Review Film Candyman, Berlanjutnya Kutukan Candyman di Cabrini-Green

Candyman kembali menjalankan terornya di Amerika

Review Film Candyman, Berlanjutnya Kutukan Candyman di Cabrini-Green

Tahun 90-an selalu menjadi era keemasan film horor modern. Pada periode tersebut kita mendapatkan berbagai film horor keren, mulai dari Scream, The Silence of The Lamb, hingga The Blair Witch Project. Tapi ada Ada sebuah film yang menjadi pembukaan film horor era 90-an. Film tersebut adalah Candyman yang terinspirasi dari cerita pendek karya Clive Barker.

Kisah Candyman menceritakan tentang hantu yang muncul di daerah Liverpool karena adanya pembunuhan yang melibatkan sistem kelas di Inggris. Pada versi filmnya, lokasi Candyman berubah ke Cabrini-Green di Chicago dan konflik yang dipakai ikut bergeser ke masalah minoritas di Amerika Serikat.

Film tersebut dinilai cukup sukses sehingga menghasilkan dua sekuel yang tersebar di tahun 95 dan 99. Sayang karena ada masalah kepemilikan karakter, film keempat Candyman tidak pernah dibuat. Hingga akhirnya Jordan Peele dikabarkan mendapatkan izin untuk membuat sekuel Candyman terbaru di tahun 2018.

1. Legenda Cabrini-Green

Review Film Candyman, Berlanjutnya Kutukan Candyman di Cabrini-GreenDok. UIP

Candyman menceritakan sosok Anthony McCoy (Yahya Abdul-Mateen II) yang telah tumbuh dewasa setelah selamat dari upaya pengorbanan yang dilakukan oleh Candyman (Tony Todd) di film pertamanya.

Anthony tumbuh menjadi pelukis yang menekuni bidang lukisan kontemporer, khususnya yang menyoroti masalah rasisme di Amerika. Saat ini Anthony mengalami kebuntuan yang sangat parah sehingga dia tidak bisa membuat lukisan lainnya, meskipun sudah dibantu oleh sang kekasih Brianna Cartwright (Teyonah Parris).

Di tengah-tengah rasa putus asa, Anthony mendengar legenda pembunuhan sadis yang dilakukan oleh Helen Lye di Cabrini-Green. Mengetahui kalau target pembunuhan tersebut adalah orang kulit hitam, Anthony memutuskan untuk mencari inspirasi dari legenda tersebut.

Setibanya di Cabrini-Green Anthony disambut oleh William Burke (Colman Domingo). Dari mulut William, Anthony mendengar tentang kasus Helen Lye, termasuk legenda Candyman. Pada akhirnya Anthony berhasil menelurkan karya baru, sebuah lukisan yang berjudul “Say My Name”.

Dalam lukisan yang ditutupi kaca tersebut, Anthony berkisah mengenai kekerasan yang terjadi di Cabrini-Green, termasuk tantangan untuk mengucapkan nama Candyman lima kali di hadapan cermin. Dari sini banyak sekali orang-orang yang menjalankan tantangan tersebut sehingga membangkitkan Candyman sekali lagi.

Baca Juga: Reaksi Awal Penonton The Batman: "Seperti Film Horor!"

2. Film Horor Khas Jordan Peele

Review Film Candyman, Berlanjutnya Kutukan Candyman di Cabrini-GreenDok. UIP

Meskipun Jordan Peele hanya duduk sebagai produser dan screenplay, entah mengapa kami merasakan kalau film ini seperti diarahkan langsung oleh Jordan. Masalahnya di sepanjang film kami menemukan gaya bertutur yang aneh, quirky, tapi juga cerdas, ala Jordan Peele.

Tentunya tidak semua orang melihat ciri khas ini sebagai sesuatu yang positif. Sebab gaya bercerita Jordan Peele memang sulit untuk diterima semua orang, terutama bagi orang-orang yang kurang update terhadap isu sosial yang sedang hangat di Amerika.

Hasilnya kami menemukan beberapa bagian yang agak membingungkan dan terasa cukup lambat. Ditambah lagi ada beberapa gempilan film yang mengacu pada film pertamanya, menjadikan kisah Candyman terbaru terasa kurang lengkap bila kamu belum pernah menonton film yang menjadi prekuelnya.

Sebenarnya kami sangat menikmati semua visi yang ditawarkan oleh Nia DaCosta dan Jordan Peele. Tanpa keduanya Candyman bakal menjadi sebuah film horor aneh yang kurang menarik. Pasalnya dalam film aslinya sendiri karakterisasi dan motif teror dari Candyman itu terasa janggal dan kurang kuat.

Apalagi kalau kamu sandingkan karakter Candyman dengan Jason Voorhees, Michael Myers, atau Freddy Krueger, kamu pasti akan langsung paham mengapa karakter Candyman itu terasa sangat lemah bila dibandingkan dengan sosok monster lainnya yang hadir lebih dahulu.

3. Sang Candyman Berikutnya

Review Film Candyman, Berlanjutnya Kutukan Candyman di Cabrini-GreenDok. UIP

Candyman terbaru ini berhasil menjadikan film lamanya sebagai landasan utama. Mitologi sosok ikoniknya juga diperbaiki sedikit, supaya sesuai dengan narasi yang diagendakan. Film ini punya gagasan, dan fokus yang lebih jelas. Tapi sayangnya gagasan tersebut malah membuat film sedikit terlalu banyak memiliki batasan.

Berbicara soal akting, kemampuan akting dari Yahya Abdul Mateen II dan Colman Domingo bisa dibilang sangat bagus. Semua penonton bisa merasakan apa yang diinginkan oleh keduanya.

Anthony menginginkan sebuah cerita yang menarik untuk diangkat menjadi karya seninya, sementara William ingin membangkitkan kengerian teror Candyman sekali lagi, demi masa depan orang kulit hitam yang tinggal di Cabrini-Green.

Kemudian, ada sorotan lagi soal akting dari beberapa pemainnya yang dirasa kurang. Seperti sosok polisi di akhir film yang seharusnya kita benci setengah mati dan juga teman pria dari Troy. Keduanya tampak sangat canggung dan kurang bisa memperlihatkan kemampuan akting yang mereka miliki.

4. Kesimpulan

Review Film Candyman, Berlanjutnya Kutukan Candyman di Cabrini-GreenDok. UIP

Candyman kali ini memiliki daftar hit and miss yang cukup panjang. Yah, mau bagaimana lagi, memang pada dasarnya lore dari Candyman itu sendiri memang kurang kuat. Hal ini semakin diperburuk dengan beberapa bagian yang seperti tidak nyambung dengan tema SARA yang menjadi inti kisah Candyman terbaru.

Bila kita cabut tema SARA tersebut maka Candyman akan berubah menjadi sebuah film yang menceritakan bagaimana Anthony yang sedikit demi sedikit berubah menjadi Candyman baru dan menggantikan Candyman sebelumnya.

Dengan segala kelemahan dan kelebihannya Candyman bisa kami beri nilai 3 dari 5 bintang review. Sebenarnya film ini memiliki visinya sendiri, tapi sayang banyak sekali pembatasan-pembatasan yang menghalang-halangi semua potensi yang membuat film Candyman jadi menarik.

Candyman sudah bisa disaksikan di bioskop tanah air. Seperti biasa, jangan lupa untuk menjalankan 3M dan check-in di aplikasi Peduli Lindungi ketika masuk ke dalam bioskop.

Baca Juga: Ini 10 Film Horor Dekade 2010-an Terbaik versi Rotten Tomatoes!

Artikel terkait

ARTIKEL TERBARU