terjangkau, apalagi desainnya juga tidak biasa. Apalagi jika yang versi MAXX dengan baterai raksasa itu keluar, pasti lebih worthed. Key Feature:
  • Selain tipis, rupanya Motorola mendisain RAZR robot ijo ini juga tahan cipratan air -- bukan berarti tahan dicelup seperti Motorola Defy lho ya!! Efek fitur tersebut, batereinya tidak bisa dicopot dengan bebas, alias menyatu, seperti pada iPhone.
  • Modul radio quad-band GSM, 3G mendukung kecepatan hingga HSDPA 14.4 Mbps, dan HSUPA 5.76 Mbps
  • Layar 4.3 inchi, 16 juta warna, capacitive SuperAMOLED Advance, dengan resolusi qHD (960 x 540 pixels, serta 256ppi), yang dibalut bahan anti goresan Gorilla Glass (seperti pada Galaxy S II juga). Motorola mengklaim kata "advance" tersebut membuat konsumsi baterainya lebih irit 20% dibandingkan Super AMOLED biasa. Namun bukan berarti lebih baik dari Super AMOLED Plus-nya Galaxy S II. Akan kami beberkan perbedaannya pada bagian lain, ya!
  • Chipset TI OMAP4430, yang menyatukan prosesor ARM Cortex-A9 dual-core 1.2GHz, dengan GPU PowerVR SGX540, serta didukung 1GB RAM. ROM-nya sendiri disediakan sekitar 1.5 GB, dengan 1.2 GB berperan sebagai internal storage yang bisa kamu gunakan untuk meng-install aplikasi.
  • Kamera 8 megapixel-nya dibekali LED flash, serta fitur face detection, geotagging, dan mampu merekam dengan kualitas full HD 1080p video recording pada 30fps. Selain itu juga ada mode slow motion dengan resolusi VGA pada 120 fps.
  • Konektifikasnya disediakan dual-band Wi-Fi ab/g/n (mendukung Wi-Fi hotspot dan DLNA), GPS dengan A-GPS, digital compass serta Bluetooth versi 4.0 yang lebih hemat baterai.
  • Internal storage 16GB, yang bisa diperbesar melalui slot microSD
  • Sensor pendeteksi gerakan yang lengkap, seperti accelerometer dan proximity
  • Audio jack standar 3.5 mm, microHDMI port, yang mendukung aksesoris docking Web Top
  • Ada mic kedua, yang berfungsi sebagai active noise cancellation (mengurangi efek suara sekitar saat menelepon), yang juga kamu dapatkan dalam Galaxy S II dan iPhone 4
HTC Sensation XE Dan jika kamu mencari Droid, namun mempertimbangkan juga kualitas material serta desain hardware keseluruhan, maka HTC bisa dijadikan pilihan. Saya mengenal smartphone mereka sejak kuliah satu dekade lalu, terutama melalui kualitas casing yang kokoh dan ekslusif… Dan nama Sensation ini juga tidak asing, karena sebelumnya sudah kamu temui melalui HTC Sensation, yang harganya barunya saat ini mendekati angka Rp. 4 jutaan. Dan varian Extended Edition yang lebih mewah ini memang bukan pengganti dari Sensation yang dirasa sudah kalah bersaing (dengan Galaxy S II tentunya, karena dirilis sama-sama Mei 2011), melainkan produk baru membawa nama Sensation, dengan beberapa upgrade yang cukup layak dipertimbangkan dari Droid dengan harga jual sekitar Rp. 5,4 jutaan ini. Keseluruhan spesifikasinya sama persis dengan HTC Sensation, namun di sini HTC merevisi beberapa bagian yang dirasa kurang dari Sensation. Mulai prosesor, yang masih sama dari chipset Qualcomm Snapdragon MSM8260, namun prosesor Scorpion-nya dipilih yang speed-nya 1.5 GHz. Kapasitas ROM di Sensation yang hanya 1 GB, ditingkatkan menjadi 4 GB untuk XE, dengan jatah untukmu sebesar 1 GB. Kemudian kapasitas baterai dari 1520 mAh, ditambah menjadi 1730 mAh, yang akibatnya menambah berat XE menjadi 151 g (dari 148 g). Namun diantara upgrade tersebut, yang paling menjual adalah integrasi Beats Audio. HTC bekerjasama dengan Beats by Dr. Dre, untuk meningkatkan kualitas audio-nya -- sayangnya hanya ketika menggunakan headset iBeats yang dipaket dalam penjualannya, sedangkan kualitas louspeaker XE itu sendiri tidak terlalu keras, menurut saya setara seperti pada Galaxy S II. Kemudian yang paling saya sukai dari smartphone HTC adalah antar muka HTC Sense-nya. HTC begitu dalam memoles