TUTUP

CES 2014: Persaingan Ultra HD TV Makin Meluas, Harganya Dari 10 Hingga 100 Jutaan!

CES 2014 juga mencatat banyak produsen televisi dunia yang berusaha merubah trend. Mereka ingin mengganti resolusi Full HD 1080p menjadi ultra-high-definition atau yang biasa dikenal sebagai Ultra-HD 4K.

CES 2014 juga mencatat banyak produsen televisi dunia yang berusaha merubah trend. Mereka ingin mengganti resolusi yang sampai saat ini diakui sebagai standar, Full HD 1080p menjadi ultra-high-definition atau yang biasa dikenal sebagai Ultra-HD 4K.

Mulai dengan Samsung, mereka percaya jika mulai tahun ini ultra-HD akan mendominasi pasar, dan mengambil jatah HD TV, meskipun dari sisi harga masih terlalu tinggi, dan konten 4K pun masih terbatas. Selain televisi UHD biasa, Samsung juga mengajukan televisi UHD dengan layar melengkung yang didemokan selama CES serta akan tersedia mulai pertengahan tahun ini. Dengan televisi 4K disebut-sebut sebagai generasi baru home entertainment yang mengajukan resolusi 4x tipikal HDTV, Samsung pun tidak ingin pasar kehilangan pilihan dengan rencana merilis 10 model UHD baru tahun ini, dibandingkan tahun 2013 lalu. Dari 10 model tersebut ukurannya bervariasi, mulai 50-inchi hingga 105 dan 110-inchi, dan yang terbesar (serta diklaim menjadi yang pertama) itu ditawarkan dengan harga yang fantastis, US  $152,000 untuk kombinasi layar melengkung dan resolusi UHD. Samsung mengungkapkan Curved UHD TV mereka mengajukan aspect ratio 21:9, yang mereka sebut sebagai CinemaScope. Itu artinya selain sangat besar, televisi melengkung Samsung tersebut juga bisa memutar konten yang direkam dalam format wide. Televisi UHD Samsung lainnya yang dibawa selama CES adalah Bendable UHD TV. Bukan hanya melengkung, televisi yang satu ini bisa diubah penampilannya dari flat ke curved hanya dengan satu tekanan tombol saja. Bendable UHD TV sebatas prototype saja, namun jika benar akan dikomersilkan, pasti menjadi salah satu produk elektronik yang unik dirilis tahun ini. Produsen lainnya yang juga optimis dengan Ultra-HD adalah LG. Menurut LG mereka akan menyediakan 12 televisi UHD tahun ini, dan selama CES membawa beberapa diantara televisi 4K berlayar OLED tersebut, yang ukurannya berkisar dari 55-inchi, 65-inchi, dan 77-inchi (tahun lalu baru sekadar konsep saja). Meskipun tidak mengajukan ukuran sebesar milik Samsung, dimensi 77-inchi yang terbesar dari LG dengan resolusi 3840 x 2160-pixel seharusnya sudah cukup cantik memancarkan tampilan 4K untuk ruangan keluarga. Dan seperti Samsung, semua model yang mereka tawarkan juga ada varian curved-nya. Dengan layar yang agak melengkung diharapkan bisa mengurangi pantulan dan obyek yang berada di depannya selama televisi tersebut aktif. Dengan harga yang model 55-inchi diprediksi masih berapa di rentang US $10,000, kami penasaran berapa nilai yang 77-inchi akan ditawarkan nantinya... Selain itu LG juga mengkonfirmasikan (dan juga mengklaim menjadi yang pertama) Curved Ultra HD TV dengan aspect ratio 21:9 serta dimensi 105-inchi. Meskipun sedikit di bawah Samsung, namun panel besar dan melengkung dari LG ini resolusinya 5120 x 2160-pixel, alias 5K, serta dilengkapi speaker depan 7.2 multi-channel dari Harman Kardon. Sedangkan untuk jajaran UHD mereka, LG menyediakan fitur seperti fungsi upscaling yang mampu membuat konten SD, HD atau Full HD tetap terlihat menarik di panel 4K melalui pengaplikasian Tru-ULTRA HD Engine Pro. Menjadi bagian kelas atas seri Ultra-HD, selain 105-inchi juga ada yang layarnya 65, 77, 79, 84 hingga 98-inchi, dan semuanya juga memiliki fungsi upscaling. Sayangnya yang tipe atas ini justru menggunakan layar LCD, bukanya OLED. Untuk Sony, sepertinya mereka tidak terlalu pusing menerapkan layar melengkung seperti LG dan Samsung ke dalam televisi UHD-nya. Filosofi Sony untuk televisi UHD mereka adalah tampilan yang jernih. Selama CES 2014 Sony membawa seri baru XBR, yang mengunggulkan fitur X-tended Dynamic Range PRO, yang secara dinamis mampu mengurangi peningkatkan