tampilan Android, sampai kita tidak sadar bahwa antar muka tersebut pada dasarnya sama seperti stock ROM Android lainnya. HTC Sense juga memiliki integrasi social network yang bagus, serta beberapa aplikasi yang menarik seperti HTC Location, dan integrasi dengan HTCSense.com. Sayangnya, menjalankan HTC Sense itu tadi justru juga memperlambat kinerjanya, selain juga kapasitas RAM-nya yang hanya 768 MB saja -- sementara semua Droid lain yang berada di rentang 5 jutaan, sudah memasang RAM 1 GB untuk kestabilan proses. Oh ya, internal storage-nya juga paling minim, hanya 1 GB, plus 8 GB microSD dalam paket penjualan -- di luar, yang jadi bonus microSD 16 GB. Selain itu, ada fault yang sama seperti iPhone 4 dengan HTC Sensation dan XE ini. Memegangnya dengan cara yang salah (terutama menutupi bagian antena di bagian atas), bakal mengganggu penangkapan sinyal GSM atau WiFi. Key Feature:
  • Modul radio quad-band GSM, dengan dukungan dual-band 3G, serta kecepatan download upload hingga 14.4 Mbps HSDPA dan  5.76 Mbps HSUPA
  • Layar berukuran 4.3" inchi, 16 juta warna, capacitive berbahan LCD dengan resolusi qHD 960x540 pixel, 256 PPI. Plus dilindungi oleh lapisan tahan gores Gorilla Glass.
  • Teknologi audio processing dari Beats Audio, dengan tambahan headset iBeats dalam paket penjualan.
  • Kamera 8 megapixel dengan LED flash, berfitur face detection dan geotagging, serta bisa merekam video dengan kualitas full HD 1080p dan 720p pada 30fps. Kamera sekunder di depan resolusinya HANYA 0.3 megapixel -- seperti punya iPhone 4.
  • Konektifitas Wi-Fi b/g/n dan DLNA, GPS dengan A-GPS, Bluetooth 3.0.
  • Sensor pendeteksi gerakan yang lengkap, seperti accelerometer, proximity dan ambient light sensor
  • Audio jack 3.5 mm, port microUSB dengan MHL TV-out (seperti Galaxy S II, memerlukan konverter MHL-to-HDMI)
Nokia Lumia 800 "Jendela" pertama dari Nokia... yup, inilah smartphone dengan OS Windows Phone pertama dari Nokia. Saat dikonfirmasikan selama Nokia World 2011, Oktober lalu, banyak yang sudah menanti kehadirannya. Karena memang sejak awal tahun 2011 lalu, Nokia sudah memutuskan akan mendukung Microsoft dengan Windows Phone mereka.  Saya sendiri sempat terkejut, karena selama ini Nokia selalu berjalan dengan OS yang masih menjadi penguasa pasar, yaitu Symbian. Namun makin lama Symbian mulai ditinggalkan, dan selama 2009-2011 pendukung mereka seperti Motorola, Samsung, LG, dan Sony Ericsson memutuskan beralih ke platform lain, seperti Android dan Windows Phone. Lumia 800 membawa desain unibody (casing sisi depan – belakang yang menyatu) yang pertama kali diterapkan Nokia pada Nokia N9 (dengan OS Meego, dan kurang begitu dikenal di pasaran), serta layar multi touch 3.7 inchi dengan bahan AMOLED, yang didukung teknologi ClearBlack. Resolusinya 480 x 800 pixel (kerapatan pixel 252 ppi). Untuk prosesor ada Scorpion 1.4GHz, dikombinasikan dengan 512 MB RAM dan 16GB storage. Kamera 8 megapixel dengan lensa f/2.2 yang diklaim menghasilkan gambar super terang, dan sepertinya sama seperti yang disematkan Nokia pada N9, menjadikan kemampuan fotografi Nokia Lumia 800 di atas rata-rata. Dan tentu saja lensa tersebut tidak gagap menangkap video dengan kualitas 720p pada 30fps. Singkatnya, secara desain Lumia 800 adalah N9 dengan layar yang dikecilkan (3.7 inchi vs 3.9 inchi). Ukurannya pun nyaris sama, dengan Lumia 800 pada 116.5 x 61.2 x 12.1 mm, dan berat 142 g, menjadikannya Windows Phone Mango tertipis. Tentu saja OS-nya juga beda, karena N9 menggunakan varian Linux, yaitu Meego. Layar yang dikecilkan 0.2 inchi, atau kehilangan sekitar 54 pixel, membuat Nokia mampu memanfaatkan ruang kosong untuk menempatkan tiga tombol sentuh di bawahnya, plus juga membedakan dengan N9, ada satu tombol baru untuk fungsi kamera. Oh ya, kamera depan N9 yang ditempatkan