brightness setiap LED di balik panel layarnya secara konstan. XDR PRO memungkinkan UHD Sony ini menampilkan warna hitam yang lebih dalam, serta warna lain menjadi lebih terang. Sony juga menerapkan teknologi pemrosesan warna mereka, seperti Triluminos untuk menghasilkan akurasi warna yang lebih baik. Seperti Samsung dan LG, Sony pun memiliki teknologi upscaling mereka sendiri, X-Reality Pro, untuk membuat konten yang resolusinya rendah tetap terlihat tidak terlalu pecah pada resolusi 4K. Koneksi lokal seperti WiFi dan NFC pun menjadi standar. Kategori Ultra HD selama CES 2014 tidak hanya dikuasai nama besar dan juga produk berharga puluhan, dan bahkan ratusan juta saja. Ada produsen lain yang memilih ceruk yang lebih luas dengan menawarkan televisi 4K yang harganya masih bisa dikatakan affordable. Seperti Vizio yang juga mengkonfirmasikan panel Ultra HD mereka dari seri P, yang ternyata ditawarkan jauh di bawah rentang harga televisi Ultra HD lainnya. Untuk yang layarnya 50-inchi, Vizio hanya akan menjualnya di harga US $1,000, dan setiap peningkatan 5-inchi harganya diperkirakan naik US $400 hingga yang termahal pada bidang 70-inchi dijual dengan harga US $2,600. Selain Vizio, ada produsen elektronik asal Australia yang juga mencoba peruntungan di kelas televisi Ultra HD low-budget. Adalah Kogan,  mereka menawarkan tekevisi Ultra HD pertama dengan harga hanya $999 AUD, atau sekitar Rp. 11 jutaan! Polaroid yang lebih dikenal melalui produk kameranya, ternyata juga mengajukan televisi Ultra HD mereka sendiri, dan harganya pun mulai US $1,000 untuk yang layarnya 50-inchi.   Sedikit di atas ketiganya, ada Sharp yang menawarkan televisi Ultra HD dengan harga antara US $5,000 hingga $6,000. Selain mereka masih ada beberapa nama lain yang mulai meramaikan kompetisi Ultra HD di tahun ini. Seperti Panasonic yang juga membawa satu seri 4K Ultra HD LED Life+ Screen AX800 yang pilihan dimensinya 58 hingga 65-inchi, serta 85-inchi yang masih berupa prototype. Kemudian Toshiba untuk kelas Ultra HD TV mereka berkisar dari ukuran 58 dan 65-inchi Premier L9400U yang memiliki panel LED extra-bright "Radiance". Selain resolusi yang meningkat 4x dari tipikal HDTV, televisi baru ini pun mengajukan prosesor quad core untuk mendukung visualisasi konten beresolusi tinggi. Dan untuk teknologi tersebut memang nilainya masih tinggi. Sayangnya  hampir semua televisi Ultra-HD tersebut belum mengungkapkan berapa harganya. Namun kami yakin, harganya pasti sangat mahal, dan yang didemokan selama CES diklaim mulai tersedia di Amerika pertengahan tahun ini. Samsung juga yakin penetrasi televisi 4K ini lebih cepat dari 1080p, meskipun mereka sendiri tidak menjanjikan televisi 4K berbahan OLED yang murah akan tersedia dalam 3 sampai 4 tahun mendatang. Televisi yang bisa diatur flat atau melengkung seperti ini harganya bisa mencapai ratusan pada ukuran tertinggi.[/caption] Sepertinya dengan harga yang ditawarkan, Ultra HD masih perlu jalan panjang sebelum menjadi mainstream. Menurut data penjualan Ultra HD TV selama 2013 lalu, hanya 60,000 unit yang terjual di Amerika. Bandingkan saja dengan 40 juta unit televisi yang terjual di seluruh dunia. Jika harga televisi 4K segera anjlok, seharusnya pasar mampu menyerapnya. Namun bisa jadi juga tidak, seperti pengalaman televisi 3D, meskipun menawarkan teknologi yang lebih baik dan harganya sudah di level yang lebih terjangkau, tetap saja pasar lebih memilih (cukup) televisi full HD saja. Khususnya gamer, dimana tipikal game next-gen saat ini yang ternyata baru mengoptimalkan resolusi Full HD saja. Selain Ultra TV, banyaknya televisi pintar alias Smart TV selama CES 2014 juga menarik perhatian kami, karena menawarkan fitur yang lebih luas dibandingkan tipikal HD TV atau 3D TV biasa. Kami akan mengulas beberapa Smart TV baru yang muncul selama CES 2014 di artikel lainnya. CES 2014 77" 4K Flexible OLED TV CES 2014 VIZIO P-Series Sumber: Samsung, LG (1), (2), Sony, Vizio, Kogan, Sharp, Polaroid, Panasonic, Toshiba