cukup aneh di bawah layar, juga dihilangkan dalam Lumia 800 ini. Fitur lain Lumia 800, mulai dukungan konektivitas lengkap seperti 3G  (HSDPA 14.4 Mbps, HSUPA 5.76 Mbps), Wi-Fi 802.11 b/g/n, Bluetooth v2.1, microUSB v2.0, dan GPS (dengan kompas digital). Kamu yang masih doyan aplikasi Java, seperti sebelumnya, Windows Phone juga mendukung Java MIDP 2.1 built in. Kemudian OS-nya juga mendukung integrasi mendalam ke social network. Seperti N9, juga ada fitur active noise cancellation dengan mic khusus. Sensor proximity dan accelerometer pun juga kamu temui di sini. Hanya saja sayang, Windows Phone yang menurut saya juga berkembang menjadi seperti iOS, kamu bakal mendapat banyak batasan software ketika menggunakannya, walaupun semua itu untuk mendapatkan kinerja yang lebih stabil. Seperti Windows Phone lainnya, Lumia 800 ini pun harus bergantung pada aplikasi Zune pada PC untuk saling mengisi file multimedia. Tanpa mode USB mass storage, akan menyusahkanmu ketika berhadapan dengan PC yang tidak ada Zune di dalamnya -- kendala sama yang dihadapi pengguna iOS yang harus bergantung dengan iTunes. Kamu juga tidak bisa mengakses kompartemen baterai, serta tidak ada slot memory card. Jatah 16 GB itu saja yang kamu miliki. Selain itu, slot kartu SIM-nya juga berjenis microSIM, seperti pada iOS terbaru.

Key Feature:

  • Modul radio quad-band GSM, 3G, serta kecepatan download upload hingga 14.4 Mbps HSDPA dan 5.7 Mbps HSUPA
  • Layar 3.7 inchi 16 juta warna, AMOLED capacitive dengan resolusi 800x480 pixel, yang dilapisi Gorilla Glass serta anti-glare polarizer. Layar juga agak melengkung seperti pada Galaxy Nexus (walau tidak terlalu kentara), membuat pengendalian makin nyaman. Sayang, layarnya tidak seterang pada N9, demikian juga ketika digunakan di luar ruangan, tidak sebaik N9 dalam memantulkan cahaya.
  • Kamera 8 megapixel autofocus dengan dual LED flash, mampu merekam video HD 720p pada 27fps
  • Windows Phone 7.5 OS (Mango)
  • Chipset Qualcomm MSM8255 dengan prosesor Scorpion 1.4GHz, GPU Adreno 205,  dan 512MB of RAM
  • Desain casing unibody berbahan polycarbonate
  • Konektifitas lengkap Wi-Fi 802.11 b/g/n, Bluetooth v2.1 with A2DP and EDR, dan GPS didukung A-GPS yang memberimu panduan navigasi gratisan selamanya melalui Nokia Maps. Plus juga ada digital compass dan microUSB port
  • Memiliki sensor gerakan seperti accelerometer dan proximity sensor
  • Audio jack standard 3.5 mm; FM Radio dengan RDS
Nokia Purity HD Stereo Headset by Monster[/caption] Mungkin Windows Phone masih belum begitu populer di Indonesia. Namun dengan diboyong nama besar seperti Nokia, semoga saja perkembangannya lebih baik. Untuk Lumia 800 ini, dan juga adiknya, Lumia 710, Nokia membuka kesempata pre-order untuk memesannya lebih awal. Harga yang dipatok adalah Rp. 5.250.000 untuk Lumia 800, sedangkan Lumia 710 di angka Rp. 2.900.000. Khusus pre-order, kamu bisa mendapatkan bonus Nokia Purity HD Stereo Headset by Monster (headset ini saja nilainya sekitar 1.5 jutaan lho!)  untuk setiap pre-order Lumia 800, dan In-ear Nokia Purity Stereo Headset by Monster untuk setiap pre-order Lumia 710. Selain itu, keduanya mendapatkan paket internet selama 1 tahun hingga 3.6 Mbps dari XL. Untuk memesannya, kamu bisa langsung masuk ke website Nokie berikut ini: www.nokia.com/id-id/be-the-first-to-own. Selain online, pre-order Nokia Lumia ini pun bisa dilakukan di 12 outlet Nokia Lumia Store yang tersebar di Jakarta (Nokia Store : Senayan City, Mall Taman Anggrek, Mall Kelapa Gading 3, Grand Indononesia, Mall Emporium Pluit, Central Park), Bekasi (Nokia Store Mall Metropolitan), Tangerang (Nokia Store Supermall Karawaci, Summarecon), Surabaya (Nokia Store Galaxy Mall, Grand City) dan Makasar (Nokia Store Mall Panakukang). In-ear Nokia Purity Stereo Headset by Monster[/caption]